Kabar Terkini

Kacamata Kuda Musisi: Memprihatinkan


Pada masanya dahulu musisi adalah kalangan terpelajar. Mereka adalah kalangan terdidik dan terlatih dengan kemampuan literasi yang tinggi dibandingkan sekitarnya. Namun kini musisi sering menjadi profesi yang terkhususkan yang menyebabkan pelakunya sempit pikir yang mematikan, dan ini sungguh terlihat di kalangan musisi klasik yang kini hanya menjadi kalangan terlatih, mampu membaca bahkan not balok sekalipun, namun sulit memandang jauh.

Musisi lahir sebagai kalangan yang berbeda dari kebanyakan. Ketajaman rasa menjadi keahlian mereka dan kemampuan bermusik menjadi keterampilan mereka. Tidak sedikit dari mereka adalah kalangan terpelajar yang memiliki akses akan literatur dan kesusastraan. Dari berbagai peradaban kuno dari Mesir, Mesopotamia, Yunani hingga Tiongkok, musisi memegang peranan yang penting di masyarakat dan mereka menjadi kalangan yang terpelajar yang kala itu terpisah dari kelompok kebanyakan orang yang buta huruf. Tidak jarang mereka adalah kalangan terhormat dengan kedekatan pada kekuasaan baik keagamaan maupun pemerintahan.

Meski tidak terbatas pada seniman terpelajar dan kalangan istana, praktek bermusik pun hadir di berbagai pelosok daerah dengan keseniannya yang bercampur dalam keseharian penduduk. Peran musisi pun tidak menjadi monopoli kalangan tertentu namun juga berbaur dalam masyarakat. Dalam hal ini olah rasa dalam kehidupan sosial menjadi sungguh hidup. Musik menjadi sarana pemersatu baik dalam ritual, maupun dalam kegiatan sehari-hari dan peristiwa khusus.

Namun kini musisi klasik di Indonesia kini tidak menjadi keduanya, tidak terpelajar dan juga tidak tentu bersifat sosial. Tidak sedikit yang berada dalam kegamangan dan hidup berkacamata kuda, asyik pada kehidupannya sendiri tanpa ada sentuhan pada aspek-aspek yang dulu menjadi nilai tambah seorang musisi. Musisi pun direduksi menjadi kefasihan membaca partitur dan keterampilan motorik bermain musik. Keindahan pun dipasung hanya sebatas kemampuannya mencipta dan membunyikan suara. Tidak jarang yang menjadi spesialis instrumen dan bahkan tidak mampu mengapresiasi bahkan musik-musik jenis lain. Tak ayal, musisi menjadi miskin. Bukan dalam hal uang, namun dalam hal rasa, pemikiran dan kemasyarakatan.

Contoh yang terjadi adalah ketika Kemendikbud meluncurkan program baru mereka Seniman Mengajar yang mengajak seniman, termasuk pemusik, untuk menjangkau daerah terdepan, terpencil dan tertinggal (3T) mengajar dan berkolaborasi dengan seniman setempat. Program ini menjadi inisiatif untuk mengembangkan seniman baik seniman yang berada di pusat dan kantong-kantong kreatif Indonesia maupun seniman dan masyarakat yang berada di luar. Meski dengan pro dan kontra (sebagaimana dipaparkan di sini), program ini memiliki tujuannya sendiri yang mulia. Meski demikian yang cukup mengagetkan adalah respon beberapa musisi klasik yang saya temui akan program ini yang menunjukkan betapa musisi klasik kita berkacamata kuda.

Jawaban salah seorang musisi lulusan luar negeri dan kebetulan adalah seorang pebiola tangguh menunjukkan betapa kacamata kuda itu hadir. Pertanyaan pertama yang muncul ketika diskusi program ini mengemuka adalah ‘Gimana ya cara ngajarin mereka bermain biola?’ dan ‘Mereka apakah bisa membaca not?’. Hal ini menunjukkan betapa sempitnya perspektif beberapa musisi klasik menanggapi program ini yang sebenarnya bukan permasalahan instrumen tapi pada interaksi budaya dan musik yang dimungkinkan. Hal ini menjadi gejala yang sangat jelas akan perspektif kacamata kuda yang hadir.

Jawaban yang lain dari seorang pemusik lain yang kebetulan berkewarganegaraan asing adalah apakah pemerintah menyediakan instrumen musik klasik Barat yang akan digunakan untuk mengajar musik. Pertanyaan ini pun juga mengungkap perspektif yang khusus yakni bahwa kolaborasi dan mengajar musik tergantung dari instrumen yang digunakan. Apabila tidak ada instrumen tersebut, seakan program kolaborasi dan mengajar ini tidak dapat dilakukan sama sekali.

Dalam hal ini kita dapat melihat bahwa musik sebagai sebagai praktek budaya memiliki kekhasannya masing-masing. Musisi klasik dengan muatan budayanya yang khas cenderung mengeneralisir kebutuhan pendidikan musik melalui kacamata mereka. Pun rendahnya elemen improvisasi dari praktik musik ini menyebabkan interaksi musikal secara spontan dalam kolaborasi budaya yang biasanya terbangun secara lisan menjadi hal yang cukup sulit. Musisi klasik pun sudah menjadi korban proses division of labour yang menciptakan tenaga kerja khusus tanpa kemampuan dan wawasan yang luas dalam berkesenian. Mereka tercetak menjadi spesialis yang memandang dengan kacamata kudanya sendiri, seninya, musiknya, hingga instrumennya sendiri.

Tentu saja kiprah musisi klasik Indonesia yang berkontribusi untuk program bertemakan sosial seperti Seniman Mengajar ini masih ditungguh. Karenanya, musisi klasik pun perlu secara aktif menanggalkan kacamata kudanya dan lebih berdaya memaksimalkan berbagai potensi yang ada di sekitarnya.

Iklan
About mikebm (1289 Articles)
An arts journalist, a conductor, an educator, a young arts manager whose passion drove him to leave a multinational IT cooperation to study Arts Administration and Cultural Policy in London and went back to Indonesia to build the scene there.

1 Comment on Kacamata Kuda Musisi: Memprihatinkan

  1. Ini membuka pikiran banget Kak. Terima kasih share infonya (agak gak nyangka juga pas baca ini, ternyata realita seperti itu).

1 Trackback / Pingback

  1. Adakah Musisi Klasik Murni di Indonesia? – A Musical Promenade

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: