Kabar Terkini

Kronik Manik Angkeran – Paket Pedagogi Pertunjukan Seni Budaya Ala Sekolah Cikal


Pada Sabtu, 8 April 2015 Sekolah Cikal Serpong menggelar produksi musikal tahunnya bertempat di Titan Center, Bintaro. Beberapa hal krusial perlu dicermati dari pelaksanaan produksi tahunan ini yaitu: 1) Konsistensi penggunaan tema kearifan lokal Nusantara 2) praktik ruang kelas musik lintas-umur 3) pemaparan dini etiket seni pertunjukan 4) reinterpretasi dan rekonstruksi produk warisan budaya

Nguri-uri (Melestarikan) Kearifan Lokal

Pertunjukan musikal Sekolah Cikal tahun 2017 ini bertajuk The Chronicle of Manik Angkeran (Kronik Manik Angkeran) yang mengelindankan mitos Manik Angkeran dan Naga Besuki dengan sejarah kepahlawanan Ketut Jelantik dan Kerajaan Buleleng dalam melawan kedatangan VOC di pulau Bali. Pentas ini merupakan bagian dari Festival Budaya tahunan sekolah Cikal, yang tahun ini bertajuk Playground of Bali. Tidak tanggung-tanggung untuk persiapan artistik tahun ini mereka juga menyertakan seniman dan budayawan Bali, I Gusti Kompyang Raka.

Tepat satu bulan lalu sastrawan Yanusa Nugroho dan Gola Gong mensosialisasikan pentingnya revitalisasi khasanah dongeng Nusantara. Lebih jauh lagi, bahkan komposer-pedagog Zoltan Kodaly menekankan pentingnya pengenalan dan pemaparan budaya lokal di dalam sekolah. Dalam pandangan penulis sekolah Cikal berhasil menghidupkan amanat tersebut dengan konsisten menggunakan tema dari khasanah budaya Nusantara; antara lain Borneo, Papua, dan tahun lalu¸Parahiyangan.

Penggunaan linicolek Playground of …. Juga menggambarkan keinginan luhur untuk menyebarkan pesan dan makna bahwa institusi pendidikan itu seyogyanya ruang bermain nalar, rasa, dan hasrat peserta didik. Atau, menyitir Johan Huizinga, memenuhi salah satu kodrat manusia sebagai homo ludens (manusia bermain).

Tidak Ada Senior-Junior, Hanya Ada Ekspresi Seni

Pencapaian yang perlu diacungi jempol selanjutnya adalah membuat produksi musikal ini menjadi ruang kelas lintas umur (multi-age). Walau kelas paling tua adalah kelas 7, namun para murid kelas 7 ini tidak hanya tampil. Mereka turut serta sebagai panitia dan yang lebih mengagumkan adalah keluwesan mereka untuk tampil bersama-sama adik-adik kelasnya di atas panggung. Mungkin kalau rekan panggungnya kelas 6 mereka dan penonton akan merasa biasa-biasa saja. Tapi tidak! Rekan satu adegan mereka adalah kelas 2 dan kelas TK. Bahkan ada adegan ketika seorang pemeran utama harus berimprovisasi dikeliling murid 2-3 tahun dan murid TK. Dan hal ini dilakukan tanpa memunculkan ekspresi panik, bingung, dan bahkan bimbang.

Sedemikian jauhnya rentang umur, fisik, psikis, dan kognisi penampil kemarin, Namun tidak ada rasa enggan terbersit, tak ada kepongahan senioritas, yang tersampaikan hanya ekspresi kebersamaan tulus dalam menampilkan pertunjukan seni. Di tengah maraknya berita kekerasan yang melibatkan murid-murid di dalam satu sekolah, penampilan murid-murid Sekolah Cikal Serpong menawarkan suatu oase dalam metode pendidikan karakter asih-hormat kepada rekan peserta didik satu sekolah lintas-jenjang, dan lebih jauh kepercayaan diri dalam berekspresi jujur di panggung.

Keseimbangan Etiket dan Kepolosan Bahasa Tubuh

Dalam sebuah unggahan berita di situs daring musik klasik classic.fm pernah dimuat suatu berita mengenai seorang musisi klasik yang meminta seorang ayah untuk membawa anak 4 tahunnya keluar dari ruang konser, setelah anaknya batuk. Fakta bahwa anak tersebut kemudian diam tidak melembutkan hati sang musisi dari ketegaran stigmanya. Stigma bahwa panggung musik seni bukanlah untuk konsumsi anak kecil.

Jika memang demikian, lantas bagaimana kasus Beethoven dan Mozart, yang semuanya sudah merasakan panggung sejak belum mencicipi usia SD Senior?! Dan stigma ini sukses dipatahkan oleh Sekolah Cikal dalam pertunjukan kemarin. Sebagian besar porsi pertunjukan dipegang oleh murid pra-sekolah hingga kelas 1. Entah itu menyanyikan lagu tokoh Anagata, berakting sebagai tubuh prajurit VOC di tengah tawa polos penonton, hingga berusaha bergerak mengikuti runutan dan irama musik hip-hop, bahasa tubuh para murid menyampaikan keseimbangan antara komitmen tampil dan kepolos-luwesan anak usia SD Dasar (Pra-Sekolah – SD Kelas 3). Keseimbangan ini yang menurut kritikus pedagogi dan seni, Ken Robinson, sering hilang dari produksi-produksi musikal Sekolah Dasar.

Di luar penampilan panggung, pendidikan sopan-santun/etiket penampil dalam persiapan tampil juga patut diacungi jempol. Selama persiapan hingga gladi resik, hanya penampil berusia 2-3 tahun yang didampingi langsung orang tua. Berarti untuk penampil usia 3-4 tahun sudah dibiasakan mandiri dan paham alur panggung. Selama pertunjukan hal ini menjadi semakin ketat dengan diterapkannya ruang belakang panggung steril sebagaimana pertunjukan orang dewasa. Namun demikian para penampil balita tersebut tetap disiplin dan dengan kooperatif mampu mengikuti tuntutan alur penampilan (termasuk masuk sesuai barisan dan menunggu giliran di belakang panggung). Tidak ada tangis rewel, tidak ada keluh kesah, dan sebagaimana menonton konser pada umumnya, hanya raut puas dan tawa bahagia yang terpancar dari para penampil saat mereka turun panggung. Sebuah kerapihan pengelolaan psikologi penampil, dan dalam kasus ini psikologi anak balita (2, 3, dan 4 tahun).

Rekonstruksi Warisan Budaya

Alm. sastrawan Subagyo Sastrowardoyo mengingatkan bahwa budaya baca harus diseimbangkan dengan budaya tulis. Pembacaan warisan karya sastra harus berjalan selaras dengan pembuatan karya baru yang terinspirasi karya tersebut. Budaya baca tanpa budaya tulis akan menghasilkan generasi yang disebut Subagyo sebagai zombie tradisi. Mati menghisap warisan-warisan adat lama, tanpa pijar kreasi dan nafas inovasi.

Di tengah maraknya kemudahan mengakses dokumen musik pengiring untuk lakon-lakon adaptasi luar, Sekolah Cikal mengambil langkah budaya yang kritis, mereka membuat musik mereka sendiri. Penting dicatat bahwa lakon ini diadaptasi dan dikarya sendiri oleh awak Sekolah Cikal Cilandak, Ari Wibowo, dengan musik digarap langsung oleh pengampu Seni Musik Cikal Serpong, Roby Nur Abadi, dan lirik oleh Wakasek Cikal Serpong, Puti Hamid. Sebuah teladan yang (dalam pandangan pribadi sebagai sesama kolega pengampu Seni Musik di sekolah umum) menjadi idaman sekolah lain, di tengah tuntutan kurikulum, pengajaran, masih bisa berkarya kreatif dan orisinil. Tidak hanya bagi murid, tapi bagi Indonesia dan Nusantara secara luas.

Walau iringan musik masih menggunakan rekaman, namun musisi yang terlibat juga tetap murid Cikal. Mengombinasikan kombinasi alat langsung dan synthesizer, pertunjukan kemarin mampu mengakomodir pilihan bermusik murid sembari memelajari karakter iringan khas Gamelan Bali. Ke depannya mungkin hanya menunggu waktu bahwa Cikal Serpong akan menyusul konsistensi kakaknya, Cikal Cilandak yang senantiasa menampilkan langsung ansambel Gamelan Bali sekolah dalam tiap ragam penampilan seni musik.

Percaya Diri Menatap Masa Depan

Mengingat umur Sekolah Cikal Serpong yang belum ada satu dasawarsa, keberanian untuk mempercayakan anak balita tampil di dalam sebuah panggung musikal kolaboratif dengan tingkat etiket penampilan musik seni adalah bagaikan terbitnya mentari musikalitas di Indonesia. Lebih daripada teknik (membaca) musik, kemauan untuk disiplin, tekun, dan di saat bersamaan menikmati proses latihan musik dan latihan pertunjukan musik kolaboratif adalah fondasi pembentukan musisi yang peka dan santun pertunjukan.

Tidak sedikit keluhan dari praktisi musik seni bagaimana praktik jam karet, kemalasan latihan (pribadi dan grup), masih menjadi makanan sehari-hari di dunia musik seni Indonesia. Dan dari Playground of Bali ini kita mulai menemukan secercah harap akan pendidikan karakter bermusik yang bisa menyebar, menular, dan kelak kita petik buahnya.

Akhirul kalam, proficiat dan sukses selalu, Sekolah Cikal Serpong. Terima kasih atas pencerahan pedagogi seni pertunjukan musikal kolaboratif dan lintas umur di lingkup sekolah. Dinanti karya-karya selanjutnya.

Iklan
About JC Pramudia Natal (2 Articles)
Educator and Musician. I have been teaching and educating since 2001. My field mostly cover Humanities, majoring in Literature and Art and minoring in Music Performance. In my spare time outside of teaching i play piano, sing in a choir, read books, and sometimes write column or essay.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: