Kabar Terkini

Dana Abadi Seni AS: Investasi 1 dapat 15 Dibrangus, Apa Kabar Indonesia?


National Endowment of the Arts Amerika Serikat berencana untuk dibubarkan Presiden Donald Trump dengan menghapusnya dari anggaran federal. Indonesia pun lewat Koalisi Seni Indonesia juga ingin memperjuangkan sebuah badan dana abadi untuk seni. Lantas apa manfaatnya strategi dana abadi sehingga Indonesia pun ingin menirunya, dalam diskusi ini akan kita bahas sekaligus mengupas kebijakan budaya Amerika Serikat di bawah Trump yang ingin memotong keberadaan NEA?

Serangan terhadap NEA sesungguhnya telah digadang sejak zaman Ronald Reagan dan hingga kini terus menjadi sasaran tembak kalangan partai Republik AS. Hal ini disebabkan oleh hadirnya NEA lewat kebijakan dari lawan politik Republik, partai Demokrat, yang menekankan keadilan sosial, termasuk dalam hal seni. Meskipun demikian manfaat NEA pun terlihat dalam kacamata yang lain.

Hampir 30 tahun terakhir NEA hanya beranggaran minim, ia dicatat mampu menjadi katalis perkembangan kesenian. Dengan investasi pemerintah federal sebesar 150 juta dolar AS di tahun 2016, seni mampu memberikan manfaat sebesar 22 miliar dolar AS. Dalam kacamata ini terlihat bahwa NEA mampu menarik lebih dari 10 kali pendanaan dari tempat lain. Menurut banyak sumber, NEA sebagai sebuah badan dari pemerintah federal pusat pun mampu menjadi sebuah brand, dimana sebuah organisasi yang menerima sokongan dari pemerintah pusat meskipun dianggap lebih terpercaya dan kredibel sehingga mereka lebih mudah mendapatkan dukungan dan kepercayaan dari pihak swasta (NJSpotlight). Karenanya meski jumlah nominal dukungan dari pemerintah sedikit, organisasi tersebut dapat menggunakan statusnya sebagai lembaga yang didukung NEA untuk mendapatkan dukungan tambahan lain yang berbelas kali lipat besarannya – investasi pemerintah federal yang sangat efektif.

Meski demikian, dampak NEA yang mampu menarik dukungan dari donatur-donatur besar untuk organisasi kecil di daerah-daerah pelosok AS dapat dilihat dari kacamata yang berbeda. Mereka yang mendukung dihapuskannya NEA dapat berargumen bahwa kue yang disumbangkan NEA sangatlah kecil dan tidak signifikan terhadap pemasukan organisasi seni di AS. 1:15 atau sekitar 7% itu dapat dikatakan insignifikan untuk pemasukan organisasi secara total. Karenanya menurut pendukung kebijakan Trump, penghapusan NEA ini tidak akan berpengaruh besar terhadap provisi seni di AS terutama dari segi nominal.

Dengan budget $147.9 juta, menghapuskan NEA oleh pemerintah AS sebenarnya tidak signifikan terhadap penghematan yang hanya 0.004% dari anggaran pemerintah AS. Karenanya penghapusan NEA sebenarnya tidak berpengaruh terhadap agenda penghematan presiden Trump. Adapula yang melihat penghapusan ini hanyalah sebuah topeng dan pencitraan yang dilakukan presiden baru AS itu yang seakan memenuhi janji politiknya dan mengalihkan perhatian publik dari pemborosan anggaran yang sebenarnya.

NEA sudah selama 35 tahun ini mendapat gempuran partai Republik namun terus bertahan karena rakyat mampu menjadi advokat untuk program ini. Reagan pun meski diawal sempat berpikir untuk membredelnya, akhirnya malah memutuskan untuk menambah anggarannya. Usaha berbagai senator lain untuk menyerang NEA pun belum pernah berhasil karena dampaknya dirasakan oleh rakyat AS. Banyak yang berpendapat apabila sungguh NEA dibrangus, justru rakyat Amerika yang merugi dan besar kemungkinan pemerintah AS tidak akan mampu menghidupkan kebijakan seperti ini di masa yang akan datang. Presiden AS Lyndon Johnson memang memiliki keberanian luar biasa 50 tahun yang lalu ketika mendirikan organisasi ini untuk mendukung kesenian AS dan memperluas jangkauan seni AS yang bebas sebagai bagian dari jargon kebebasan AS di masa Perang Dingin.

Dana Abadi Indonesia?

Konsepsi dana abadi untuk kesenian di Indonesia sebenarnya sangat menghangat sejak tahun 2010 dan bahkan sempat diutarakan Wakil Presiden kala itu Boediono, “Perlu diusahakannya semacam dana abadi yang dapat membantu penyelenggara kerja-kerja kesenian dan kebudayaan” (kompas.com). Namun nampaknya pada saat itu, pengutaraan ini hanya berhenti dalam diskursus belaka dan tidak sampai dalam tahap kebijakan pemerintah maupun inisiasi oleh pihak-pihak seni saat itu.

Di tahun 2012, terbentuknya Koalisi Seni Indonesia memegang agenda utama salah satunya untuk meneliti sekaligus menggerakkan terbentuknya dana abadi untuk kesenian yang menjadi program unggulan hingga kini di tahun 2017 (KSI). Menurut pengamatan penulis, hal ini pun didorong salah satunya oleh keberadaan penggerak administrasi kesenian, Linda Hoemar Abidin yang adalah lulusan pendidikan manajemen seni Amerika Serikat dalam tim utama koalisi dan juga sosok yang berpengaruh di Yayasan Kelola yang fokus membangun sumber daya manusia dalam pengelolaan seni dan pendanaan di Indonesia. Karenanya motif untuk mendirikan dana abadi untuk kesenian di Indonesia pun dapat ditelusuri hingga pangkalnya dalam kebijakan National Endowment for the Arts yang dimiliki AS ini. Dapat dikatakan agenda dana abadi ini adalah sebuah tiruan dari NEA.

Namun sejauh ini setelah selama hampir 4 tahun dilakukan penelitian tentang pendanaan seni dan keberadaan dana abadi oleh KSI, sepertinya belum ada langkah strategis yang dapat dimunculkan untuk merealisasikan rencana ini. Indonesia pun saat ini belum memiliki budaya untuk membangun dana abadi. Saat ini hanyalah Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) saja yang terbentuk sebagai badan pengelolaan dana abadi oleh pemerintah Indonesia. Karenanya, pengelolaan dana abadi tentunya masih terasa asing bagi kehidupan administrasi negara ini. Dana abadi umat untuk ibadah haji yang dikelola oleh Kementerian Agama sempat diperdebatkan hilang dan tertelan entah ke mana akibat manajemen yang tidak keruan di dalam administrasi pemerintah pusat (CNNIndonesia).

Selain itu, dukungan pemerintah saat ini belum dapat dikategorikan sebagai sebuah stamp of approval yang diakui khalayak ramai. Organisasi yang menerima bantuan dari pemerintah pusat tidak serta-merta mendapatkan pengakuan sebagai organisasi sehat yang layak dicontoh secara administrasi dan didukung programnya, sebagaimana layaknya stempel NEA dan organisasi yang didukungnya. Banyak bantuan langsung pemerintah Indonesia pun diragukan keabsahannya, karena meritokrasi belum terbangun di Indonesia. Mereka yang menerima bantuan dari pemerintah saat ini/mendapat proyek dari pemerintah belum tentu karena memang merupakan organisasi yang layak dicontoh dan dibantu, tapi malah karena kedekatan dengan penentu kebijakan dan tidak jarang dicurigai adanya praktek kolusi dan korupsi di dalamnya. Karena persoalan ini, peran dana abadi sebagai sebuah katalis untuk penerimaan yang lebih besar dari masyarakat dan swasta tidak akan berjalan di Indonesia. Filantropi seni dan budaya pun belum jadi sesuatu hal yang lumrah di negeri ini. Alhasil return of investment dari dana abadi kesenian di Indonesia akan tentu saja lebih rendah dan kurang efektif apabila dibandingkan NEA di Amerika Serikat dan 1:15nya.

Dana abadi kesenian di Indonesia bisa menjadi solusi yang akan membangun kehidupan kesenian di tanah air apabila berhasil dikelola dengan seksama. Namun jujur saja, untuk sampai ke sana jalan yang ditempuh masih sangat panjang. Amerika Serikat pun berpotensi kehilangan NEA di tahun anggaran 2018 mendatang, dampaknya tentu baru akan dirasakan 10 tahun mendatang. Ini adalah investasi jangka panjang dan ada baiknya Indonesia memantau dengan seksama perkembangan administrasi seni dan kebijakan kebudayaan di berbagai tempat untuk meramu solusi terbaik untuk kemajuan negeri ini.

 

 

Iklan
About mikebm (1272 Articles)
An arts journalist, a conductor, an educator, a young arts manager whose passion drove him to leave a multinational IT cooperation to study Arts Administration and Cultural Policy in London and went back to Indonesia to build the scene there.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: