Kabar Terkini

Seni Publik Tidak Main-main: Kasus Patung Harimau


Persoalan karya patung harimau di depan markas Komando Rayon Militer (Koramil) 1123 Cisewu yang menjadi obyek tertawaan netizen sebenarnya menjadi preseden tersendiri akan sebuah apresiasi yang berbalut humor.Hadir sebagai lelucon di dunia maya, kasus yang diangkat adalah bentuk patung yang tidak estetis dengan kepala yang terlampau besar dan sama sekali tidak sesuai proporsi dengan mulut yang terbuka lebar. Patung pun akhirnya dibongkar oleh pasukan akibat humor tersebut yang menyebar ke mana-mana.

Respon militer untuk akhirnya membongkar patung berusia enam tahun tersebut, sebenarnya adalah reaksi yang cukup mengagetkan, terlebih apabila kita mengingat sejarah kuasa dan supremasi militer Indonesia seringkali di hadapan warganya sendiri. Nampaknya karya seni yang buruk mampu pula menghancurkan arogansi militer yang selama ini hadir melekat kehadiran Angkatan Darat, angkatan yang menjadi instrumen Orde Baru, terlebih dengan kebanggaan Kodam III Siliwangi yang menaungi Koramil ini. Seni nampaknya menjadi kunci cairnya dunia yang dikenal keras. (berita di sini)

Seni publik adalah sebuah karya seni yang dipertonton dan dapat diakses oleh publik dan umumnya terletak di ruang-ruang publik. Hadirnya kasus harimau Siliwangi, penulis melihat bagaimana seni mampu menyentuh hati masyarakat, pun terlihat bagaimana apresiasi masyarakat yang sebelumnya abai, berkembang hingga menghasilkan diskusi yang meskipun lelucuan, mampu menghadirkan sesuatu yang produktif yakni pembongkaran patung tersebut. Dunia maya pun hadir sebagai pelumas diskusi yang sesungguhnya bersifat apresiatif akan karya seni dan hadir di ruang publik yang dapat diakses masyarakat. Masyarakat pun tanggap akan realitas, sesuatu yang harus dapat dilukiskan dengan baik secara riil dalam karya seni realisme.

patung narkotik aneh.jpg

Patung Anti Narkoba komisi dari KNPI di Bogor

Karya seni visual di ruang publik pun akhirnya harus ditanggapi dengan sangat serius. Apabila patung maung tersebut adalah patung kreasi prajurit, amatirisme tentunya dapat dimaklumi. Namun, apabila seni publik ini digarap oleh orang yang mengaku profesional dan menghasilkan karya yang serupa ini, tentunya ini dapat menjadi bahan tertawaan. Penciptaan dan komisi pembuatan seni publik seharusnya memaparkan nama sang pembuat, sehingga selain sebagai apresiasi, juga sebagai pertanggungjawaban baik sang pemberi kerja (dalam hal ini Kodam Siliwangi) maupun sang seniman itu sendiri.

Sayangnya banyak karya-karya seni publik hanya jadi sebatas proyekan instansi dan kongkalikong seniman  tidak bernama yang tidak tentu melakukan tugasnya dengan bertanggung jawab. Karya seni yang ditampilkan ke publik pun tidak tentu berkualitas yang tentunya harus dipertanyakan peruntukan anggaran yang dipergunakan untuk membuat karya tersebut. Jujur saja, karya yang subpar itu dibuat dengan uang pajak yang ditarik dari masyarakat, dan tentunya masyarakat berhak mendapatkan karya terbaik untuk karya seni yang kemudian dipertontonkan di ruang publik. Apabila tidak hal ini sama halnya dengan penggelapan uang negara dengan hasil yang buruk, sama halnya dengan pembangunan fasilitas umum yang kualitasnya buruk. Karenanya pertanggungjawaban instansi pemberi kerja dan seniman menjadi sangat krusial di sini.

Hadirnya seniman mumpuni yang kemudian menawarkan diri untuk membuatkan karya yang lebih baik sebenarnya memperlihatkan bahwa Indonesia memiliki talenta seni yang banyak dan dengan senang hati terlibat dalam pembuatan karya seni ini.

Yang pasti meski sudah dibongkar dan berpotensi digantikan dengan yang lebih baik, hadirnya macan lucu ini menjelaskan kembali posisi seni di masyarakat kita dan apresiasi yang semakin tumbuh. Meskipun dibongkar nampaknya selera buruk dari seniman maupun Koramil ini telah menjadi bahan tertawaan dan berhasil mencoreng wajah militer di Indonesia. Sudah saatnya kita butuh transparansi dalam penciptaan seni publik yang tentunya akan berbuah pada semakin bertanggungjawabnya karya seni yang tercipta di ruang-ruang publik kita.

Macan Siliwangi dibongkar

Iklan
About mikebm (1216 Articles)
An arts journalist, a conductor, an educator, a young arts manager whose passion drove him to leave a multinational IT cooperation to study Arts Administration and Cultural Policy in London and went back to Indonesia to build the scene there.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: