Kabar Terkini

Mendiskreditkan Pendidik: Nadia Boulanger dan Komitmen Pengajar


“Those who can’t do teach…”

Adakah dari Anda yang ingat akan peribahasa ini, bahwa mereka yang tidak mampu (menjadi seniman) entah karena kurang berbakat atau alasan lainnya, akan memilih karir sebagai pengajar. Jujur saja, ungkapan ini sebenarnya sangat mendiskreditkan peran seorang pendidik seni.

Nyatanya profesi sebagai pendidik tak dapat dilepaskan dari tugas seorang seniman. Di bidang musik, hampir kebanyakan musisi dalam tradisi klasik berkecimpung dalam aktivitas pendidikan, meskipun hanya sesekali dan sporadis seperti dalam sebuah masterclass. Dapat dikatakan, keterampilan dan tradisi musik hanya dapat diteruskan hanya apabila mereka yang memiliki pengetahuan dan keterampilan tersebut memilih untuk meneruskannya kepada praktisi yang lain. Jadi, pilihan beberapa seniman untuk kemudian fokus berproses dalam dunia pendidikan musik adalah pilihan yang sangat mulia, terlebih jika mereka kemudian juga mampu membagikan ilmu secara efektif kepada peserta didik.

Perlu dicatat, bahwa bakat memang mampu mempermudah proses pembelajaran seorang calon musisi. Yang menarik adalah bakat tersebut memungkinkan seorang musisi mampu melompati proses secara natural karena proses tersebut terjadi sangat pendek dan cepat tercerna. Namun di sisi lain musisi yang seperti ini seringkali kehilangan kesempatan untuk memahami proses belajar dan cara efektif pengembangan keterampilan secara bertahap. Karenanya tidak banyak kita lihat seniman hebat yang juga mampu menjadi guru yang efektif dan mampu menjelaskan secara runut dan mendalam serta menganalisa praktik mengajar mereka dengan lugas.

Jadi, peran seorang guru sangat perlu diapresiasi. Kita pun mengenal seorang Nadia Boulanger yang menjadi pengajar komposisi asal Prancis yang dicari-cari oleh para mahasiswa komposisi. Ia adalah salah satu konduktor wanita pertama dunia yang berhasil memimpin kelompok-kelompok orkestra besar dunia. Karya komposisinya meskipun ada tidaklah seterkenal murid-muridnya. Namun keberadaannya sebagai guru diabadikan lewat anak-anak didiknya yang memuncaki tangga komponis dunia dan sepanjang hidupnya, tangan dinginnya dicari-cari oleh banyak mahasiswa komposisi duia. Sedikit dari murid-muridnya: Virgil Thomson. Aaron Copland, Murray Perahia, Quincy Jones, George Gershwin, Elliott Carter, Phillip Glass, Daniel Barenboim, Hidayat Inayat Khan, Dinu Lipatti, Astor Piazzolla, Henryk Szeryng, dan banyak lainnya.

Saatnya perlu apresiasi lebih kepada mereka yang membaktikan diri untuk mengajar musik.

 

Iklan
About mikebm (1289 Articles)
An arts journalist, a conductor, an educator, a young arts manager whose passion drove him to leave a multinational IT cooperation to study Arts Administration and Cultural Policy in London and went back to Indonesia to build the scene there.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: