Kabar Terkini

Warisan Filsafat Bunyi “Mpu” Slamet Abdul Sjukur


Mungkin di antara pembaca masih ingat dengan trilogi film The Matrix yang latarnya mengambil dua dunia, dunia fisik dan dunia digital. Di dalam dunia digital hanya Sang Tercerahkan yang bisa melihat kesejatian realita sekitarnya dalam bentuk asli bilangan biner 0 dan 1. Seperti itulah penulis membayangkan tataran kemampuan almarhum “mas” Slamet Abdul Sjukur di dalam mencerap kesejatian bunyi yang berseliweran. Dan pencerapan ini menemukan bentuk harmonisasinya melalui buku Virus Setan. Sebuah karya klasik yang bagaikan anggur, semakin berumur semakin njarem rasanya, baik dalam konteks musik terlebih lagi dalam konteks budaya bangsa.

Dalam ranah seni sastra, kepulangan SAS kepada fenomena dasar ‘bunyi’ yang membentuk musik dapat dibandingkan dengan SCB (Sutardji Calzoum Bachri) yang setiap karyanya mengingatkan pembaca bahwa kata adalah mantra, dan juga dapat disejajarkan dengan Umberto Eco dan Roland Barthes yang memaparkan bagaimana terdapat berjuta dunia makna dalam satu kata yang menempati posisi tertentu di dalam frasa, kalimat, dan paragraf sebuah karya fiksi. Tanpa kedalaman pemahaman ini, pembaca mungkin akan silap dengan peringatan SAS yang dua kali disuratkan dalam buku “sebetulnya sumbangan musik untuk dunia itu nggak ada. Tetapi, itu menurut orang yang tidak tahu musik…”

Tidak heran jika melalui Virus Setan, alm. SAS sebagaimana para kaum tercerahkan dapat merelasikan bagaimana centang-perenangnya (bukan lagi dalam taraf disonan) bebunyian negara dan bangsa Indonesia. Mulai dari standardisasi bunyi musik kebablasan (yang menjadi penghambaan kepada standar bunyi), tong kosong visi pendidikan manusia Indonesia seutuhnya (tanpa melibatkan pendidikan dasar bunyi), hingga anarkisme kelantangan bunyi di dalam ruang publik.

Persimpangan Lintas Ilmu

Membaca Virus Setan adalah membaca sebuah dekonstruksi makna musik. Dengarkanlah Kabut dan Svara, lantas bayangkan alm. Mas SAS berkeliaran dalam dunia ide di Paris sekitar 1962 – 1976. Tidak dapat dipungkiri sebuah intertekstualitas yang kuat wajib ditelusuri dari tema pembebasan bunyi dalam karya-karya mpu SAS kepada dekade saat Jacques Derrida merilis tiga karya fondasionalnya Speech and Phenomena, Of Grammatology, dan Writing in Difference (ketiga-tiganya diterbitkan di 1967), dan karya-karya monumental Roland Barthes diterbitkan (di antaranya Éléments de sémiologie – 1964, L’Empire des signes dan S/Z – keduanya 1970). Dan era keemasan dekonstruksi dan semiotika ini mengejawantah dalam aliran musik ecoute reduite (pendengaran lugu) yang digagas Pierre Schaeffer di Paris, (oh betapa beruntungnya SAS!).

Dengan demikian tidak mengherankan jika sepulang dari sana alm. Mas SAS sudah memiliki lini pandang bak Neo (Sang Tercerahkan dalam film The Matrix), segala fenomena tersibak baginya. Pertama-tama dalam dunia musik. SAS mengeritik bagaimana standardisasi musik nasional bagai buah lupa pohonnya. Musik mendadak diprofesionalisasi dan dijadikan seolah primadona dengan hadirnya institusi pendidikan menengah dan tinggi, belum lagi ujian-ujian berstandar dengan penguji dari luar. Ironisnya justru di tataran mendasar pendidikan musik, warisan budaya, dan lagu-lagu adat diabaikan dan diganti dengan lagu-lagu berstandar luar. Anak-anak berbakat musik bisa tampil solo luar biasa, namun menyanyi bersama masih blero.

Fenomena ini dibandingkan dengan Hungaria yang justru mendasarkan pendidikan musiknya kepada filosofi Kodaly “mulai dari anak-anak, mulai dari lagu daerah”. Hasilnya adalah kesenjangan sosial yang begitu menganga dan kegagalan berkesinambungan Indonesia untuk hidup bersama secara “harmonis” dalam keragaman (dalam kerangka pandang SAS penggunaan lema “harmonis” dalam berkehidupan sosial mencengkeram kuat ironi antara maknanya yang ideal dan realita lapangan yang lebih mencekam).

Tuli Bunyi dan Tuli Budaya

Demikian detilnya SAS, bahkan melalui “harmoni sosial” beliau mendengar “bunyi-bunyi” pendidikan berbangsa, dan lebih lagi berbudaya di Indonesia. Berbasis kepada alat musik ekspresif paling dasar, suara, SAS melanjutkan telaah radikalnya mengenai bagaimana bernyanyi dengan baik melatih kita bernafas dengan sehat. Dan bayangkan sebuah kelompok paduan suara (tentu saja kembali mengacu kepada Hongaria dan Kodaly-ismenya) yang di dalamnya berisi manusia-manusia yang peka-harmoni (saling mendengar bebunyian yang lain – kembali terdengar jejak dekonstruksi Derrida) dan peka-sistem (mampu mandiri mengatur struktur tubuhnya – keberjarakan antara pelaku dan tindakan, bukankah mirip leburnya sang penggubah dan gubahannya dalam semiotika?). Hasil dari pendidikan musik dan paduan suara sejak usia dini, sebuah komunitas sosial yang mampu hidup bersama secara “harmonis”.

Dan tidak lebih relevan lagi dalam dua dekade terakhir, komposisi harmoni sosial beliau mencapai puncaknya dalam pembentukan “Masyarakat Bebas Bising” yang tugasnya di antara lain (dan paling mendasar) adalah “mensosialisasikan apa itu telinga? Bahayanya apa?” Kebisingan telah mencapai taraf tuli budaya, ketika publik bahkan sama sekali mengacuhkan pendengaran sebagai salah satu indera yang selalu diremuk-redamkan di abad teknologi ini. Yang salah satu sebabnya dapat ditelusuri kepada semakin tingginya piranti-piranti elektronik yang memanjakan fiksasi visual, dan ironisnya melahirkan tuli budaya.

Spesialis Berwawasan Generalis

Karina Adistiana M.Psi, aktifis psikologi dan Peduli Musik Anak, merumuskan sebuah lema spesialis-berwawasan-generalis bagi individu-individu sangat langka. Mereka yang mulanya bertekun di dalam satu bidang khusus, namun oleh karena ketekunan belajar seumur hidup, fondasi pengetahuan spesialis mereka menjalin jejaring konsep dan praktik ke dalam bidang ilmu yang lain. Tidak bisa dipungkiri bahwa alm. Mas SAS layak disematkan predikat ini.

Seorang penganut minimax, yang hanya dengan bermodalkan iman akan “bunyi” (tidakkah ironi kembali ditemukan ketika radikalisme iman SAS berdasar, dengan di dalam Injil dikatakan “Pada mulanya adalah firman [Word]” dan “Iqra!” adalah wahyu pertama yang didengar Nabi Muhammad SAW), mampu menghasilkan komposisi maharaksasa dari satu not dalam kunci musik (music clef) dan berujung kepada not lain dalam kunci budaya (cultural clef).

Dan dapat dipahami untuk menemukan kajian yang mendalam secara musikal dalam buku Virus Setan, pembaca diajak menelusuri dan menelisik dahulu bebunyian yang alm. Mas SAS dengarkan sehari-hari. Baru di bab terakhir atau bab VI “Globalishalom”, alm. mas SAS mengembalikan kita semua ke ranah musik dan bagaimana musik mewariskan kepada kita keragaman bunyi yang membebaskan kita untuk memilih dan menggubah, jika kita bisa melepaskan indera kita dari samudera frekuensi audiovisual. Atau justru kita semua sudah terlalu “well-tempered” (ternyamankan di dalam sistem), bagai manusia-manusia yang terjebak dalam fiksasi visual dunia digital?

Iklan
About JC Pramudia Natal (3 Articles)
Educator and Musician. I have been teaching and educating since 2001. My field mostly cover Humanities, majoring in Literature and Art and minoring in Music Performance. In my spare time outside of teaching i play piano, sing in a choir, read books, and sometimes write column or essay.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: