Kabar Terkini

Bandung Phil, Citra Kabupaten dan Konser Terlambat 70 Menit


Bandung Philharmonic ternyata bukan hanya milik Kota Bandung saja, tetapi juga Kabupaten Bandung yang kemarin merangkul orkestra muda ini di Soreang, ibukota kabupaten dengan mengadakan konser di Gedung Budaya Sabilulungan kebanggaan Kabupaten ini. Tapi apabila konser terlambat 70 menit, citra kebanggaan apakah yang ditawarkan untuk seluruh Indonesia?

Sejatinya konser bertajuk ‘Beethoven’ ini mengetengahkan kekuatan Bandung Philharmonic yang luar biasa. Sebagai sebuah orkestra berusia kurang lebih satu tahun yang digagas empat pemuda Bandung, orkestra ini tumbuh dengan pesat. Digawangi banyak musisi muda, orkes ini dipimpin oleh duo direktur musik asal Amerika Serikat Robert Nordling dan Michael Hall. Selain itu, konser kemarin juga didukung Trio Arbos asal Spanyol dengan reputasi mendunia yang tampil memikat. Bandung Philharmonic juga didukung oleh beberapa musisi asal Thailand yang melengkapi barisan musisi orkestra Indonesia. Kesemuanya berhasil menyajikan musik Beethoven yang bergairah, hidup dan menjadikan Bandung Philharmonic sebagai salah satu orkestra di Indonesia yang patut disegani. Program pun tidak main-main Leonore Overture, Triple Concerto Op.56 dan Symphony no.6 op.68 – kesemuanya karya L.v. Beethoven – dimainkan. Juga ditampilkan karya baru dari komponis Marisa Sharon Hartanto Beethoven di Bandung yang merefleksikan seorang Beethoven, komponis yang menyukai alam, menjelajah panorama Bandung. Penonton pun tidak hanya berasal dari lokal Kabupaten Bandung, tetapi dari Kota Bandung, Jakarta dan banyak pecinta musik berkebangsaan asing yang hadir.

Namun apa jadinya apabila konser yang sedemikian apik itu dicoreng oleh penyelenggaraan yang mengejutkan. Tertulis di atas poster dan buku acara, konser dimulai pukul 18:30 namun ternyata konser pun hingga 19:40 belum juga dimulai karena masih berselang dengan kata pengantar dan sambutan dari Bupati Bandung. Mengenal budaya Indonesia, memang penyelenggara tidak bisa terlalu ketat dengan waktu. Terlambat 10-20 menit adalah suatu kebiasaan bertoleransi yang dapat diterima dan menunjukkan kepedulian pada kondisi di Indonesia yang penuh dengan hal tidak terduga. Namun terlambat hampir 70 menit adalah yang hal yang cukup mengganggu baik bagi para undangan maupun pendukung acara sendiri, terlebih acara tidak hanya dimulai langsung dengan pergelaran musik, tapi lengkap dengan beragam protokoler dikarenakan acara ini menjadi bagian dari acara ulang tahun kabupaten Bandung.

BupatiĀ Dadang M. Naser dalam sambutannya secara ironis menyampaikan berbagai keberhasilan pembangunan yang dialami kabupaten ini selama masa administrasinya, antara lain pembangunan Science Centre, Gedung Bale Rame, dan Gedung Budaya Sabilulungan, tempat konser semalam berlangsung. Juga disinggungnya proyek pembangunan jalan tol menuju Soreang yang diharapkan mampu menarik investasi masuk ke kabupaten ini. Namun keterlambatan yang hingga 70 menit ini malah memukul kembali sambutan baik yang disampaikan sebelumnya, bahkan mengurangi kenikmatan musik yang sebenarnya disampaikan dengan luar biasa oleh kelompok orkestra. Perlu dicatat, alasan keterlambatan yang terungkap adalah menunggu Bupati untuk hadir di Gedung Budaya Sabilulungan malam itu.

Hal ini menunjukkan bahwa sekalipun secara artistik, kualitas musik yang dibawakan telah paripurna, pertunjukan dinilai sebagai sebuah kesatuan dan keterlambatan ini pun berpengaruh terhadap keseluruhan persembahan musik yang dibawakan. Keterlambatan 70 menit ini bukanlah sekedar keterlambatan, namun merupakan sebuah keputusan yang diambil oleh penyelenggara yang juga menggambarkan prioritas tata kelola seni yang diusung oleh Bandung Philharmonic. Tujuhpuluh menit yang berharga dari sekitar 700 orang yang hadir semalam atau 800 jam terakumulasi ternyata dianggap sebagai angin lalu saja, demi menunggu seorang pejabat publik yang akan memberikan sambutan. Padahal penyelenggara bisa secara cerdik menyelipkan sambutan pada waktu lain seperti jelang babak kedua dari konser.

Pun keputusan ini memberikan preseden buruk kepada para hadirin yang kabarnya berasal dari berbagai negara dan kota di Indonesia yang ingin mengapresiasi musik dan kerja keras Bandung Philharmonic. Keterlambatan hingga 70 menit ini justru menjadi bumerang bagi citra Kabupaten yang ingin menarik minat dunia bisnis lewat konser ini. Mereka yang hadir pada pergelaran kemarin adalah insan-insan bisnis terpandang Bandung, akademisi dan bahkan birokrat dari pemerintah pusat yang sudah meluangkan waktu untuk menyaksikan pergelaran orkestra yang sebenarnya secara artistik berkualitas baik ini.

Bahkan bagi basis penonton Bandung Philharmonic sendiri, Soreang – tempat penyelenggaraan konser ini, sudah tergolong jauh. Sejak didirikan awal 2016 lalu, BPhil selalu memilih Kota Bandung sebagai tempat penyelenggaraan empat konser terdahulu mereka sekaligus sebagai tempat membangun basis penonton. Soreang yang ditempuh hampir satu jam dari kota Bandung memang bukan tempat yang biasa bagi mereka, bahkan penyelenggara menyediakan tiga buah shuttle bus untuk mengantar penonton dari Bandung ke Soreang. Konser pun dengan jeli dimulai sedikit lebih awal (pk.18:30) untuk mengakomodasi waktu tempuh dan panjangnya program konser, meskipun kebetulan keesokan harinya adalah hari libur nasional. Namun sungguh disayang, para penonton yang telah meluangkan waktu dari pukul 16:00 dari kota Bandung dipaksa untuk menonton hingga lebih dari pukul 10 malam dan masih harus menempuh Soreang-Bandung di waktu malam. Jelas hal ini sungguh amat disayangkan.

Gedong Budaya Sabilulungan yang dibanggakan tersebut memang sangat menarik. Dikenal sebagai gedung pertunjukan termegah di Jawa Barat memiliki penampilan luar yang impresif. Pun ketika memasuki ruang lobby terasa, gedung yang diresmikan tahun 2014 ini cukup representatif. Ketika memasuki auditorium terasa bahwa gedung ini megah. Namun sayangnya perencanaan dan perawatan gedung ini mengundang tanda tanya. Di area balkon menjelang konser berlangsung terasa sesak dan bahkan tercium aroma rokok semerbak di barisan belakang. Banyak kursi juga tidak lagi bisa dipakai dikarenakan sandarannya patah ataupun alas duduknya rusak sehingga tidak memungkinkan untuk diduduki. Pun pintu keluar kedaruratan tidak disediakan dengan layak, terutama bagi penonton di balkon yang tanpa pintu darurat sama sekali dan hanya berbekal dua anak tangga melingkar yang harus mengakomodasi sekitar 250 orang dari 800 bangku yang tersedia di seluruh gedung.

Alhasil, sudah saatnya penyelenggara Bandung Philharmonic merefleksikan kembali siapakah yang menjadi prioritas dalam setiap penyelenggaraan mereka. Karena bagaimanapun setiap langkah yang diambil oleh penyelenggara berpengaruh langsung bagi brand dan citra Bandung Philharmonic juga seluruh pemerhati yang mendukung organisasi ini. Dan sungguh menyedihkan apabila Bandung Philharmonic mampu menembus media nasional dalam peliputan acara, berkualitas pula secara artistik, namun gagal dalam membina tata kelola yang lebih sehat.

Iklan
About mikebm (1303 Articles)
An arts journalist, a conductor, an educator, a young arts manager whose passion drove him to leave a multinational IT cooperation to study Arts Administration and Cultural Policy in London and went back to Indonesia to build the scene there.

2 Comments on Bandung Phil, Citra Kabupaten dan Konser Terlambat 70 Menit

  1. Nah itu dia…mereka berkata “Orkestra professional”, tapi bertindak sama sekali tidak professional. Terlambat bagi orang Indonesia sepertinya hal yang wajar, tapi bagi orang luar negeri, apalagi saya lihat banyak orang-orang dari Eropa, terlambat 20 menit saja sudah mengundang rasa amarah.
    Apa gunanya kata pengantar sih? Pengen pamer? Sepertinya itu kaya bagian dari politik, terselip kata-kata “pilih saya lagi periode selanjutnya”.

    Konsernya sih bagus, tapi menurut saja tidak sebagus yang “professional” yang sebenarnya. Violinnya kurang lembut, masih banyak suara kasar. Kesan style Beethoven sudah terbawa dengan bagus, tapi masih kurang megah. Mungkin karena kurang pemain, atau memang karena sengaja pemainnya dikurangkan.

    Ditambah juga…kenapa tiket VIP pilih-pilih untuk dijual? Siapa saja yang layak buat dapet “VIP” ini? Apa sengaja gitu ya para pengunjung luar disesakkan di atas balkon? Mereka yang pegang tiket reguler sebelumnya tidak boleh masuk ke area bawah. Kalau rasa yang dapat VIP itu adalah para musisi hebat, guru saya saja tidak dapat undangan.

    Yah, mengaku-ngaku orkestra professional itu rasanya gimana ya…bertindak tidak professional tapi mengaku-ngaku. Ditambah juga, “Philharmonic” itu perlu sekitar 80 orang, bukan? Buat satu buah Orchestra, tapi hanya terdapat 41 orang, apa ga kurang ya?

  2. Saya setuju dengan kak Christian Alexander. Saya rasa mereka memang belum siap untuk sepenuhnya menjadi “profesional”, karena terdapatnya persepsi yang masih sangat mungil akan pengertian “profesional” tersebut. Di luar negeri, “profesional” dalam konteks orkestra berarti mempunyai skill bermain musik yg memadai, atau bahkan tinggi, serta managerial yang memadai pula. Juga, pemain2nya seharusnya benar2 profesional yang berarti bukan mahasiswa atau bahkan anak sekolahan. Tetapi nyatanya, masih banyak pemain yg bahkan latar belakang pendidikannya bukan musik. Jadi, yg profesional itu yg bagaimana?

    maka dari itu mengapa saat lagu beethoven masih dirasa kurang jika dibandingkan dengan orkes ‘profesional’ yg sebenarnya, karena belum mempunyai skill yg cukup.

    Belum lagi jika membahas mengenai keterlambatan tersebut, sangat tidak profesional. Hal tersebut sangat tidak memghormati penonton lain yg dengan setia datang tepat waktu, dibandingkan dengan harus menunggu seorang pejabat saja yg datang terlambat tidak menghargai waktu, usaha, dan orang2 yg telah menjadikan konser tersebut terwujud.

    “Profesional” dalam persepsi yg mungil disebut tadi dalam arti ‘pemain musik yang dibayar’ Sudah. Selesai sampai disitu. Yang penting dibayar, tidak perlu mempunyai pendalaman akan musik yg cukup, skill. Sangat disayangkan.

    Tapi bagaimanapun saya mendukung kemajuan Bandung Philharmonic untuk kedepannya. Semoga sukses.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: