Kabar Terkini

El Sistema: Topeng Bobroknya Venezuela


Sejak tahun 2008, dunia musik klasik terbuai dengan hadirnya El Sistema yang berhasil luar biasa di Venezuela. Program pendidikan yang dinilai sukses dan kemudian disalin oleh berbagai organisasi di dunia ternyata kini hanya menjadi topeng kosong dari sebuah negara yang kini sedang bertikai dan diambang kebangkrutan. Program yang dipuji-puji itu ternyata hanya menjadi buah pencitraan sebuah negara yang menuju kehancuran. Bagaimana kisahnya?

Pemerintah yang mensubsidi sebuah kegiatan musik yang dikembangkan musisi dan ekonom Jose Antonio Abreu dan diperuntukkan untuk menjauhkan anak-anak dari pemukiman kumuh Venezuela dari jalanan dengan melatih mereka bermusik klasik sejak tahun 1970-an dan kemudian memiliki network lebih dari 2000 nukleus/sanggar di seluruh Venezuela, negara yang sebagian besar devisanya dihasilkan dari industri migas. Orkestra kelas dunia pun hadir dengan nama Simon Bolivar Youth Symphony Orchestra. Diawaki anak-anak dari lingkungan kumuh ini, di tahun 2008 orkestra ini menggemparkan seluruh Eropa lewat konser mereka di BBC Proms yang luar biasa. Anak muda usia remaja dari negara berkembang di Amerika Selatan ternyata secara kualitas dapat mengimbangi para profesional Eropa dengan antusiasme yang luar biasa yang melampaui rekan-rekan seusia mereka bahkan di Eropa sekalipun, tempat musik klasik berkembang.

Kesuksesan mereka yang luar biasa kemudian menjadikan program pemerintah ini wajah dari keseluruhan Venezuela. Keberhasilan mereka menjadi lambang keberhasilan rezim Hugo Chavez, seorang presiden yang karena kekuasaan dan kedekatannya dengan oligarki minyak dan bisnis sering dijuluk sebagai Godfather negara yang menghadap ke perairan Karibia ini. Simon Bolivar Symphony Orchestra dan El Sistema pun digadang sebagai keberhasilan sistem pendidikan di Venezuela melawan kemiskinan dan ketidakadilan sosial. Orkestra pun selalu sibuk dengan berbagai jadwal konser di gedung-gedung konser terbaik dunia dan menjadi duta bagi Venezuela. Keberhasilannya menjadi lambang demokrasi terpimpin dan meritokrasi yang berhasil di negara berpenduduk 32 juta jiwa ini. Setiap aktor penting El Sistema pun mendapat fasilitas yang luar biasa dari pemerintah.

Meski demikian sejalah dengan semakin turunnya popularitas Hugo Chavez dan memburuk kesehatan dan administrasi negara dengan cadangan minyak terbesar di dunia itu, pertikaian politik pun tidak dapat terelakkan. Meski demikian, El Sistema dan SBSO tetap menjadi duta negara yang efektif lewat musik. Pada saat yang bersamaan hadir pula kritik terhadap El Sistema yang diidentifikasi bagaikan sebuah kerajaan yang hierarkis dipimpin Abreu yang kedekatannya dengan rezim menjadi tidak tersentuh. Dengan keberadaan gangster dan mafia di jalan-jalan kumuh kota dan melemahnya administrasi, terlebih selepas wafatya Chavez, negara pun semakin melemah. Mekanisme politik semakin rusak dengan keinginan besar rakyat untuk turun ke jalan dan menuntut demokrasi yang lebih terbuka, mafia yang mengambil untung di air keruh dan rezim Nicolas Maduro yang terpilih secara demokratis berusaha mempertahankan kekuasaan.

Di sisi lain, petinggi El Sistema termasuk sang konduktor yang kini mendunia Gustavo Dudamel selalu bungkam akan situasi politik yang semakin memburuk di negeri. Mereka masih menikmati fasilitas terbaik negeri dan berfungsi sebagai duta yang baik dan selalu disertakan dalam kegiatan utama pemerintah yang mulai ditolak rakyatnya, sebagai alat untuk mengambil hati masyarakat. Negeri pun berangsur bangkrut dengan kini di tahun keempat Maduro, mencatat penyusutan ekonomi sebesar 37.82% selama tahun 2016. Alhasil, cadangan devisa mereka kini terendah selama 21 tahun terakhir atau hanya senilai 140 triliun rupiah yang ekuivalen dengan 2 kali APBD kota Jakarta tahun 2017. Venezuela negara yang kaya minyak itu kini terpuruk dengan angka pengangguran yang luar biasa.

El Sistema dan keberhasilan musik klasik di Venezuela menjadi topeng yang luar biasa berhasil selama beberapa tahun terakhir untuk menutupi kebobrokan negara ini. Tokoh-tokoh program yang sebenarnya memiliki koneksi, kekuatan moral dan pengaruh yang didengarkan dunia juga memilih bungkam, semakin memperparah kondisi. Banyak yang melihat bahwa bungkamnya tokoh-tokoh ini dikarenakan El Sistema bergantung sepenuhnya pada subsidi penuh pemerintah. Dengan puluhan ribu tenaga kerja musik yang bekerja di dalamnya, angkat suaranya El Sistema dan mengkritik pemerintah hanya akan menyebabkan tekanan pemerintah. Mereka lebih memilih diam untuk menyelamatkan organisasi mereka sendiri dan menjauhkan diri dari tekanan pemerintah.

Namun kondisi yang kini semakin parah akhirnya menyebabkan anak emas El Sistema, Gustavo Dudamel, yang kini memasuki tahun kedelapan memimpin Los Angeles Philharmonic dengan segudang prestasi angkat suara. Akhirnya ada juga elemen yang dekat dengan pemerintah dan melihat kondisi terkini berani dari dalam yang berani angkat suara secara terbuka. Akhirnya setelah lebih dari 3-4 tahun kondisi kritis ini, ada yang angkat suara dari El Sistema, meski Dudamel tidak mewakili organisasi, menyerukan agar Venezuela berhenti bertikai dan agar pemerintah mau mendengarkan suara rakyat yang turun ke jalan. Salah satu pemusik utama Simon Bolivar Symphony Orchestra berusia 17 tahun yang memilih untuk turun ke jalan menuntut demokrasi wafat tertembus peluru aparat di minggu ini.

Nyata bahwa keberhasilan El Sistema tidak berarti bahwa Venezuela adalah negara yang berhasil. Nyata pula bahwa seni yang unggul sekalipun masih dapat digunakan pemerintah sebagai topeng akan kebrutalan dan kegagalan rezim. Musik ternyata juga belum bisa menyambung lidah rakyat dengan pemerintah dengan interpretasi simfoni Mahler orkestra SBSO yang luar biasa.

Salah siapakah? Atau mungkin hanya kitalah yang terlalu banyak berharap pada musik?

Akankah Venzuela pulih? Dan akankah El Sistem berjaya dan sungguh menjadi kekayaan dan bukan hanya sekedar topeng pemerintah, atau deterjen yang mencuci bersih dosa-dosa rezim?

Hanya waktu yang bisa menjawab.

Iklan
About mikebm (1289 Articles)
An arts journalist, a conductor, an educator, a young arts manager whose passion drove him to leave a multinational IT cooperation to study Arts Administration and Cultural Policy in London and went back to Indonesia to build the scene there.

1 Comment on El Sistema: Topeng Bobroknya Venezuela

  1. andreasarianto // 5 Mei 2017 pukul 7:45 pm //

    The big question. Sesuatu yg cukup abstrak seperti musik memang sulit utk menjadi jawaban dari permasalahan2 mendasar sosial dan politik, harus para pelaku seninya yang bergerak mewujudkan keadilan sosial itu sendiri. Kalo nggak, ya kembali musik klasik menjadi simbol status quo doang, bukan sebagai simbol semangat kebaruan ya 😦

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: