Kabar Terkini

A Dream in La La Land


~tersedia dalam Bahasa Inggris dan Indonesia
ENGLISH

“How are you gonna be a revolutionary if you’re such a traditionalist?”

By Bramana Putra

Continuous adverts in various media had stolen my attention to this musical film, a bit too late on this mid-February. Despite its glamorous awards and nominations, I can throw a concluding comment of a light, enjoyable and true entertaining musical. Its attraction began from the trailer which features the main soundtrack theme, that later labeled as Mia & Sebastian’s Theme. Starting with a common motif in the minor scale, this melody theme takes a deep contemplation effect even before I know the film plot. Its application and development in other songs within the film truly reflect conflicts and romances; two characters which are intended to be dominant.

Another Day of Sun is the opening song that illustrates a successful aspiration in Hollywood. The colossal format in the middle of Los Angeles highway become an introductory point for Mia (Emma Stone) and Sebastian (Ryan Gosling), the two central characters. Failing auditions and serving coffee are Mia’s daily routines after she gave up her college to pursue her dream to become an actress. Living as a freelance jazz pianist, Sebastian is also struggling in confirming his identity. His fate expression on “Mia & Sebastian’s Theme” indeed makes him lose his job, but also attracting the desperate Mia into him.

The story plot then continues when they are dating, falling in love, arguing and breaking up. A conflict arises inside Sebastian, whether he should win his ideal expression over a sustainable income job as a neo-jazz band personnel. Mia is also being challenged to set her own theatre performance instead of relying on the audition result. Their hopes are represented in the “City of Stars” duet, although the outcomes are not as smooth as they expect. Later, Mia is successfully becoming an actress while Sebastian owns his own club, but they are no longer together. The epilogue summarizes all possibilities of “if only I were” which might be interpreted as a regret or even a thanksgiving.

Despite its classic story plot, La La Land provides an updated and real figure of the dilemma in this era. “How are you gonna be a revolutionary if you’re such a traditionalist?” is Keith’s (John Legend) controversial words to Sebastian. Many artists are facing similar conflict nowadays, whether they should stay in a conservative or innovative way with proper motivation and not solely limited to the economic cause. More importantly, the decision should be undergone in totality as Mia done. Her courage doesn’t cost a little when she has to fund her performance by herself and invest plenty of time until someone acknowledges her artistic standpoints.

Ryan and Emma’s ability to sing and dance on their own are their true appreciation and lead them to be nominated, even win the Golden Globe and BAFTA. La La Land also nominated and awarded in other categories such as The Best Director (Damien Chazelle) and The The Best Original Score (Justin Hurwitz). We are now still awaiting result for Academy Award which will be held at the end of February. Quoted from <a href=” http://www.standard.co.uk/showbiz/celebrity-news/la-la-land-set-for-the-stage-after-waltzing-to-bafta-success-a3465491.html>Evening Standard</a>, transforming La La Land into a theatre format is no longer a thought as they are gearing up for West End. A truly good news for all musical lover and obviously, a challenging project for the team to bring the dream to the stage.

Ryan Gosling dan Emma Stone

Ryan Gosling dan Emma Stone

—————

BAHASA INDONESIA

 

Sebuah Mimpi di La La Land

“Bagaimana kamu dapat menjadi seorang revolusioner jika pikiranmu sungguh tradisional?”

Oleh Bramana Putra

Iklan yang tak henti tampil di berbagai media mencuri perhatian saya pada film musikal ini, yang sepertinya sedikit terlambat di pertengahan Februari ini. Terlepas dari berbagai nominasi dan pencapaian penghargaan, saya dapat memberikan komentar, film ini sungguh ringan, menyenangkan dan menghibur. Daya tariknya telah dimulai sejak dari suguhan trailer-nya yang menampilkan lagu tema utama, yang kemudian dinamai Mia & Sebastian’s Theme. Dimulai dengan motif yang umum di tangga nada minor, melodi tema ini menyajikan perenungan yang mendalam bahkan sebelum saya memahami alur ceritanya. Aplikasi dan pengembangan tema di lagu-lagu lainnya dalam film sungguh mencitrakan konflik dan roman; dua karakter yang ingin ditonjolkan.

Another Day of Sun adalah lagu pembuka yang menggambarkan sebuah aspirasi akan kesuksesan di Hollywood. Format kolosal di tengah jalan bebas hambatan Los Angeles menjadi titik perkenalan bagi Mia (Emma Stone) dan Sebastian (Ryan Gosling), dua karakter sentral. Berulang menemui kegagalan audisi sembari bekerja sebagai pramusaji merupakan rutinitas Mia, setelah ia mengambil keputusan berhenti dari perguruan tinggi demi mengejar mimpinya untuk menjadi seorang aktris. Hidup sebagai pianis jazz serabutan, Sebastian pun berkutat dalam pencarian jati dirinya. Ekspresi kepasrahan akan nasib lewat lagu yang kemudian dikenal sebagai Mia & Sebastian’s Theme membuatnya kehilangan pekerjaan, akan tetapi juga menarik perhatian Mia yang kala itu berputus asa.

Alur cerita kemudian berlanjut di saat mereka mulai berpacaran, jatuh cinta, berdebat dan akhirnya mengakhiri hubungan. Konflik timbul dalam diri Sebastian, apakah Ia harus memenangkan ekspresi idealnya atas profesi dengan penghasilan tetap sebagai personel band neo-jazz. Mia juga berhadapan dengan tantangan untuk mementaskan pertunjukan teaternya sendiri alih-alih bergantung pada hasil audisi. Harapan mereka tercermin pada lagu duet City of Stars, yang walaupun hasil akhirnya tidak semulus yang mereka harapkan. Mia kemudian menjadi aktris yang sukses, sementara Sebastian berhasil memiliki klub malamnya sendiri akan tetapi mereka tidak lagi bersama. Lagu penutup menyimpulkan seluruh peluang “seandainya pada saat itu aku” yang dapat diartikan sebagai penyesalan atau bahkan ujud syukur.

Terlepas dari alur ceritanya yang klasik, La La Land menyajikan gambaran terkini dan nyata atas dilema di zaman ini. “Bagaimana kamu dapat menjadi seorang revolusioner jika pikiranmu sungguh tradisional?” adalah perkataan kontroversial Keith (John Legend) kepada Sebastian. Banyak seniman yang menghadapi konflik serupa di masa ini, apakah mereka harus berpegang pada cara pandang konservatif atau inovatif dengan motif yang tepat, dan tidak terpaku pada alasan ekonomi semata. Lebih penting lagi, keputusan yang diambil harus dijalani secara menyeluruh seperti yang dilakukan oleh Mia. Kesungguhannya memerlukan pengorbanan yang tidak sedikit, seperti ketika ia harus membiayai sendiri pertunjukannya dan juga waktu yang ia alokasikan hingga akhirnya orang-orang mengakui cara pandangnya dalam seni.

Kemampuan Ryan dan Emma untuk bernyanyi dan berdansa adalah wujud penghayatan yang mendalam, dan mengantar mereka untuk menerima nominasi dan bahkan memenangkan penghargaan Golden Globe dan BAFTA. La La Land juga dinominasikan dan menerima penghargaan di kategori lain seperti sutradara terbaik (Damien Chazelle) dan musik terbaik (Justin Hurwitz). Pada saat ini kita masih menantikan hasil dari Academy Award yang akan dilangsungkan di akhir Februari. Seperti dikutip dari <a href=” http://www.standard.co.uk/showbiz/celebrity-news/la-la-land-set-for-the-stage-after-waltzing-to-bafta-success-a3465491.html>Evening Standard</a>, adaptasi La La Land pada format teater tak lagi sebuah wacana ketika mereka telah bersiap untuk pentas di West End – kawasan pertunjukan teater di London. Sebuah kabar baik bagi pecinta musikal dan tentunya tantangan tersendiri bagi tim proyek untuk menghadirkan mimpi di atas panggung.

~ Bramana Putra is a student in Airline Management in London and was a member of Twilite Youth Orchestra, Concordia Community Orchestra and Orkes Simfoni UI Mahawaditra. He is also the co-founder of Celeste Chamber Orchestra and now plays in Central London Orchestra.

Iklan

1 Trackback / Pingback

  1. La La Land, Potret Dunia Kerja Kreatif – A Musical Promenade

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: