Kabar Terkini

Lagi-lagi Sertifikat Kompetensi untuk Sarjana Seni, Kali ini Menristek


Menteri Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi mengangkat kembali proses sertifikasi seniman, yang kali ini bernama sertifikat kompetensi yang akan diberlakukan bagi lulusan sekolah seni sebagai penanda kompetensi dan ide ini diterima gembira oleh beberapa perguruan tinggi (berita di sini). Ijazah menurut Menristek tidak cukup untuk lulusan sehingga sebuah sertifikasi dibutuhkan untuk menggolongkan seniman/lulusan. Penggolongan seniman dengan sebuah level kompetensi seakan sudah menjadi diskusi usang yang terus didengungkan. Dan kali ini mengemuka di ISI Padang Panjang kemarin dan seakan tumbuh dari Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, namun sayangnya tidak dibarengi logika pendukung yang masuk akal. Tulisan kali ini akan berusaha mengupas satu per satu persoalan logika sebagaimana tertangkap dalam berita di atas.

Problematika logika yang terjadi dalam upaya sertifikasi kompetensi lulusan sekolah tinggi seni adalah terjadinya dualisme dalam kompetensi seorang lulusan. Dalam pendidikan tinggi pada umumnya, kompetensi seorang lulusan termaktub dalam ijazah yang diterimanya sebagai bukti akan diselesaikannya pendidikan. Kebutuhan akan sertifikat kompetensi menunjukkan dualisme standar pendidikan yang mungkin akan digadang oleh Dirjen Dikti yang melihat ijazah tidak mampu menjadi standar seorang lulusan.

Sertifikasi kompetensi ini sebenarnya juga menjadi problem tersendiri dan beberapa kali terungkap dalam diskusi budaya dan seni. Sudah beberapa waktu ini wacana ini kembali mengalir (terakhir diulas MusicalProm tahun 2012) tanpa mampu didukung logika yang jelas. Dunia seni sebagai bidang kreatif memang memiliki entry barrier yang tergolong rendah, setiap orang bisa saja menjadi seorang seniman apabila mampu menelurkan karya yang baik. Sertifikasi seniman maupun lulusan perguruan tinggi adalah sebuah keenganan untuk melihat dunia kesenian secara utuh.

Perlindungan tenaga kerja seni memang dibutuhkan untuk menjamin hidup seniman, namun sertifikasi seniman secara terpisah memungkinkan bentukan kelompok elit seni baru sebagai ‘seniman’ tersertifikasi pemerintah dengan standar kompetensi tertentu dengan standar imbal jasa tertentu. Lantas siapa yang menentukan standar kompetensi bagi setiap bentuk kesenian yang beragam di tanah air ini? Tim elit seperti apakah yang kemudian mempunyai kuasa untuk memutuskan seniman seperti apa yang tembus dengan level tertentu, belum tentu pula tim ini sungguh mengerti luar dalam seni yang mungkin sangat niche di pelosok pedalaman? Apabila sertifikasi ini hanya diberlakukan pada seniman ‘sekolahan’, berarti akan tercipta standar elit baru yang membayangi studi seni yang sudah ada di perguruan tinggi, sungguh inisiatif yang sia-sia.

Justru yang perlu dilakukan adalah bagaimana meningkatkan kualitas pendidikan seni di pendidikan tinggi sekaligus meningkatkan apresiasi masyarakat terhadap seni. Pembentukan asosiasi seni memang penting untuk melindungi seniman, namun ide serikat seniman dengan leveling honor bisa jadi bukanlah solusi terbaik. Lagi-lagi terbentur dengan keberagaman tenaga kerja seni dan budaya di Indonesia. Yang mungkin dilakukan adalah memberikan semacam pegangan upah minimum untuk seniman di bidang kerja tertentu dan bukan di setiap level dari pemula, madya hingga maestro/empu. Bagaimanakah membedakan upah seorang pelukis pemula hingga maestro apabila si pelukis pemula melukis kanvas berukuran 6x4m dengan seorang maestro yang melukis dengan kanvas 80x80cm? Belum lagi melihat bidang seni lain, penari reog dengan penari balet lulusan luar negeri? Permutasinya tidak akan pernah habis, terutama dengan liberalisasi pasar saat ini, kondisi di industri lain pun juga serupa. Tapi yang terpenting adalah apresiasi dari masyarakat akan profesi tersebut.

Logika lain yang menimbulkan tanda tanya adalah paradigma pariwisata tujuan pengembangan seni:

“Di China, ada daerah yang hanya ada satu sekolah, yaitu sekolah seni. Maka yang di Padang Panjang ini, di samping sekolah seni menghasilkan pariwisata yang bisa ditunjukkan kepada dunia,” […] “Harapan pemerintah tentang seni budaya agar menjadikan arah untuk bisa meningkatkan tourism atau pariwisata yang ada di daerah,” – M. Nasir, Menristekdikti

Jujur saja, paradigma pengembangan pariwisata seni memang menarik dan menjadi salah satu andalan banyak daerah-daerah dengan kekayaan seni. Namun pemberdayaan seni dan budaya dengan harapan meningkatkan pariwisata adalah ide timpang dalam pengembangan seni dan budaya. Pelestarian dan pengembangan seni dan budaya adalah yang pertama diperuntukkan bagi masyarakat setempat pemilik seni dan budaya tersebut, untuk kesejahteraan batiniah mereka dan bukan untuk dipertontonkan bagi pelancong.

Pengembangan seni dan budaya lewat satu sekolah yang didukung oleh pemerintah dan ditujukan untuk peningkatan pariwisata malah mengangkat budaya dan seni hanya sebagai ‘tontonan’ yang mampu memutar roda ekonomi. Seni dan budaya berpotensi dikerdilkan dalam dunia pendidikan seperti hanya untuk memastikan bahwa seni yang dihasilkan adalah seni yang mampu dijual kepada pelancong, dan dipandang dalam lewat kacamata Lacanian gaze yang terkesima melihat kulit pertunjukan tanpa memahami secara mendalam nilai seni dan budaya tersebut. Contoh yang jelas adalah tari kecak yang menjamur yang kini ditampilkan di hotel-hotel mewah di Bali dan Tanah Lot yang panoramik yang maknanya tidak tentu dipahami turis, juga tidak tentu ditarikan dengan sungguh pula oleh sang penari yang hanya bertujuan melariskan pertunjukan.

Ya, memang seni dan budaya bisa menjadi sebuah atraksi bagi para wisatawan dan meningkatkan kunjungan. Namun seni dan budaya di perguruan tinggi bukanlah semata untuk menciptakan sebuah atraksi, tontonan ataupun destinasi wisata, namun bertujuan utama membentuk apresiasi dan juga keterampilan mahasiswa dan warga sekitar kampus akan seni dan budaya yang diampu di perguruan tinggi tersebut. Dengan penggarapan dan keilmuan yang sungguh, perguruan tinggi seni akan menjadi sebuah sentra budaya yang menarik cendekia datang belajar, pengkajian yang hidup dan masyarakat pemilik budaya yang apresiatif. Pariwisata hanyalah sebuah produk sampingan dari sebuah tontonan yang mampu menarik pelancong untuk datang. Ketika seni budaya dan perhatian pemerintah hanya berujung pada pariwisata, pemiskinan kebudayaan itulah yang perlahan menggrogoti seni budaya sendiri.

Yang justru harus diperhatikan oleh institusi pendidikan seni adalah bagaimana membentuk kampus menjadi sentra seni dan budaya yang hidup dan menjadi magnet insan kreatif untuk hadir sebagaimana menjadi argumen Richard Florida dalam the Rise of Creative Class yang mengatakan kelas kreatif akan hidup menetap di sekitar sentra-sentra kreatif dalam sebuah daerah. Situs kreatif ini justru menjadi katalis pembangunan daerah, bukan karena pariwisata, namun sebagaimana kampus yang akan hidup dari dinamika kehidupan kampus, kampus kesenian juga perlahan akan hidup dan berkembang dari sentra-sentra budaya dan seni dan kampus itu sendiri. Prinsip inilah yang digunakan oleh beberapa pengembang besar yang membangun universitas di dalam daerah pemukiman baru yang dibangunnya, bukan untuk meningkatkan pariwisata, namun meningkatkan daya tarik daerah tersebut untuk dihuni.

Apakah sertifikasi akan menolong seni dan budaya juga seniman yang di dalamnya? Apakah logika pariwisata juga akan membangun perguruan tinggi seni? Rasanya agak meragukan.

Iklan
About mikebm (1272 Articles)
An arts journalist, a conductor, an educator, a young arts manager whose passion drove him to leave a multinational IT cooperation to study Arts Administration and Cultural Policy in London and went back to Indonesia to build the scene there.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: