Kabar Terkini

Tour de Force Cello-Piano bersama Dani-Harimada


Gesekan cello berkumandang dengan penuh tenaga, menghantar setiap nada dalam garapan yang penuh bergairah. Kalimat teruntai dalam geram dan lirih, berselang. Ekspresi menjadi junjungan yang utama dalam upaya membawa penonton menjelajah ruang suara. Denting piano membalut dengan erat, penuh dengan sensitivitas rasa yang mencipta beragam nuansa. Nafas dan ketepatan saat di atas papan nada menjadikan resital semalam penuh dengan citarasa.

Inilah resital cellis Dani K. Ramadhan dan pianis Harimada Kusuma semalam di Jakarta Conservatory of Music yang menjadi yang ketujuh dalam rangkaian resital menyambut ulang tahun kelimabelas sekolah musik di bilangan Jakarta Selatan ini. Resital tour de force ini mengetengahkan keragaman karya yang masing-masing menjelajah karya-karya monumental dari beragam komponis dari sensitivitas Debussy, ambiguitas Shostakovich dan melankoli Chopin.

Bergiliran Sonata for Cello and Piano dari Debussy, Sonata for cello and piano in d minor, op.40 dari Shostakovich dan Cello sonata in g minor, op.65 karya Chopin dibawakan malam itu, sembari mengantar penonton pada berbagai cita rasa musik Eropa dari tiga periode yang berbeda. Membawakan tiga karya sekelas sonata dalam sebuah resital tentunya sebuah pilihan yang ambisius, namun malam itu nampak bahwa keseluruhan karya dibawakan dengan baik.

Harimada yang hingga kini terus membina karir sebagai pianis kolaboratif di Indonesia dan Belanda mampu membingkai seluruh karya dalam keberanian interpretasi sekaligus mengayomi permainan cello Dani menjadi suguhan yang mengesankan. Ketelitiannya dalam merangkai nada dan kejeliannya menggarap setiap karya luar biasa. Ia mampu memberi ruang yang cukup untuk solois, namun di beberapa tempat mampu tampil ke tengah panggung dengan daya yang luar biasa. Tidak heran, ia mendapat predikat cum laude dalam studinya di konservatori musik bergengsi Belanda, Conservatorium van Amsterdam dan mengikuti kelas dari pianis kolaborasi ternama dunia Rudolf Jansen.

Dani sendiri menunjukkan kelasnya sebagai salah satu cellis muda kebanggaan Indonesia. Permainannya yang cemerlang dengan ketepatan intonasi yang luar biasa diikuti dengan gelora musikalitas yang menggelegak mengantarnya sebagai salah satu cellis muda yang sangat menjanjikan. Bakatnya ditemukan di Bandung dan baru mulai memegang instrumen cello sejak tahun pertama perkuliahannya di Universitas Pendidikan Indonesia, Dani sebenarnya tergolong terlambat belajar instrumen cello di mana banyak cellis dunia memulai pendidikan cellonya sekitar 10 tahun lebih awal. Meski demikian, Dani melesat sebagai cellis andal dan dipercaya sebagai prinsipal dalam beberapa orkestra terkemuka ibukota. Ia pun kemudian mengikuti berbagai masterclass dari cellis dunia yang mampir ke Indonesia yang membuatnya berkembang lebih jauh. Antusiasme dan hasrat bermusiknya yang begitu kental nampak terlihat dalam eksekusi permainan yang mantap. Antusiasme inilah yang menjadi magnet bagi penonton untuk terus mengikuti arah gerak musik yang dibawakannya. Cellonya bernyanyi dengan kontras dinamika yang menggugah disertai konsistensi yang bersumber pada staminanya yang tiada kunjung habis.

Meski demikian, terlihat dengan kolaborasi kedua musisi ini menunjukkan perbedaan pendekatan yang lumayan jelas semalam. Pendekatan Harimada yang piawai dan transparan dalam memainkan piano – bagaikan sebuah lemari kaca mampu memperlihatkan kekayaan setiap musik dengan kematangan yang unggul. Mada pun mampu mengimbangi Dani di sisi musikalitas maupun gairah bermusik, namun dapat mempergunakannya secara efisien untuk efek yang maksimum bagi penonton.

Di sisi lain, Dani dengan segenap atletisme, musikalitas dan hasrat musik yang luar biasa nampak tidak mampu menutupi keterbatasan yang memang hadir di bagi banyak musisi berbakat luar biasa seperti dirinya di Indonesia. Permainannya yang sarat musikalitas sayangnya hadir tanpa kendali yang kuat yang bersumber dari kesadaran teknik bermain cello yang akademis dan sarat eksposur budaya. Pendekatan Dani dalam mengeksekusi nada seperti pemanfaatan grip, glissando, penggunaan bow dan bahkan vibrato bersumber pada musikalitasnya yang membuncah semata dan bukan pemahaman mendalam akan keterkaitan teknik, interpretasi dan kesadaran historis musik yang dibawakan. Alhasil pendekatan berbagai karya ini mengundang decak kagum sekaligus tanya yang menggelitik telinga penulis. Hal ini semakin nyata ketika resital memasuki encore dari Schubert dan Rachmaninoff malam itu. Keletihan dan semakin banyaknya varian musik yang dibawakan semakin memperjelas dugaan ini.

Meski demikian, sambutan penonton sedemikian luar biasa. Tiga encore yang dibawakan berturut-turut setelah program tiga sonata yang sedemikian melelahkan membuktikan sambutan di dalam auditorium Jakarta Conservatory of Music ini. Malam yang indah dan membuktikan bagaimana Indonesia berlimpah musisi-musisi berbakat dengan kegairahan yang luar biasa.

 

Iklan
About mikebm (1236 Articles)
An arts journalist, a conductor, an educator, a young arts manager whose passion drove him to leave a multinational IT cooperation to study Arts Administration and Cultural Policy in London and went back to Indonesia to build the scene there.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: