Kabar Terkini

‘Seniman Mengajar’ Hegemoni Pusat atas Praktik Berkesenian Desa?


Seniman Mengajar adalah sebuah program baru yang luar biasa menarik yang digagas Direktorate Kesenian, Direktorat Jenderal Kebudayaan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia. Sebagai sebuah program baru, program ini menjadi terobosan yang terbuka untuk berbagai kalangan seniman dan masyarakat untuk turut serta mengembangkan kesenian di berbagai daerah dan menjawab beberapa persoalan pengembangan kesenian di Tanah Air.

Dengan misi pemerataan dan pengembangan akses kesenian, program ini dibuat untuk pula menjangkau dan mengembangkan kesenian di level daerah. Meskipun demikian narasi pengembangan yang diangkat oleh pemangku kepentingan di Direktorat Kesenian juga menjadi sebuah isu tersendiri, yakni hegemoni budaya pusat ke desa terluar Indonesia.

‘Dengan program ini, masyarakat di daerah 3T dapat terbuka wawasannya dan dapat menjalin kerjasama dengan para seniman, sehingga dapat meningkatkan kualitas ekspresi seni dan penguatan identitas budaya di daerah 3T.’ ~kebudayaan.kemendikbud.go.id

Peningkatan kualitas ekspresi seni dan penguatan identitas budaya di daerah 3T memang akan dapat berkembang dengan sangat baik apabila diikuti dengan interaksi budaya dan berkesenian yang tumbuh di masyarakatnya. Pun interaksi dengan budaya yang berbeda juga akan meningkatkan keberagaman di daerah tersebut.

Namun, frase ‘dapat terbuka wawasannya’ yang menjadi persoalan besar dan agaknya berlawanan dengan prinsip-prinsip yang diangkat oleh Seniman Mengajar sendiri yakni: partisipatif, dialogis dan transformatif (kemendikbud.go.id). Pembukaan wawasan menekankan adanya sebuah dorongan untuk memaksakan pandangan berkesenian di pusat/kota terhadap ekspresi kebudayaan di desa terdepan, terluar, tertinggal (3T) sebuah istilah yang menekankan aspek modernis dari pembangunan.

Kesenian pun akhirnya terjatuh dalam paradigma yang sama, kesenian tidak menjadi sebuah kekayaan dan aset penting di daerah tersebut yang dapat dikelola bersama, namun menjadi sebuah ajang untuk membuka wawasan seniman desa agar mengikut perspektif seniman kota. Istilah ‘membuka wawasan’ yangd digunakan dalam rilis resmi Dirjen Kebudayaan pun rawan dengan anggapan bahwa seniman desa 3T adalah mereka yang sempit wawasan yang perlu dibukakan wawasannya, menekankan bahwa praktik berkesenian mereka dan hidup mereka adalah buah dari wawasan yang tertutup yang tidak lagi sesuai dengan visi pemerintah pusat saat ini. Seniman yang ikut program dari pemerintah pusat ini pun seakan diturunkan sebagai agen-agen juruselamat yang akan mencelikkan mata seniman desa yang buta.

Persoalan ini pun sebenarnya dapat dilihat dengan paradigma pemerintah pusat yang masih identik dengan paradigma budaya khas pemerintahan sentralistik Orde Baru. Dalam hal ini, narasi ‘pembangunan’ menjadi dasar yang menekankan pentingnya rakyat di daerah untuk mengikuti arahan dan tuntunan pemerintah pusat yang otoriter, sebagaimana tertuang dalam tulisan Tod Jones di bukunya Culture, Power and Authoritarianism in the Indonesia State:

After sixteen years of sustained economic growth, a booklet outlining the policies of the Directorate of Culture produced in 1994/95 was still emphasizing that Indonesian society is ‘bound by tradition that does not always support readiness and maturation to think, behave and act openly and progressively, respecting time and prepared to engage in healthy competition’ (Direktorat Kebudayaan 1994/95)

Dalam paradigma yang serupa juga, Direktorat Jenderal Kebudayaan menulis rilis resmi Seniman Mengajar. Nyatanya sedari masa Orde Baru hingga memasuki 20 tahun reformasi, paradigma kebudayaan dari pemerintah pusat masih mengambil sikap berseteru dengan praktik di lapangan. Justru pendekatan kolaboratif yang sempat disampaikan dalam website Seniman Mengajar lah yang perlu diangkat bersama untuk mengangkat visi yang koheren. Hilmar Farid sebagai Direktur Jenderal Kebudayaan dan juga sejarawan tentunya peka dan paham dengan narasi macam ini dan perlu mengambil langkah yang seksama dalam mengangkat narasi di dalam Direktoratnya.

Penguatan identitas juga menjadi narasi besar dalam program Seniman Mengajar ini yang menyasar daerah-daerah terluar untuk menjaga ke-Indonesia-an mereka, sebuah indoktrinasi kembali dari penerintah yang selama ini abai dengan pergerakan kesenian dan kebudayaan di berbagai daerah. Harus dikatakan secara budaya komunitas ini tentunya lebih dekat dengan komunitas perbatasan negara tetangga dibanding para pemangku kepentingan di Jakarta. Meletakkan seniman lokal sebagai seniman dengan wawasan sempit tentunya akan kontraproduktif dengan cita-cita ke-Indonesia-an. Padahal, seniman inilah yang bersentuhan terus dengan pertukaran budaya dan informasi di perbatasan negara ini. 

‘Dalam melaksanakan program Seniman Mengajar ditekankan prinsip–prinsip : partisipatif, dialogis, dan transformasi.’

~kebudayaan.kemendikbud.go.id

Upaya untuk membangun kembali relasi kultural antar daerah di Indonesialah yang seharusnya diangkat, dan hanya dengan upaya yang dialogis, partisipatif dan transformatif inilah tujuan tersebut dapat tercapai. Bukan dengan sikap menggurui yang diwacanakan dalam rilis pemerintah pusat yang merendahkan praktik berkesenian di daerah terluar Indonesia.

Iklan
About mikebm (1271 Articles)
An arts journalist, a conductor, an educator, a young arts manager whose passion drove him to leave a multinational IT cooperation to study Arts Administration and Cultural Policy in London and went back to Indonesia to build the scene there.

1 Comment on ‘Seniman Mengajar’ Hegemoni Pusat atas Praktik Berkesenian Desa?

  1. Ronny Loppies // 22 Maret 2017 pukul 3:36 pm //

    menginat minimnya pengetahuan siswa tentang seni maka sangat mendukung kebijakan pemerintah untuk program seniman mengajar.

1 Trackback / Pingback

  1. Kacamata Kuda Musisi: Memprihatinkan – A Musical Promenade

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: