Kabar Terkini

Taufik Ismail, Bagimu Negri dan Nasionalisme Parsial


Kehebohan netizen dengan klaim Taufik Ismail bahwa sebuah lagu wajib yang memupuk rasa kebangsaan, Bagimu Negri, karya Kusbini tampaknya telah menarik banyak perhatian. Namun apabila ditilik lebih jauh, pemaknaan parsial akan nasionalisme yang inilah yang kini menjadi sumber permasalahan utama. Nasionalisme kini terpisah dari pemahaman beragama, sebuah pemaknaan yang mungkin asing bagi seorang Kusbini yang menciptakan karya ini.

Berawal dari ceramahnya di Perpustakaan UI, Taufik Ismail melontarkan pernyataan bahwa karya yang ditulis komponis di masa kemerdekaan, tepatnya tahun 1942, adalah musyrik dan sesat (di sini). Kita pun melihat konteks kebangsaan yang kini berkembang di Indonesia dan seberapa itu mempengaruhi persepsi orang-orang seperti Taufik Ismail.

Sebagai seorang cendekia dan sastrawan yang melekit sebagai bagian dari angkatan 1966, Taufik Ismail kini tergolong sebagai salah satu penyair senior yang dihormati beragam pihak. Oleh karenanya, pernyataannya menjadi sangat mengejutkan bagi beragam pihak dan menjadi indikasi bagaimana musik dan teks dalam musik menimbulkan beragam persepsi yang berbeda di berbagai zaman.

Ketika ditulis tahun 1942, banyak pemahaman nasionalisme yang beragam di Indonesia namun kesemuanya ditujukan untuk kebangsaan Indonesia dan perjuangan kemerdekaan. Nasionalisme pun menjadi integral dalam berbagai perjuangan termasuk idealisme perjuangan Islam dan beragam aliran keagamaan lain. Oleh karenanya, diskusi Piagam Jakarta dan Pancasila yang kita akui pun akhirnya dapat terjadi dan terakomodasi. Perjuangan kemerdekaan dan kebangsaan pun tidak jarang dilihat sebagai sebuah jihad bagi banyak pihak. Berkorban bagi negara juga berarti berkorban bagi agama dan bagi Tuhan. Bukan berarti bahw negara menjadi Tuhan, melainkan bahwa cita-cita kemerdekaan sejalan dengan cita-cita agama untuk menciptakan masyarakat yang aman, adil, makmur dan sejahtera.

Sekularisme yang berkembang di paruh kedua abad ke-20 di Indonesia, secara tidak sadar telah memisahkan bukan hanya peran negara dari agama, namun juga perlahan memisahkan idealisme agama dan Ketuhanan dengan idealisme berbangsa dan bernegara. Dibumbui dengan radikalisme agama akhir-akhir ini, terjadi pula pergeseran pemaknaan kemerdekaan dan ketakwaan. Ketakwaan kepada tuhannya bagi beberapa pihak tidak lagi berhubungan dengan kehidupan bernegara Indonesia yang berlandaskan Pancasila dan UUD 1945. Ia terpisah dan tercerabut dari pemahaman berbangsa.

Oleh karena itu, tidak heran perdebatan mengenai menghormati bendera, mengikuti upacara dan kini teks ‘Bagimu Negri, jiwa raga kami’ menjadi isu yang mencuat dan diangkat seakan sebagai sebuah pencerahan dan wahyu baru bagi pemurnian pandangan beragama. Agama yang dahulu melingkupi perjuangan berbangsa kini lebih tegak berdiri sendiri. Menjadi penganut agama A diklaim bersifat saling eksklusif (mutually exclusive) dengan bernegara Indonesia, mereka yang memilih agama B dari sudut pandang tertentu bisa jadi tidak mengakui Indonesia sebagai tanah airnya, tumpah darahnya. 

Nasionalisme yang semakin parsial pun akhirnya tidak lagi mampu merangkul perbedaan pandangan beragama yang ada. Ide nasionalisme yang sebelumnya dominan dalam diskusi publik perlahan melemah dan kontestasi dengan pandangan agama yang semakin radik menjadi hal yang tidak dapat dihindarkan. Nasionalisme parsial justru membuka ruang diskusi akan topik yang sebelumnya dianggap absurd dan minor semakin mengemuka, ia telah kehilangan tajinya.

Persoalan ini semakin mengemuka dan bagaimana banyak pihak memilah dan memilih artefak sejarah yang ingin dilestarikan. Taufik Ismail sendiri memilih untuk mengesampingkan lagu ‘Bagimu Negri’ dari bagian artefak sejarah lisan dalam rupa musik yang dahulu lekat dengan perjuangan kemerdekaan Indonesia. Pandangan keagamaan juga menjadi dasar sensor halus akan musik bahkan musik yang sebelumnya dianggap musik yang wajib diketahui warga negara Indonesia. Dan bahkan kini manusia Nusantara dipertentangkan antara konsep beragama dan konsep berbangsa.

Mungkinkah 100% beragama dan 100% Indonesia? Pilihan Anda dan saya yang akan menentukannya ke depan. Sebagaimana Taufik Ismail telah angkat suara, Anda dan saya pun dapat…

Iklan
About mikebm (1281 Articles)
An arts journalist, a conductor, an educator, a young arts manager whose passion drove him to leave a multinational IT cooperation to study Arts Administration and Cultural Policy in London and went back to Indonesia to build the scene there.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: