Kabar Terkini

La La Land, Potret Dunia Kerja Kreatif


Menonton film La La Land (ulasannya di sini) membuat setiap kita mungkin terhenyak dengan kisah cinta yang dijalin dua insan, Mia dan Sebastian. Namun, di sisi lain film ini juga mengundang atensi penonton akan keras dan nikmatnya dunia kerja dalam industri kreatif.

Ekonomi kreatif dalam hal ini musik jazz dan dunia teter dan seni peran bagi kebanyakan pemirsanya adalah latar belakang film yang meraih penghargaan film musikal terbaik Golden Globe ini. Tetapi sesungguhnya, ekonomi kreatif inilah yang juga menjadi sentral permasalahan yang dikemukakan dalam film ini. Dalam industri yang penuh persaingan, kedua tokoh utama berusaha membangun karir sembari berpegang teguh dengan idealisme yang mereka miliki. Idealisme pun menjadi sumber pertikaian, ketika Sebastian memilih untuk menggantungkan idealismenya sementara dan ‘menghamba’ memainkan pada musik yang ia tidak sukai. Idealisme itu pula yang menyebabkn Mia memilih untuk terbang dan mengubah arah halauan kehidupan pasangan ini.

Dunia kreatif memang bukan dunia yang mudah untuk dihela. Dengan persaingan yang kuat dan kesempatan yang terbatas, insan kreatif berusaha menaiki tangga puncak karir mereka. Sebagaimana banyak seniman, Sebastian dan Mia berbekal idealisme dan berusaha mewujudkan mimpi ideal mereka sembari berusaha mempertahankan hidup sebisa mereka. Pasar pun seringkali tidak memihak, Sebastian yang ingin berkarir di jazz murni berbenturan dengan kesempatan kerja dengan bayaran bagus di band crossover yang tidak ia sukai namun memberikannya kesempatan menabung untuk mewujudkan mimpinya.

Di sisi lain, Mia bertempur di audisi yang menyita waktu dan sangat kompetitif, sembari mempertahankan hidup dengan bekerja sebagai pramusaji di sebuah kafe. Bekerja sebagai pramusaji di AS seringkali tidaklah ideal, gaji yang sangat kecil dan bahkan tanpa digaji dan sangat mengandalkan tips sebagai pendapatan. Mia pun sedikit-sedikit berusaha menabung untuk mementaskan karya teaternya sendiri, melontarkan dirinya ke panggung sebagai penulis sekaligus pemeran, daripada menunggu kesempatan memenangkan audisi. Tidak jarang, pekerja kreatif adalah pendana terbesar industri mereka sendiri, sebuah kenyataan yang dapat kita lihat dari proyek self-producing band (membuat album sendiri yang diproduseri dan didanai oleh musisinya sendiri).

Ryan Gosling dan Emma Stone

Ryan Gosling dan Emma Stone berperan sebagai Sebastian dan Emma dalam La La Land

Dalam kisah ini, konflik besar justru terjadi karena permasalahan pekerjaan yang sulit untuk didamaikan, antara prioritas untuk membangun karir dengan membangun relasi. Sebastian dengan band crossover-nya mampu mengamankan pendapatan namun menuntutnya untuk jauh dari rumah karena tur yang berkepanjangan dan menguburkan idealismenya untuk membangun sebuah lounge jazz miliknya sendiri. Mia pun beruntung ditawarkan kesempatan merintis karir di New York, namun hal tersebut tentunya akan berpengaruh besar terhadap hubungannya dengan Sebastian yang tinggal di Los Angeles.

Kesempatan yang terbatas dan celah yang berharga akhirnya berbenturan dengan kondisi dan komitmen kehidupan insan kreatif. Precarious work pun sangat inheren dalam kehidupan industri kreatif. Hal ini menjadi sentral diskusi Elisabeth Lingo dan Stephen Tepper dalam artikel jurnal mereka Looking Back, Looking Forward: Arts-based Careers and Creative Work di tahun 2013. Menurut mereka, pemahaman akan dunia kerja kreatif sangat penting karena tiga hal:

  1. Cendekiawan melihat dunia kerja kreatif sangat menarik karena membludaknya aspiran, renumerasi yang tidak seberapa, pekerjaan yang berbasis proyek, unpredicatbility yang kesemuanya membentuk teka-teki ekonomi yang kompleks dan unik.
  2. Seniman kini semakin penting dalam roda ekonomi karena kontribusinya pada Pendapatan Domestik Bruto negara, kota dan daerah semakin besar.
  3. Kerja seni dapat menjadi petunjuk penting pergerakan perekonomian di masa depan dengan karakteristiknya yang unik namun kini semakin berkembang ke sektor-sektor lainnya.

Namun satu hal yang pasti, bahwa film La La Land juga membuat masing-masing kita, terutama insan kreatif, melihat kembali dunia kerja di industri masing-masing untuk memilah, mengenali dan mengkaji secara menyeluruh iklim kerja dunia kreatif ini terlebih di Indonesia yang mempunyai budaya kerja dan budaya kreatif yang berbeda. Apabila Indonesia ingin berkonsentrasi pada dunia kreatif, kajian dunia kerja dan kebijakan di dunia kreatif pun juga harus dibangun bersama.

Iklan
About mikebm (1289 Articles)
An arts journalist, a conductor, an educator, a young arts manager whose passion drove him to leave a multinational IT cooperation to study Arts Administration and Cultural Policy in London and went back to Indonesia to build the scene there.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: