Kabar Terkini

Tenaga Muda Murah, Nasib Pemain Orkestra Kini


Geliat orkestra yang tumbuh pesat disertai dengan hadirnya tenaga kerja terampil baru dalam kancah dunia orkestra di Jakarta yang lulus dari berbagai institusi pendidikan musik mulai menimbulkan polemik baru. Tenaga lama dan pemain senior kini semakin dianggap usang dan tidak lagi dipakai dan digantikan tenaga muda baru disertai dengan berbagai implikasinya.

Bersalinnya tenaga kerja dan talent dalam musik sebagaimana banyak dunia industri lain adalah sebuah fakta regenerasi tenaga kerja yang lumrah. Namun terbatasnya jumlah orkestra dan lapangan kerja orkestra di Jakarta dan berbagai kota lainnya menyebabkan kebijakan regenerasi satu/dua orkestra menjadi sebuah keputusan yang terbilang mengejutkan dan berdampak lumayan besar bagi banyak pekerja orkestra di Ibukota. Sekitar 30-40 orang terkena dampaknya. Untuk lengkapnya mari kita mempelajari studi kasus ini.

Regenerasi Masif Mendadak

Sebuah orkestra ternama di Jakarta dengan keberadaannya selama 20 tahun lebih dengan runtutan produksi yang reguler juga memasok orkestra untuk berbagai pertunjukan, bukan saja memiliki reputasi yang kuat, namun juga keterikatan yang kuat pada tenaga kerja pemusik yang telah secara rutin bermain untuk orkestra tersebut, meskipun sifat pekerjaannya hanya bersifat honorer/pekerjaan lepas. Maka ketika kebijakan untuk melakukan regenerasi pemain dan mengisi barisan pemain dengan pemain muda datang dari sang konduktor yang juga berperan sebagai CEO, banyak implikasi yang kemudian terjadi dan berpengaruh pada relasi para pemusik, konduktor, manajemen dan bahkan khalayak musik yang lebih luas.

Regenerasi pemain yang terjadi sebagai sebuah keputusan yang tergolong mendesak, nyatanya dapat diimplementasikan dengan cukup cepat. Hal ini dimudahkan oleh karena basis pekerja lepas yang dipegang oleh para musisi. Tidak ada perlindungan kontrak apapun yang mengikat jangka waktu menengah bagi para musisi. Sehingga ketika turun instruksi untuk regenerasi, pergantian pun terjadi dengan sedemikian cepat. Hanya dalam beberapa bulan, hampir 80-90% pemain sudah tergantikan oleh darah segar musisi yang baru saja lulus dari pendidikan, sedang para pemain lama pun tersingkir dengan sendirinya.

Practice AYO.jpg

Asian Youth Orchestra yang menjadi kebanggaan dan penghasil tenaga orkestra muda Asia (ilustrasi.)

Tenaga Muda vs. Tua

Tenaga muda pun menjadi pilihan sebab dari segi keterampilan tidak tentu lebih jelek dari seniornya. Hanya pengalaman saja yang sedikit berbeda. Sayangnya untuk orkestra ini, faktor pengalaman dan tradisi spesifik orkestra bukanlah sesuatu yang utama karena kebetulan orkestra yang cukup aktif ini tidak bertumpu pada tradisi permainan orkestra yang dibangun bertahun layaknya banyak orkestra di Eropa yang telah berumur ratusan tahun yang kekhasannya adalah karena regenerasi bertahap yang terjadi. Alhasil, terjaga sebuah tradisi dalam orkestra yang diserahkan dari satu pemain kepada pemain lain secara bertahap selama berpuluh tahun, satu demi satu orang. Pun orkestra ini lebih banyak memainkan karya pops yang tidak terlalu banyak membutuhkan aspek pendekatan musikal yang partikular, kemampuan bermain not dan musikalitas dasar saja mencukupi. Kehilangan pengalaman dan tradisi secara mendadak di 80-90% lini bukanlah menjadi masalah besar.

Pun harga/upah yang diminta para musisi junior juga relatif lebih murah. Mereka yang lebih muda tentunya memiliki pertimbangan yang berbeda dengan para seniornya. Banyak dari mereka adalah lulusan muda dengan talenta yang luar biasa namun memiliki keleluasaan dalam menentukan harga, dikarenakan tuntutan hidup yang juga berbeda dengan para seniornya. Tidak sedikit pula musisi muda yang menetapkan angka yang rendah sebagai penglaris yang menarik bagi manajemen atau dikenal sebagai teknik akuisisi pelanggan baru. Pemain muda juga lebih mudah dibentuk dan mengikuti kemauan manajemen dan konduktor dibanding pemain-pemain senior yang sering memiliki otoritas dan tidak ragu untuk menyampaikan pendapatnya, sehingga lebih dipilih.

Fenomena ini sebenarnya menunjukkan betapa rentannya para pekerja musik orkestra di Jakarta yang bagai buruh lepas, tidak memiliki keamanan dari segi penghasilan. Pun memang tidak ada kesepakatan mengikat antara musisi senior dengan pihak manajemen orkestra yang mampu menyediakan jaring pengaman bagi para musisi senior ini. Pun advokasi tenaga kerja musik orkestra juga belum dapat dikatakan ada di Indonesia sehingga apabila hal ini terjadi tiada yang dapat angkat suara yang kuat legitimasinya.

Alhasil, dari sisi musisi senior pun banyak yang kemudian kecewa. Beberapa bahkan kemudian memendam kegusaran kepada manajemen dan sang CEO dan menganggap kekecewaan ini sebagai serangan personal bagi mereka. Tentu saja alasan ‘terlalu senior/tua’ tidak menjadi alasan yang cukup kuat untuk merumahkan pemusik karena umumnya pekerjaan musisi bersifat meritokratik, yang mampu yang diberi kesempatan. Kekecewaan semakin mendalam apabila musisi tersebut telah bernaung selama belasan tahun di bawah orkestra tersebut.

Peraturan anti-diskriminasi tenaga kerja di Indonesia memang belum mengikat secara kuat. Di beberapa negara, undang-undang ketenagakerjaan mengharuskan sang pemberi kerja menghapuskan usia, ras dan jenis kelamis dalam kriteria mencari pegawai karena akan melemahkan upaya keragaman tenaga kerja sebagaimana di Indonesia. Keputusan untuk tidak lagi memanggil musisi senior yang sudah puluhan tahun bermain pun tidak bisa dikatakan bersalah secara hukum, karena nyatanya tidak ada pelanggaran yang berat, hanya ranah abu-abu etika yang kemudian menjadi tanda tanya.

Namun menarik apabila kita melihat bagaimana beberapa seniman musik senior menghadapi hal ini. Melihat peluang berkembang cukup besar di dunia pendidikan musik, tidak sedikit seniman senior yang kemudian banting setir untuk kemudian berkonsentrasi untuk mengajar. Meski tidak sedikit musisi yang telah mengajar selama membina karir sebagai pemain musik, namun jadwal yang tidak menentu sebagai musisi orkestra menghalangi mereka untuk menekuni bidang ini secara lebih serius. Akhirnya setelah ‘tersingkir’ secara paksa ini akhirnya mereka lebih memilih untuk menekuni dunia pendidikan dengan mengajar paruh maupun purna waktu di sekolah umum, sekolah musik, institusi pendidikan tinggi maupun sanggar dan privat.

Di satu sisi adalah keuntungan yakni bahwa semakin banyak pengajar instrumen orkestra yang memiliki jam terbang sebagai pemain yang mumpuni, sekaligus juga memiliki keterampilan yang cukup yang tentunya akan mampu memberikan perspektif utuh bermain musik. Namun demikian di sisi lain, meskipun umur musisi ini telah tergolong ‘senior’ bukan secara otomatis mereka menjadi pengajar yang baik, karena tidak sedikit yang memiliki pengalaman yang sebenernya minim. Tidak jarang pula seniman-guru baru ini belum mampu beradaptasi dengan lingkungan kerja dan hidup dalam rutinitas kerja harian mereka. Beberapa ada pula yang banting setir secara radikal lebih menekuni bisnis baru dan usaha sendiri. Ataupun, ada pula yang memilih untuk menjadi komponis dan arranger yang menerima ‘order’ penulisan musik, baik untuk pertunjukan, siaran TV, film dan juga iklan. Pilihan perpindahan karir seperti ini, apapun bentuknya, tidak pernah ringan.

Keputusan satu orang untuk pengetatan di satu orkestra pun berdampak pada banyak orang, bahkan pada kualitas pendidikan musik di Jakarta. Sebuah perspektif akan sebuah kisah dari studi kasus yang nyata, studi ini membukakan mata akan kompleksnya persoalan yang masih menyelimuti kancah musik kita. Ini adalah fenomena dunia kerja kini, buah industrialisasi dan kapitalisme yang juga menyusup ke dalam praktek berorkestra Ibukota.

Iklan
About mikebm (1272 Articles)
An arts journalist, a conductor, an educator, a young arts manager whose passion drove him to leave a multinational IT cooperation to study Arts Administration and Cultural Policy in London and went back to Indonesia to build the scene there.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: