Kabar Terkini

Visi Anies-Sandi untuk Kesenian Jakarta Baru


Setelah pengumuman hasil hitung cepat pilkada DKI Jakarta dan pasangan calon gubernur dan wakil gubernur Anies Baswedan dan Sandiaga Uno ditetapkan sebagai pemenang, sudah selayaknya kita kini melongok apa saja yang menjadi visi dan janji kedua tokoh ini untuk kesenian dan kebudayaan di Jakarta Baru yang mereka usung. Visi dan janji politik inilah yang akan menetapkan arah kebijakan kebudayaan Pemerintah DKI dan juga sedikit banyak akan mempengaruhi praktek berkesenian di ibukota.

Bersumber dari artikel detik.com berjudul 23 janji Anies Baswedan-Sandiaga Uno: KJP Plus hingga Stop Reklamasi, saya menyorot setidaknya ada beberapa arahan yang mungkin akan mempengaruhi kebijakan budaya dan kesenian yang inheren di kota Jakarta dan mari kita sikapi bersama analisis secara umumnya.

15. Mengaktifkan kembali komunitas-komunitas di Jakarta melalui kegiatan pengembangan kebudayaan, kesenian, olahraga, Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) dan budaya membaca melalui Program Taman Maju Bersama, yaitu merevitalisasi taman-taman yang ada, membangun taman-taman baru dari wilayah pinggiran Jakarta, serta membangun Taman Pintar (Science Park).

Anies-Sandi mengutamakan keaktifan komunitas kebudayaan dan kesenian dalam menghidupkan geliat budaya dan seni di Jakarta. Perannya sendiri lebih kepada penyediaan ruang publik terbuka hijau dalam bentuk taman kota. Fokusnya lebih kepada ruang publik terbuka, seperti taman kota yang dapat digunakan bersama oleh para penggiat seni. Yang mungkin menarik adalah janji pasangan ini untuk menghidupkan taman yang telah ada dan berfokus pada penyediaan ruang terbuka hijau di daerah pinggiran. Untuk sementara nampaknya pembangunan pusat kebudayaan berbasis ruang tertutup dan teknologi masih belum berada dalam radar Pemda DKI yang akan datang hal ini dikarenakan pemusatan akan lebih terarah pada ruang terbuka hijau.

Dalam strategi ini, sengat rentan akan gesekan dengan sektor privat yang umumnya telah memegang tanah-tanah di wilayah Jakarta. Pembebasan lahan pun perlu dengan berani dilakukan, ataupun negosiasi kerja sama yang lekat dengan citra yang dibangun pasangan ini harus dilaksanakan dengan mulus untuk penyediaan lahan. Alternatif lainnya adalah penggunaan lahan-lahan milik pemerintah DKI Jakarta dan mengalihfungsikannya sebagai ruang terbuka hijau.

16. Membangun dan merevitalisasi pusat-pusat pengembangan kebudayaan, antara lain dengan:
(a) Membangun Taman Benyamin Sueb sebagai pusat perawatan dan pengembangan kebudayaan Betawi dan pusat interaksi lintas-komunitas, yang di dalamnya berdiri Museum Kebudayaan Betawi.
(b) Menyelamatkan dan merevitalisasi Pusat Dokumentasi Sastra HB Jassin dengan melakukan digitalisasi seluruh koleksinya, profesionalisasi pengelolaannya serta memperlayak sarana dan prasarananya.
(c) Menjadikan Jakarta sebagai pusat kebangkitan film nasional melalui sinergi dengan semua pemangku kepentingan dalam kerja kreatif sinematografi dan industri film.

Kebudayaan Betawi memang menjadi sebuah lokus kebudayaan yang unik. Membangun Taman Benyamin Sueb dan Museum Kebudayaan Betawi berpotensi menjadi showcase kebudayaan Betawi (tradisi) yang memang secara perlahan ditinggalkan. Meski demikian, aspek kosmopolitan (percampuran beragam budaya: Sunda, Belanda, Arab, Cina) dari kebudayaan Betawi mampu menjadi preseden kebhinekaan kebudayaan urban ibukota yang direngkuh saat ini meski sempat terkoyak dalam pilkada lalu. Bagaimana operasional dan branding dari Taman Benyamin Sueb ini akan sangat berpengaruh dengan citra DKI Jakarta yang ramah akan keberagaman dan keterbukaan lintas komunitas, sekaligus berpihak bagi budaya lokal.

Pusat Dokumentasi Sastra HB Jassin memang dalam kondisi yang memprihatinkan. Dan perlu tindakan yang berani untuk segera menyelamatkan gedung, koleksi dan organisasi ini. Pasalnya yang saat ini menjadi halangan adalah PDS HB Jassin kini dibina oleh komunitas yang tidak berada di bawah Pemda sehingga mengandalkan dana hibah yang tidak tentu jumlahnya. Karena skalanya yang masif, perlu niatan besar dari pemerintahan Anies untuk mengambil alih pengelolaan (nasionalisasi) PDS tersebut dan menetapkan anggaran tetap untuk pengoperasian dan revitalisasi. Opsi lain adalah menggelontorkan dana hibah yang tergolong besar dan masif untuk PDS yang tentunya harus dimonitor dengan seksama dan ketat dan membiarkan PDS secara mandiri mengelolanya. Cara ini mungkin dilakukan namun Anies perlu menembus beberapa barikade peraturan daerah untuk melakukan hal ini.

Menjadikan Jakarta sebagai pusat perfilman nasional memerlukan rencana strategis yang harus segera disusun dan dibangun baik dari segi kesiapan infrastruktur, tata kehidupan kota, para pelaku dan pemangku kepentingan, termasuk di ranah nasional. Inisiatif ini adalah sangat baik, mengingat Indonesia adalah negara dengan afinitas perfilman yang teramat tinggi dengan pasar yang masih didominasi konsumsi film impor.

17. Menyelenggarakan festival olahraga dan kesenian Jakarta sepanjang tahun untuk mengembangkan pembinaan olahraga dan kesenian berbasis komunitas.

Saat ini, Administrasi DKI di bawah Ahok mementingkan penyediaan fasilitas gedung di dalam pengelolaan Taman Ismail Marzuki dan mempersilakan komunitas untuk memakainya. Namun pendekatan Anis nampaknya akan mengutamakan campur tangan Pemerintah Daerah sebagai penyelenggara dan tidak lagi sebagai administratur yang berdiri dan hanya mendukung di belakang. Dalam hal ini, keahlian dari administrasi Anies untuk ikut terjun sebagai penyelenggara yang paham akan perkembangan dan kebutuhan kesenian dan olahraga sangat diperlukan.

Pengalaman selama ini, Pemda seringkali dianggap tidak memiliki kapasitas yang tepat untuk aktif terlibat dalam sektor seni sehingga hadir Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) yang berdiri sejak masa Ali Sadikin sebagai mitra gubernur yang terdiri dari seniman-seniman ibukota untuk menjamin independensi seni dan memahami seluk-beluk sektor budaya. Administrasi Jokowi dan dilanjutkan dengan Ahok telah menarik diri dari penyelenggaraan aktivitas budaya yang sebelumnya dinilai kurang efektif dan tepat sasaran. Apabila Pemda diproyeksikan kembali sebagai penyelenggara dan pemilik hajat, Pemda perlu memastikan bahwa acara yang disusun sesuai dengan standar internasional dan bukan sekedar ‘upaya optimalisasi penyerapan anggaran’ tanpa target jelas sebagaimana terjadi pada administrasi sebelum tahun 2012 di Jakarta.

Lain daripada itu, peran aktif komunitas dalam kolaborasi dengan Pemprov perlu dirumuskan secara lebih jelas. Administrasi Ahok lebih memilih untuk menjaga jarak dari komunitas dengan lebih berperan lewat penyediaan fasilitas fisik, dan melibatkan DKJ sebagai kurator. Apabila Anies menghendaki kerja sama yang lebih erat dan lebih luas, berarti koridor antar lembaga dan komunitas yang ada perlu lebih jelas dirumuskan. Dalam perspektif lain, Anies-Sandi memiliki ruang yang lebar untuk menciptakan aktivitas kedinasan yang sungguh mengena bagi warga Jakarta.

18. Menjadikan Jakarta sebagai Kota Hijau dan Kota Aman yang ramah, sejuk dan aman bagi anak, perempuan, pejalan kaki, pengguna jalan, dan seluruh warga; menggalakkan kegiatan cocok tanam kota (urban farming); melakukan audit berkala keamanan kampung; serta memperluas cakupan dan menperbaiki kesejahteraan petugas Penanganan Prasarana dan Sarana Umum (PPSU).

Jakarta Kota Hijau dan Kota Aman memungkinkan lebih banyak kegiatan seni dan budaya di ruang-ruang publik. Dengan kota yang hijau dan aman, beragam kegiatan seni akan mampu dihidupkan, dan warga pun merasa nyaman untuk menjelajah kota bahkan di waktu malam. Peran serta aparat perlu ditingkatkan namun juga perlu dipastikan bahwa rasa aman tersebut dibangun untuk seluruh warga Jakarta. Aksi kejahatan, premanisme, pelecehan pada perempuan dan lingkungan yang tidak ramah anak memang masih menjadi persoalan bagi warga Jakarta. Ahok selama ini menyatakan bahwa ibukota akan dihiasi oleh CCTV untuk keamanan warga, namun kurang berhasil menginformasikan tujuan besar dari peningkatan upaya keamanan tersebut.

Di sisi lain, dapat disimpulkan bahwa saat ini pembangunan gedung pertunjukan memang belum menjadi prioritas bagi pasangan gubernur dan wakil gubernur terpilih. Meski demikian, hadirnya kota yang aman dan hijau adalah solusi alternatif bagi penyediaan fasilitas seni dan budaya dan seniman pun perlu mempertimbangkan lebih jauh penggunaan ruang ini secara optimal.

22. Membangun pusat-pusat pariwisata, tempat-tempat bersejarah dan pusat-pusat kegiatan warga sebagai tempat yang ramah, aman dan sejuk bagi anak, lansia dan warga difabel.

Aksesibilitas memang masih menjadi pekerjaan rumah yang besar bagi kota Jakarta. Perhatian untuk aksesibilitas memang harus dipikirkan lebih jauh terutama untuk sarana umum dan destinasi tujuan wisata. Selain itu persoalan aksesibilitas adalah persoalan yang harus didesain secara menyeluruh dari hulu ke hilir. Pusat pariwisata dan tempat-tempat bersejarah (sebagai lokus budaya) dapat dirancang kembali untuk memenuhi prasyarat aksesibilitas, baik dari sisi penyampaian konten maupun fasilitas pendukung seperti toilet dan lift/tangga. Tapi upaya ini juga harus didukung oleh prasarana umum yang juga aksesibel untuk anak, lansia dan difabel seperti kendaraan umum yang nyaman, trotoar yang ramah untuk pejalan kaki, fasilitas umum yang memikirkan akses bagi difabel. Pekerjaan ini menantang, terutama untuk membongkar mindset warga secara keseluruhan, karena persoalan akses ini memang harus digarap oleh seluruh elemen masyarakat dimulai dari desainer tata kota, pengusaha angkutan umum hingga pengelola lokus budaya tersebut.

Hal terutama yang perlu dibangun saat ini oleh Gubernur terpilih Anies Baswedan dan Sandiaga Uno adalah iklim keterbukaan dan toleransi yang menjadi dasar iklim berkesenian yang sehat dan demokratis. Kekhawatiran yang mungkin muncul adalah kuatnya relasi gubernur dan wakil gubernur terpilih ini dengan kelompok keagamaan yang sering dicap anarkis dan kerap menggunakan pengerahan massa dan kadang kekerasan sebagai bentuk unjuk kekuatan, terutama kepada organisasi yang berlainan pandang dengan mereka. Hal ini sedikit banyak sempat membuat pelaku budaya dan kesenian berpikir dua kali untuk mendukung pasangan ini, terutama karena rekam jejak beberapa organisasi yang mendukung pasangan ini yang dinilai kerap mencederai kebebasan berekspresi. Anies sempat mengutarakan akan menyiapkan wisata malam yang Islami yang dapat menjadi alternatif geliat kebudayaan yang ada saat ini. Namun di sisi lain perlu dipikirkan lebih jauh dialog budaya yang mungkin harus diambil oleh pasangan ini untuk menciptakan atmosfer berkesenian yang sehat dan mengutamakan kebebasan bereskpresi.

Secara umum, agenda dan visi Anies-Sandi sudah tergolong menarik untuk dunia kesenian dan budaya. Pun, langkah-langkah besar pengelolaan kesenian dan kebudayaan Anies yang sempat menjadi Menteri Pendidikan dan Kebudayaan akan sangat menarik untuk disimak selama 5 tahun mendatang.

Iklan
About mikebm (1289 Articles)
An arts journalist, a conductor, an educator, a young arts manager whose passion drove him to leave a multinational IT cooperation to study Arts Administration and Cultural Policy in London and went back to Indonesia to build the scene there.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: