Kabar Terkini

Derita Cinta yang Menggugah


Langit sore bergelayut dan perlahan ruang resital Jakarta Conservatory of Music pun terisi. Pecinta musik, penikmat nada dan juga para pelaku musik hadir untuk menikmati sajian dari tenor Pharel Silaban dan pianis Teodore Minaroy yang mengetengahkan karya-karya kontemplatif dari komponis di zaman romantik.

Beragam tembang puitik menjadi sajian utama dalam pertunjukan sore ini. Dengan permainan piano Teodore yang penuh cita rasa, Pharel mampu mengeksplorasi kedalaman dari setiap karya musik yang diangkat dari kumpulan puisi-puisi indah dari beragam negara. Sentuhan manis dari Teodore membalut emosi dan kedalaman yang diungkap Pharel dalam kata-kata puisi yang indah dalam beragam bahasa: Inggris, Jerman, Prancis dan Indonesia.

Mengambil tema ‘Persona’ sebagai ekspresi karakter, Pharel menyajikan kefasihan olah vokal yang ditaburi beragam nuansa dan warna untuk menyelam jauh ke dalam dunia di mana nada dan kata berkelindan dalam kesenduan. Cinta yang bersemi dan pahitnya cinta yang pupus menjadi titik tumpu eksplorasi ‘Persona’ yang disajikan oleh Pharel.

Karya Ralph Vaughan Williams dari teks Rossetti ‘Silent Noon’ menggambarkan metafora keindahan alam dalam mengekspresikan cinta yang berpagut, dilanjutkan dengan siklus ‘Kumpulan Puisi “Punyung berasap”‘ karya Mochtar Embut yang diangkat dari 3 puisi pendek pujangga Usmar Ismail yang memadukan puisi bebas yang tersusun ringkas dan dipenuhi warna suasana hati.

Karya Prancis yang kaya warna dan harmoni dari Gabriel Faure mengangkat tiga puisi dari pujangga Grandmougin dalam ‘Poëme d’un jour’ yang menggambarkan fase-fase cinta yang penuh makna dari pertemuan, cinta yang membuncah, hingga perpisahan yang menantang ekspresi dan ketelitian penggarapan. ‘Stille Tränen’ karya Robert Schumann dan puisi dari Kerner menggambarkan paradoks kepedihan yang bertabirkan suka, juga kesendirian itu sungguh nyata. Demikian juga perenungan yang sama mewarnai karya Ottorino Respighi dari puisi Negri ‘Nebbie’ yang mengisahkan sebuah pergumulan untuk merengkuh kesendirian.

Tiga nomor opera juga diketengahkan sore itu. ‘Il mio tesoro’ karya Mozart dari opera Don Giovanni, ‘Ah! Léve-toi, soleil’ dari opera Romeo et Julliete karya Charles Gounod, dan aria dari oratorio Jephtha ‘Waft her, angels’ karya Handel satu per satu menutup sajian resital satu babak ini.

Kepedihan dan kesedihan adalah permata yanh indah bagi para seniman di mana kehalusan budi dan ekspresi menjadi nyata dalam nada dan kata. Pharel pun menyajikan momen-momen indah dalam musiknya tanpa ada kecanggungan. Tampak baginya ekspresi sore itu dan pemilihan karyanya adalah pilihan personalnya yang juga memancarkan ide musikal sekaligus ekspresinya yang paling pribadi. Meski di beberapa tempat ia masih ditantang untuk dapat lebih mampu mengekspresikan musiknya secara lebih natural dan tanpa beban, namun seluruh maksud hatinya yang menjadi sajian utama dalam  resital vokal ‘Persona’ ini sungguh terpancar. Permainan Teodore yang halus dan kontemplatif menjadikan sajian semalam padu dan erat terhubung satu dengan yang lainnya.

Jalan Pharel sesungguhnya semakin terbuka lebar lewat resital pertamanya ini sesudah kepulangannya menempa ilmu di London 2015-2016 lalu. Kesempatan manis ini juga menjadi sajian utama yang ciamik untuk membuka rangkaian resital perayaan 15 tahun Jakarta Conservatory of Music ini, sebuah sajian pembuka yang tentunya layak untuk diapresiasi dengan hangat.

Iklan
About mikebm (1303 Articles)
An arts journalist, a conductor, an educator, a young arts manager whose passion drove him to leave a multinational IT cooperation to study Arts Administration and Cultural Policy in London and went back to Indonesia to build the scene there.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: