Kabar Terkini

Kompetisi, Reputasi dan Pendapatan Guru


Kompetisi bermusik dalam dunia musik klasik tampaknya memang berkembang dengan pesat. Saat ini tercatat sekurangnya 50 buah kompetisi musik klasik di Indonesia dalam 2 tahun ini yang diikuti berbagai siswa musik dari berbagai daerah dan terutama terkonsentrasi di Pulau Jawa. Bahkan sudah ada kompetisi musik yang berjejaring seperti Ananda Sukarlan Piano Competition dan Kompetisi Yamaha yang tersebar di beberapa kota. Namun hingar-bingar dari maraknya kompetisi justru menutupi geliat para guru yang menjadi salah satu motor utama di belakang menjamurnya kompetisi ini.

Kompetisi musik secara umum adalah ajang untuk meraih prestasi dan mendulang reputasi bagi siswa. Tidak sedikit orangtua murid yang berambisi agar anaknya mengikuti dan menjuarai kompetisi. Bagi para siswa ini, bermusik menjadi semacam ajang yang mendorong mereka untuk belajar, berkembang dan berprestasi lebih jauh. Gelar juara pun menjadi sebuah kebanggaan bagi orang tua siswa. Karenanya, untuk turut serta dan kemudian memenangkan kompetisi ini, tidak sedikit orangtua yang menginvestasikan waktu, tenaga dan uang. Sempat terdengar juga seorang murid dapat belajar hingga 2-3 guru dalam sepekan untuk mendongkrak prestasi bermusiknya. Dan nafsu untuk kompetisi seperti ini sangat kental terlihat dalam komunitas musik klasik di Surabaya yang sangat kompetitif.

Fenomena yang cenderung terbatas pada kalangan musik klasik ini sebenarnya juga berdampak bagi para pengajar. Tidak sedikit pengajar yang kemudian dikenal sebagai pengajar yang spesialis murid peserta kompetisi dan bahkan pemenang kompetisi. Beberapa pengajar piano yang handal pun kemudian kedatangan murid-murid yang sedang berjuang untuk menghadapi kompetisi dan berambisi meraih juara. Guru-guru yang dikenal sebagai pencetak jawara kemudian diperebutkan dan dicari, metodenya dalam mengajar juga menjadi incaran.

Ya, kompetisi kemudian juga menjadi ajang untuk mengangkat reputasi seorang guru. Tak terelakkan, kompetisi pun menjadi ajang validasi seorang guru musik. Dalam jenjang karir yang tidak seberapa jelas di Indonesia, seorang guru musik privat pun akhirnya menggantungkan reputasinya sebagai guru lewat prestasi murid-muridnya di ajang kompetisi. Kompetisi pun tidak semata-mata diperuntukkan bagi seorang anak, tapi juga bagi para pendidik yang berdiri di belakang mereka. Perseteruan yang sengit namun tak kasat mata ini hadir lewat tekanan yang terasa saat para guru saling membandingkan prestasi diri dan murid dengan guru lain dan perlahan membentuk kubu-kubunya sendiri. Tidak jarang diskusi kemampuan mengajar pun menjadi ajang menggosip di antara pengajar-pengajar yang umumnya memiliki institusinya sendiri, baik les privat maupun sekolah musiknya sendiri.

Dengan besarnya animo orangtua murid dalam melakukan investasi, kompetisi pun juga mengangkat pendapatan guru-guru musik terutama yang anak didiknya mampu meraih juara. Sempat terdengar di kalangan guru musik bahwa kemenangan kompetisi pun menjadi validasi untuk mendongkrak pendapatan dan besarnya uang sekolah si murid. Guru yang muridnya menang bisa jadi merasa berhak untuk menaikkan pemasukkan dengan berbekal prestasi si murid. Logika ini umumnya didukung oleh semakin tingginya permintaan jasa pada guru-guru pencetak juara sehingga mereka dapat menaikkan fee mereka. Alasan ekonomi pun akhirnya juga menjadi bagian motivasi para guru untuk mengikutsertakan anak didik mereka dalam kompetisi musik.

Kompetisi musik untuk siswa menjadi sebuah marketplace di mana komodifikasi pendidikan hadir. Kompetisi di Indonesia memang menjadi ajang pamor, tapi memang belum dapat menjadi platform untuk meluncurkan karir bermusik seperti banyak kompetisi di luar negeri. Saat ini hanya beberapa kompetisi yang digagas Ananda Sukarlan dan Avip Priatna saja yang kemudian membantu meluncurkan karir para pemenangnya, bukan lewat pamor tapi memang penyelenggara ikut serta secara aktif lewat menjadwalkan mereka dalam kegiatan-kegiatan yang digarap oleh badan-badan yang terkait dengan kompetisi tersebut. Bisa jadi kebanyakan kompetisi lebih menguntungkan secara langsung (direct benefit) bagi pengajar musiknya dibandingkan para pemenangnya sendiri.

Kompetisi yang membanjir menyebabkan tidak adanya standar yang jelas untuk si pemenang. Predikat juara pun terbagikan dan dengan kompetisi yang menjamur disertai keragaman kategorinya, semakin banyak pula anak muda yang menyandang predikat juara yang membuat perdebatan kualitas antar kompetisi pun semakin nyata. Apabila tidak ada upaya dari penyelenggara kompetisi untuk mendongkrak kualitas, kompetisi pun hanya akan menjadi ajang adu pamor pengajar yang tidak tentu dapat dirasakan manfaatnya oleh peserta ataupun sang pemenang sendiri. Sekalipun kompetisi telah lebih berkualitas, kompetisi pun tetap akan menjadi arena tarung antar pengajar musik dan sebuah ladang bagi mereka untuk menaikkan pendapatan mereka.

Iklan
About mikebm (1272 Articles)
An arts journalist, a conductor, an educator, a young arts manager whose passion drove him to leave a multinational IT cooperation to study Arts Administration and Cultural Policy in London and went back to Indonesia to build the scene there.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: