Kabar Terkini

Edisi Ketiga Orkestra Ibukota Bersama Komposer Asal St. Petersburg


JCP 4 Mei

Dewan Kesenian Jakarta kembali menghadirkan Jakarta City Philharmonic dengan pengaba Budi Utomo Prabowo di Gedung Kesenian Jakarta setelah konser terakhirnya pada bulan Desember. Konser pada tanggal  4 Mei lalu membawakan komposisi dari dua komposer Rusia yang sama-sama tinggal St. Petersburg pada masanya, yaitu Alexander Borodin dan Nikolai Rimsky-Korsakov. Mengikuti kebiasaan dari dua konser sebelumnya, dimainkan juga komposisi dari seorang komposer Indonesia. Pada konser ini, dimainkan sebuah komposisi karya eyang Tristuji Kamal.

Konser dibuka dengan memainkan lagu Indonesia Raya diikuti dengan para penonton yang berdiri. Setelah itu orkestra memainkan komposisi dari Borodin dengan versi yang telah direvisi dan disunting oleh N. Rimsky-Korsakov dan Alexander Glazunov, yaitu Simfoni no. 2 dalam B Minor. Komposisi ini menggambarkan patriotisme Borodin selaku komposer asal Rusia. Pada gerakan pertama, simfoni dimulai dengan tema yang dimainkan dengan gagah oleh seksi gesek. Diikuti dengan permainan yang sangat responsif dari pemain tiup kayu dan pemain tiup logam. Nada-nada tema beberapa kali diulang sepanjang gerakan pertama dan sempat pada beberapa bagian tampak kurang stabil, khususnya pada suara-suara rendah di seksi gesek dan tiup logam. Semangat seluruh pemain benar-benar tercurah mendekati akhir dari gerakan pertama dan menghasilkan suara yang kuat serta kokoh untuk mengakhiri bagian pertama.

Bagian kedua dari Borodin dapat dikatakan sebagai bagian paling menantang bagi Jakarta City Philharmonic pada hari itu. Terdengar sedikit keragu-raguan dalam mengeksekusi nada pada beberapa bagian sepanjang bagian/gerakan kedua. Pengaba terlihat berusaha untuk menjaga ritme mengingat tempo yang diharapkan adalah prestissimo dan juga berusaha membuat para pemain mampu memproyeksikan suara dengan baik kepada penonton. Gerakan ketiga dan keempat yang dimainkan tanpa jeda menjadi bintang dari simfoni ini. Dimulai dengan solo klarinet pada gerakan ketiga yang kemudian diikuti dengan tremolo dari pemain gesek dengan crescendo dan decrescendo yang sangat rapi memberikan nuansa penuh ketenangan pada gerakan ketiga ini. Untaian nada-nada yang dimainkan oleh solo-solo pemain tiup kayu dengan lembut memenuhi gedung konser. Ketika memasuki gerakan empat, suasana ceria yang jauh berbeda dengan gerakan sebelumnya membangkitkan suasana. Pengaba sangat ekspresif dalam mengaba gerakan ini dan diikuti dengan permainan penuh keceriaan yang terpancar dari seluruh pemain, khususnya pemain gesek. Pemainan perkusi menunjang suasana kebebasan dan selebrasi di tengah-tengah pemain. Selesainya gerakan empat dari komposisi ini menjadi akhir yang manis untuk mengakhiri babak pertama.

Setelah jeda istirahat, penonton dibawa ke timur dengan komposisi karya Rimsky-Korsakov yaitu Syahrazad (Scheherazade), op. 35. Dari empat gerakan, hanya dua gerakan pertama yang dibawakan pada malam itu. Gerakan pertama yang diberi judul ‘Laut dan Kapal Sinbad’ (The Sea and Sinbad’s Ship) diawali dengan seksi gesek dan tiup logam yang masuk dengan berani dan dilanjutkan dengan tiup kayu. Kemudian dilanjutkan solo biola oleh concertmaster dengan proyeksi suara yang jelas ke penonton yang kemudian disambut dengan iringan harpa. Melodi selanjutnya membawa pendengar untuk masuk ke nuansa timur-tengah dengan ditunjang harmoni yang indah. Intonasi sempat menjadi problematika di tengah komposisi, namun kestabilan cepat tercipta seiring dengan berjalannya gerakan pertama.

Orkestra langsung masuk tanpa jeda menuju gerakan kedua yang diberi judul ‘Kisah Pangeran Kalendar’ (The Story of the Prince Kalendar) ditandai dengan solo biola dengan tema yang mirip dengan gerakan pertama. Pembukaan dari solo bassoon terdengar elegan yang kemudian dilanjutkan dengan oboe yang menyambut nada dari bassoon dengan mulus. Sepanjang komposisi, pengaba tampak memberikan ruang untuk para solois untuk mengeksplorasi nada-nada yang dimainkan. Tema dari gerakan yang dimainkan bergantian di masing-masing seksi sempat terdengar sedikit goyah, tetapi para pemain tampak sangat responsif dan mendengarkan rekan-rekannya sehingga pada akhirnya kekompakkan permainan terjaga.

Komposisi terakhir yang dibawakan pada malam itu adalah komposisi karya eyang Trisutji Kamal berjudul Puisi Simfoni “Kemenangan”. Komposisi ini menurut penulis sangat tepat dimainkan setelah komposisi Syahrazad yang bernuansa timur-tengah, karena komposisi karya eyang Trisutji Kamal ini membawa penonton merasakan nuansa ketimuran tetapi dengan berbagai nada pentatonis yang dimainkan. Puisi Simfoni ini menjadi primadona di malam itu dengan permainan orkestra yang stabil dan ekspresif. Suara-suara pentatonik yang khas di telinga orang Indonesia dieksekusi dengan baik oleh para pemain. Permainan suara yang menarik terjadi ketika pemain perkusi memainkan gong yang memberikan nuansa etnis  Jawa yang kental dan suara marimba yang memberikan penekanan nada-nada pentatonis yang jelas dengan mengiringi seluruh orkestra dengan sangat baik. Orkestra berhasil menggambarkan perjuangan suka-duka yang diharapkan oleh komposer dan kemenangan pada akhirnya dapat diraihnya.

Berakhirnya komposisi karya Indonesia tersebut layaknya akhir dari perjalanan seorang pelayar dari Rusia menuju ke ibukota Indonesia. Banyak tantangan yang perlu dihadapi oleh pelayar untuk mencapai tujuannya, namun hasil yang memuaskan akhirnya didapatkan dengan segala usaha yang telah dikerahkan.

IMG_2859.JPG

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: