Kabar Terkini

Stefina Wibisono dan Melankoli Piano


Mengedepankan melankoli dalam bertutur, mungkin kesan itulah yang pertama kali muncul ketika menyaksikan resital Stefina Wibisono yang menjadi bagian dari rangkaian resital dosen piano yang digagas oleh Universitas Pelita Harapan.

Resital yang dibuka oleh permainan polifoni J.S. Bach yang diambil dari koleksi Well-Tempered Klavier I no.22 BWV 867 dalam Bes minor terlihat bagaimana pianis yang menyelesaikan pendidikan master musiknya di Carnegie Mellon University School of Music ini mengedepankan nuansa dan warna yang kental dengan kesenduan. Permainannya yang pianistik mengeksplorasi potensi piano modern dalam suasana prelude yang kontemplatif dan kompleksitas fuga tersendiri. Meski demikian menarik bagaimana Stefina menarik pendekatannya ke dalam spektrum musik yang terkesan introvert namun memiliki gairahnya yang terselubung, sehingga menimbulkan kesan dramatik yang berbeda dari kelaziman.

Karya Franz Schubert, Sonata dalam A mayor op. posth. 120, D664 menjadi sajian berikutnya. Mengedepankan rangkaian kalimat yang panjang, pianis yang juga adalah alumnus UPH yang kini kembali menjadi dosen musik di almamaternya ini menonjolkan kualitas nyanyian lirih dari karya yang menjadi kekhasan seorang Schubert. Diciptakan tahun 1819, karya yang berjuluk ‘Kecil’ ini dijaga oleh sang pianis dalam kerangka mininya sembari menyimpan momentum musik hingga akhirnya lepas di bagian ketiga. Nafas yang tertata apik memberi sentuhan yang apik dalam setiap frase musikal yang disampaikan, namun di sisi lain karya ini pun cenderung mempertahankan kelebamannya. Alhasil, drama dan juga kelugasan seorang Schubert agak terkesampingkan karena kehilangan kontras terutama di bagian pertama.

Babak kedua berlanjut dengan eksplorasi pianis yang sempat menjadi anggota perkumpulan kehormatan musik di kampusnya di AS Pi Kappa Lambda lewat karya Claude Debussy Estampes yang ditulis tahun 1903. Karya ini menjadi salah satu bukti kekaguman Debussy pada warna-warni beragama musik yang kemudian menjadi inspirasinya, gamelan Jawa yang dipertontonkan dalam Expo di Paris tahun 1889 lewat bagian 1 berjudul Pagodes, geliat dan kelantangan gaya Spanyol La soireé de Grande dan juga pendekatan virtuosik lewat Jardins sous la pluie. Tampak pada babak ini, Stefina mampu tampil dengan ekspresi optimal dan berani. Pendekatannya yang semakin lepas ini juga mengundang tanya penulis pada keselarasan akustik auditorium dan piano yang digunakan, apakah akustik gedung mampu menjaga kualitas tone yang dihasilkan oleh piano yang berada di atas pentas. Meski demikian Stefina mampu melibas karya ini dengan cukup gemilang, tanpa kendala yang berarti.

Pergelaran pun ditutup dengan karya Valee d’Obermann dari koleksi buku I Années de Pélegrinage S.160 yang menjadi refleksi dan eksperimentasi sang komponis Franz Liszt akan keindahan alam Eropa dan refleksi yang menyertainya. Tetap dengan kualitas melankolinya, Stefina mampu membawakan garis-garis panjang kalimat yang berseling-selang dengan kelincahan jari yang menuntut perhatian lebih pemain. Pemilihan tempo yang sedikit lambat pun tidak menghambatnya dalam bertutur, Stefina pun mampu menjaga gerak dan energi dari karya ini. Meski demikian ada sedikit harga yang harus dibayar, yakni momentum nafas dan kontras yang semakin sulit untuk terjaga. Piano adalah instrumen perkusi yang akan kehilangan sonoritas tepat setelah tuts ditekan dan senar di dalam instrumen terketuk. Tantangan dengan penyampaian yang cenderung lambat, meskipun tergarap dengan sangat teliti, hadir semakin sulitnya menjaga momentum karya. Stefina pun akhirnya mengambil langkah dengan menjalin tempo dengan lebih erat tanpa banyak mengambil jeda untuk menekankan corak yang seringkali menjadi kekhasan seorang Liszt.

Bertempat di auditorium Gedung D, resital ini adalah bagian dari resital rutin bagi para pengajar jurusan musik universitas di bilangan Karawaci Banten ini. Dipenuhi mahasiswa-mahasiswa musik UPH, konser Stefina Wibisono lewat melankoli pianistiknya pun telah menjawab kebutuhan akan oase berkesenian di daerah Tangerang dan sekitarnya.

 

Iklan
About mikebm (1247 Articles)
An arts journalist, a conductor, an educator, a young arts manager whose passion drove him to leave a multinational IT cooperation to study Arts Administration and Cultural Policy in London and went back to Indonesia to build the scene there.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: