Kabar Terkini

Budaya Akal Sehat dalam Pertunjukan Budaya


Pertunjukan budaya adalah suatu praktik yang sudah melekat dalam budaya di Indonesia, namun sayangnya fenomena yang beragam dan menjadi kekhasan ini seringkali belum disikapi dengan akal sehat bahkan oleh banyak pelakunya. Inilah yang kemudian menjadi buah penulisan buku ‘Pertunjukan Budaya dan Akal Sehat’ yang ditulis oleh Sal Murgiyanto, PhD.

pak-sal-murgiyanto-31Sebagai sebuah catatan yang membukukan makalah-makalah terpisah dari Pak Sal yang adalah dosen di Institut Kesenian Jakarta, Institut Seni Indonesia Surakarta dan dosen terbang di National Taiwan University of the Arts, buku ini menjadi salah satu ungkapan perenungan seorang pelaku, seniman dan juga akademisi seni akan fenomena budaya. Disikapi dengan bahasa yang lugas, buku yang diterbitkan Fakultas Seni Pertunjukan IKJ tahun 2016 ini mencoba menjelajah perkembangan budaya dan seni pertunjukan di Nusantara.

Meski demikian, buku ini jauh dari gaya ekstemporan yang mencob mendeskripsikan segala hal. Pembaca dibawa menyelami kecendekiaan seorang Sal yang humanis dalam pendekatan keilmuan yan meskipun mendalam, selalu bertolak dari persinggungannya dengan dunia seni pertunjukan di Indonesia. Berangkat dari pengalamannya sebagai seorang penari tradisi Jawa yang kemudian merantau mengejar ilmu hingga ke Amerika Serikat, menggali proses berkolaborasi dengan maestro tari dunia dan regional, ikut serta dalam kebijakan budaya sebagai anggota Komite Tari Dewan Kesenian Jakarta, kisah Sal Murgiyanto menjadi sangat menarik untuk disimak.

Pemikirannya akan budaya dan pengamatannya akan perjalanan tari di Indonesia mencoba meretas bukan saja batas-batas teknis, namun juga pemikiran seorang seniman, baik dalam proses pendidikan di kampus, hingga kiat-kiat penting sebagai seorang seniman tulen yang memiliki kesadaran penuh secara batin maupun intelektual. Ia pun mengupas sejarah tari di Indonesia dari tradisi istana hingga gelaran kontemporer, menghela proses berpikir dalam penelitian dan pengkajian seni pertunjukan hingga mengkaji interaksi antar-budaya dalam dunia global saat ini. Pengalamannya sebagai akademisi pun berbicara banyak untuk kritik institusi pendidikan terutama pendidikan seni di Indonesia. Ia pun membahas tari untuk pendidikan dalam tataran umum dimana seni menjadi instrumen pembelajaran dan pembentukan karakter manusia. Rentang yang sebenarnya sangat luas dan menarik untuk disimak.

sal-murgiyanto-pertunjukan-budaya-dan-akal-sehatDengan fasih ia menjelaskan kerangka berpikir dan bahkan bertindak sebagai seorang budayawan, meluncur jauh dari berbicara teknis pertunjukan tari yang karenanya menjadikan esai-esai ini relevan bagi siapa saja yang ingin mengerti lebih jauh dunia seni pertunjukan dan inteletual seni. Dunia tari yang menjadi pembahasannya mengantarkan pembaca untuk melihat konteks seni di Indonesia dan dunia secara lebih utuh. Sal pun secara sadar menggiring pembaca bukan hanya untuk menyimak seni tari namun juga secara laten mengajak pembaca untuk berkaca dalam konteksnya masing-masing.

Sal Murgiyanto pun memegang prinsip untuk memandang curiga komersialisasi yang menjadikan seni tari sebagai karya murahan yang hanya kerap dipertontonkan penari latar di dalam gelar-gelar di televisi. Meski ia tidak menolak praktik ini, Sal menyikapinya dengan kritis. Sebagai buku yang ditulis tahun 2016, sayangnya kelemahan esai-esai ini terletak pada sikap yang kurang jelas pada dunia ekonomi kreatif yang sebenarnya sudah merebak wacananya di Indonesia selama setidaknya satu dekade terakhir. Komersialisasi dan pasar perlahan diintegrasikan dalam industri dan ekonomi budaya yang saat ini mulai merebak dan Sal sama sekali tidak menyinggung apapun tentang narasi industri budaya yang berkembang, dan memilih lebih banyak bergerak di ruang makna.

Meski demikian, buku ‘Pertunjukan Budaya dan Akal Sehat’ ini mengajak kita untuk bercermin lebih jauh praktik berkesenian dan berbudaya kita, sebuah cermin indah bagi pelaku maupun mereka yang hanya sekedar ingin tahu akan siapa kita sebenarnya. Tubuh dan tarian hanya menjadi katalis, sedangkan kemanusiaanlah pusatnya dan untuk kesemuanya itu kesehatan akal jembatan pemahaman tersebut.

Iklan
About mikebm (1216 Articles)
An arts journalist, a conductor, an educator, a young arts manager whose passion drove him to leave a multinational IT cooperation to study Arts Administration and Cultural Policy in London and went back to Indonesia to build the scene there.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: