Kabar Terkini

Tribut Kepada Komposer Perempuan: Resital Yang Mengemansipasi


Ich sagte nicht, “ich liebe dich”
Doch eine Rose brach ich scheu

Untaian kata tersebut masih terngiang meski hampir seminggu lalu terdengar. Timbre mezzo yang liris bernafas bersama dengan kehangatan tonalitas piano. Di dalam ruang dan waktu, musik menjalankan fungsinya sebagai pemersatu. ‘A Wider World – Tribute to Women Composers’ menjadi sebuah sajian apik dalam resital Yasashi Evelyn dan Hazim Suhadi di Balai Resital Kertanegara Senin sore lalu.

Membuka penampilan dengan Impromptu karya Germaine Tailleferre, karya solo piano ini memberikan suasana yang nyaman dan mempersiapkan telinga pendengar untuk dikejutkan dengan banyak progresi akor dan atmosfer yang kaya di berbagai karya setelahnya. Adalah Clara Schumann dengan Sechs Lieder Op. 13 yang tidak saja membuat Sashi dan Hazim disukai, melainkan terutama sang komposer sendiri. Penulis cukup yakin, Clara Schumann menjadi lebih dicintai oleh para penggiat seni tarik suara yang hadir sore itu. Sampai titik ini, kedua musisi yang hendak melanjutkan studi ke Eropa ini dapat dikatakan berhasil menjalankan tugasnya.

Selanjutnya giliran komposisi piano solo dari Clara memberikan agresivitas yang tetap manis lewat Romances Op. 21 bagian III Agitato. Dengan pemilihan penggunaan pedal yang agak basah sepanjang penampilan, Hazim memperkuat warna walaupun di beberapa tempat penulis merasa perlu diminimalisir. Babak pertama ditutup dengan 2 Songs karya Rebecca Clarke, seorang alumnus Royal College of Music, London, almamater Sashi.
Giliran Amy Beach, komponis berkebangsaan Amerika Serikat yang paling memikat dengan harmonisasi yang limpah di babak kedua. Four Songs Op. 51 merupakan satu set yang unik, yang mana lagu kedua dan tiga dinyanyikan oleh suara Bariton. Pepi, sebutan akrab Rainier Revireino, dengan melankolis membawakan nomor ini. Suaranya yang kokoh disertai pengucapan konsonan yang eksplosif tampak mendeskripsikan kata-kata yang dinyanyikan.

Komponis perempuan lain yang disajikan berasal dari Swedia, Elfrida Andrée dengan 3 Songs Op. 8. Keberagaman bahasa, kekaguman akan keindahan alam, serta kisah percintaan yang unik diceritakan lewat musik dan dibawakan dengan intim dan suara yang natural. Agathe Backer Grøndahl, komposer dan pianis Norwegia menutup program sore itu lewat duet Sashi dan Pepi dalam 2 Duets Op. 40. Penjelasan karya-karya yang dibawakan dengan santai serta translasi yang disediakan di layar menghantar pada pemadatan ekspektasi dan imajinasi penonton guna menangkap penghayatan penampil.

Seperti tema resital kali ini – A Wider World – Sashi, Hazim, dan Pepi telah melebarkan pandangan berseni dengan menunjukkan karya komposer perempuan yang segar, berbobot, dan indah. Ketidaktahuan masyarakat ataupun budaya patriarki yang dirasakan para komposer waktu itu belum sepenuhnya absen dari realita sekarang. Masih dalam suasana peringatan Hari Kartini, musik klasik di Indonesia harus bisa menghilangkan bias-bias atribut seks, gender, serta batasan lainnya. Ketika Kartini mengemansipasi lewat surat, Sashi dan teman-teman telah melakukannya lewat nyanyian.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: