Kabar Terkini

‘Mencetak Lulusan’, Paradigma Industrialisasi Pendidikan Seni


~ diilhami paragraf pendek Sal Murgiyanto dalam ‘Pertunjukan Budaya dan Akal Sehat’

Istilah ‘mencetak lulusan’ bisa jadi mudah bergaung dalam diskusi pendidikan. Berbagai kiat dan pemikiran pun disusun untuk menjawab tantangan ini, membentuk sebuah mekanisme yang handal untuk menciptakan lulusan yang terstandar dengan kualitas yang disepakati bersama di awal proses perancangan kurikulum. Di satu sisi, inilah pendekatan pragmatis pendidikan, namun di sisi lain inilah makna pendidikan tergerus, dan tidak sedikit di antaranya adalah pendidikan seni yang perlahan masuk dalam pola pikir industrial.

‘Mencetak’ dalam khasanah media kini merujuk pada kegiatan multiplikasi (memperbanyak) informasi yang dalam sejarah Eropa identik dengan merebaknya penggunaan mesin cetak untuk memperbanyak tulisan. Percetakan pun menjadi katalis perubahan besar dalam masyarakat Eropa kala itu lewat reformasi gereja dan juga Enlightenment yang menjadi titik tolak modernisasi di Eropa. Percetakan pun menjadi simbol diseminasi informasi dan mundurnya dominasi gereja dalam persebaran informasi di akar rumput. Simbol-simbol digarap sekali saja dibuat rupanya dalam blok-blok huruf untuk kemudian diperbanyak secara cepat. Tulisan pun terstandar dengan output yang juga seragam untuk memastikan informasi yang disampaikan serupa.

Pendidikan tinggi termasuk pendidikan tinggi seni pun juga mengaplikasikan prinsip percetakan dalam kegiatan belajar mengajar yang diimplementasikannya. Dengan sistem yang tertata dan dirancang secara mendalam, pendidikan tinggi seni diharapkan mampu melakukan proses transfer nilai dan pengetahuan kepada peserta didik dengan terstruktur dan rinci. Standar pun menjadi sebuah istilah yang sangat lekat dengan kegiatan belajar-mengajar di mana lulusan diharapkan mencapai suatu pencapaian tertentu sebelum dinyatakan lulus. Peserta didik yang terstandar juga diharapkan memiliki profil yang serupa yang dianggap mampu menarik konsumen, yakni pemberi kerja.

Meski demikian, lahirnya percetakan juga memiliki efek lain. Percetakan yang lahir menciptakan keseragaman bentuk, menghilangkan keunikan dan nilai artistik dari sebuah manuskrip yang sebelumnya ditulis dengan tangan dan tak jarang dibubuhi kaligrafi indah. Keindahan dan keunikan dalam sebuah manuskrip terpinggirkan kecepatan dan keseragaman. Semua mata terpatri pada teks dan bukan pada konteks yang memperindah dan juga memberi makna.

Sedemikian juga dengan pendidikan. Pendidikan seni pun tak luput dari pola pikir yang demikian, menghasilkan lulusan secepatnya yang sesuai standar namun tidak dipertimbangkan perkembangan dirinya sebagai seorang pribadi. Pendidikan pun menjadi sebuah industri, institusi pendidikan seni menjadi sebuah ban berjalan dalam sebuah pabrik, mencetak lulusan seni sebagai sebuah produk yang kemudian akan dipasarkan dalam bursa kerja.

Setiap lulusan diperlengkapi dengan keterampilan yang cukup dan mungkin berlebih, mampu menjadi ‘tukang’ atau ‘artisan’ namun tidak serta-merta menjadi seniman yang berpikir. Dalam bahasa Sal Murgiyanto, kaum ‘literati’ lah yang berhasil ‘dicetak’, sesuai dengan standar baku oleh para dosen penghamba kurikulum dan bukan ‘melahirkan’ kaum inteligensia. Deviasi diminimalisir, keserupaan justru dipaksakan dan bukan keunikan yang digarap dan dikembangkan. Musisi dicetak namun tidak halnya dengan seniman musik.

Kini tidak ada salahnya apabila kita melihat secara mendalam, apa makna utama dari sebuah pendidikan tinggi seni. Pendidikan seni yang mampu menjawab kebutuhan pasar memang tidaklah salah. Namun pemiskinan pendidikan seni hanya sebagai mesin cetak ‘tukang’ juga sungguh memprihatinkan. Mencetak lulusan adalah pemiskinan terhadap makna pendidikan dan ini sungguh nyata dalam dunia pendidikan kita saat ini. Mencetak lulusan dengan melahirkan kaum cerdik cendekia di bidangnya sungguh berbeda.

Sudah saatnya kita kembali pada trah pendidikan kita yang diusung Ki Hajar Dewantara, pendidikan yang memanusiakan manusia – pendidikan yang membentuk kaum cerdik cendekia dalam berkesenian dan bukan sekedar tukang belaka.

Iklan
About mikebm (1289 Articles)
An arts journalist, a conductor, an educator, a young arts manager whose passion drove him to leave a multinational IT cooperation to study Arts Administration and Cultural Policy in London and went back to Indonesia to build the scene there.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: