Kabar Terkini

Tubuh dan Simbol: Sena Didi Mime di Salihara


Memasuki ruang teater black-box satu-satunya di Jakarta, penonton yang sibuk mencari bangku. Sedang di depan Sena Didi Mime sedang berlatih koreografi dengan kocak, seakan abai akan gedung teater yang perlahan terisi penuh. Dan tentunya tanpa tersadar penonton yang memutuskan untuk menunggu di dalam teater justru disuguhkan sebuah pertunjukan sebelum pertunjukan dimulai, sebuah prelude yang mengaburkan batas persiapan dengan dimulainya pertunjukan, sebuah ancang-ancang dan aktivitas di belakang dapur yang kemudian mencuat untuk dipertontonkan. Malam itu di Teater Salihara penuh dengan penonton, banyak pula yang terpaksa duduk lesehan mengisi ruang yang nyaris bersentuhan dengan pemain. Panggung pun menjadi sebuah arena di mana pelakon dan penonton hadir bersama bersinggungan rasa.

Sebagai sebuah kelompok pantomim yang digagas oleh Sena Utoyo dan Didi Petet, kelompok yang telah melanglang buana di pentas internasional ini telah melangkahi usia pendirinya. Di kala kedua pendirinya telah mangkat, Sena Didi Mime terus berkarya hingga kini dan buah perjalanannya dapat disaksikan di pergelaran Sabtu kemarin. Dan kehadiran mereka sejak tahun 1987 menjadi salah satu epitaph perkembangan teater tubuh di Tanah Air yang dibingkai oleh Komunita Salihara dalam festival Helateater.

Sarat dengan simbol dan kritik sosial, lakon Mati Berdiri yang diperankan 10 orang dan disutradarai Yayu A.W. Unru ini menjadi suatu corong akan kemanusiaan masa kini. Sketsa-sketsa pendek digabung menjadi sebuah kolase acak yang membuka ruang pemaknaan dari setiap penonton lewat ketubuhan para pelakon yang membongkar ironi kehidupan dalam kedalaman tutur sekaligus gelak tawa.

Dibuka dengan lolongan serunai dan nyanyian Minang, seorang ibu dengan perut membusung besar melahirkan ketujuh orang anak berwajah persegi bak bantal tanpa ekspresi terbalut pakaian penuh potongan-potongan kain warna-warni, yang perlahan berkeriapan di penjuru panggung yang bergerak dalam ketidakpedulian. Perlahan wajah persegi itupun luruh, namun bagi mereka yang masih berwajah persegi, sosok mereka menjadi ‘Sang Liyan’ yang ditonton dan dipertontonkan, ia yang lain yang tidak terpisah dari kelompok.

Ritme kerja dari kerja tubuh, kesibukan tiada henti hingga santai-santai minum kopi tergambar bak sebuah candu yang digauli khalayak masa kini. Seksualitas pun dikupas lewat daya tarik lawan jenis yang mengundang pelakon menghampiri satu demi satu, membangkitkan imaji kebebasannya yang menjadi ciri kekinian. Di sisi lain, seksualitas pun menjadi ajang adu saing di mana pemain saling mengadu besaran kelamin. Sedang candu juga diketengahkan di hadapan penonton lewat pelakon yang menghisap asap yang menenangkan di atas pentas.

Budaya ‘Asal Bapak Senang’ dan bagi-bagi jatah pun juga menjadi sasaran kritik ketika kompetisi sehat hanyalah menjadi sebuah topeng dan kemenangan hanyalah semu ketika semua sudah diatur dan semua senang ketika pelakon membagi-bagikan bantal ke arah penonton yang melompat dan berteriak kegirangan. Fenomena ojek daring pun muncul ke permukaan dengan hadirnya seorang supir Grab dengan jaketnya yang khas yang mengirimkan sepotong Pizza yang nyaris dicancel dan akhirnya direnggut oleh pelakon dengan omongan ‘ikhlas ga nih?’ ke pemesan. Pun pizza hasil ‘rampasan’ tersebut dibagikan kepada penonton yang juga sama-sama senang. Pencurian dari orang kecil, mereka yang bekerja namun tak pernah menuai hasilnya, namun dibela lewat solidaritas juga tergambar dalam sketsa kecil makanan yang kembali bak sebuah bumerang.

Kehadiran Sena Didi Mime bukan hanya mengundang gelak penonton namun setiap sketsa juga menghadirkan kritik dan perenungannya tersendiri. Pantomim nyatanya bukan hanya bahasa tubuh yang diperankan satu orang di sebuah latar kosong, namun sebuah kisah bersama dimana ketubuhan membangun imaji yang kaya interpretasi. Pertunjukan ‘Mati Berdiri’ semalam adalah sebuah pantomim cerdas untuk semua.

Kru Sena Didi Mime

Iklan
About mikebm (1236 Articles)
An arts journalist, a conductor, an educator, a young arts manager whose passion drove him to leave a multinational IT cooperation to study Arts Administration and Cultural Policy in London and went back to Indonesia to build the scene there.

1 Comment on Tubuh dan Simbol: Sena Didi Mime di Salihara

  1. Almanzo Konoralma // 13 Maret 2017 pukul 9:24 am //

    Kupasan sebuah pagelaran seni yang mendalam. Tidak sekedar formalitas menulis tetapi penuh fokus dalam kupasan pagelaran. Sehingga pembaca “merasa” menonton pagelaran tersebut.

    Salut

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: