Kabar Terkini

Adakah Musisi Klasik Murni di Indonesia?


Jawaban sederhananya adalah tidak ada. Tetapi jawaban ini tidak semerta datang sebagai jawaban lugas, karenanya penulis mengajak pembaca musicalprom untuk menelusuri jawaban ini sejenak. Kontroversi tulisan sebelumnya yang menyoal musisi klasik berkacamata kuda dan kehilangan relevansinya menyebabkan tidak sedikit amarah beberapa musisi senior yang menyebut diri musisi klasik Indonesia. Pertanyaan yang kemudian muncul adalah siapakah musisi klasik Indonesia? Seberapa jauhkah identifikasi ‘keklasikan’ mereka dalam berkarya? Adakah identitas ‘musisi klasik’ juga menyoal ‘kemurnian’: musisi klasik ‘sungguhan’ dan ‘paruhan’? Ataukah sesungguhnya identitas klasik itu hanyalah sebuah imaji yang terkonstruksi? Kini penulis hendak membagikan sedikit pemikiran.

Sebelum berbicara kekaryaan, mari tengok proses penbentukan musisi kita. Pada dasarnya, pembentukan musisi di Indonesia tidak ada yang semata-mata murni di ranah musik klasik. Apabila musik klasik dikatakan yang berasal dari ranah Mozart, Beethoven dan kawan-kawan, musisi Indonesia terbentuk atas persinggungan budaya. Selain mungkin belajar instrumen rekorder di sekolah, mungkin beberapa belajar instrumen klasik lain di rumah. Tapi mereka juga terpapar musik-musik lain. Di sekolah mereka menyanyikan lagu Ibu Kita Kartini, Pelangi, dan puluhan lagu anak lain yang tidak serta merta disebut klasik. Tidak sedikit pula yang bersentuhan dengan musik-musik lain, pop Indonesia, K-pop, jazz, keroncong, gamelan dan juga dangdut. Sehingga sebenernya kemurnian seorang musisi klasik Indonesia sudah dapat diperdebatkan sedari masa pembentukan mereka. Banyak dari musisi yang menyebut diri musisi klasik kita terlahir setelah era media, di mana bersentuhan dengan musik lain, bahkan musik populer zaman kolonial terdahulu, dan tidak sedikit yang berangkat dari musik tradisi.

Ketika menginjakkan kaki dalam belantika musik dan berkarir, juga banyak musisi kita yang tidak serta-merta melangkahkan kaki sebagai musisi klasik murni. Musisi Indonesia yang menyebut diri musisi klasik dan ingin bertahan di belantika musik Indonesia pun dituntut untuk memiliki fleksibilitas dalam kekaryaan mereka. Contoh ini dapat kita lihat dalam kekaryaan tokoh-tokoh yang kita kagumi saat ini. Addie MS sebagai salah satu icon musik klasik Indonesia dapat dikatakan berkarir di jalur pops orkestra, dengan memainkan karya-karya musik populer dalm format orkestra yang melejitkan namanya. Ananda Sukarlan yang kini lebih banyak berkarir sebagai komponis pun banyak mengambil inspirasi dari musik rakyat, melodi-melodi rakyat yang diangkat menjadi karya beridiom ‘klasik’. Ia pun juga bermain dalam event-event tertutup yang tidak semuanya karya yang dimainkan berada dalam kanon klasik. Aning Katamsi, soprano kebanggaan Indonesia pun hadir di album Badai Pasti Berlalu, sebuah album garapan Erwin Gutawa yang mereproduksi musik dari film  populer Indonesia dekade 1970an.

Avip Priatna, sebagai salah satu konduktor kenamaan Indonesia dan mengharumkan nama Indonesia lewat paduan suara pun dalam memilih repertoar untuk kelompok paduan suara dan orkestranya juga sering memasukkan ‘campur sari’ antara spirit ‘klasik’ dan beragam musik lain dari musik pop, rock, hingga musik rakyat. Demikian juga dengan banyak pelatih paduan suara di Indonesia yang banyak mengeksplorasi musik lain dalam repertoar paduan suara yang mereka latih. Budi Susanto Yohanes dan Reinier Revienno misalnya. Jujur saja, justru paduan suara Indonesia tidak banyak mengeksplorasi karya kanon lama musik klasik yang menjadi standar internasional. Demikian juga dengan banyak instrumentalis yang bermain beragam repertoar yang ‘non klasik’. Klarinetis Eugen Bounty misalnya yang dengan nyaman beralih dari klasik ke jazz maupun misalnya flutis Marini Widyastari yang juga pernah bermain di orkestra pops nusantara, juga dengan sederet nama instrumentalis lainnya. Lisa Supadi, harpis, juga mengambil citra harpis rocker yang tentunya bersentuhan dengan budaya rock, meskipun hidup dalam tradisi klasik. Joseph Kristanto Pantioso sebagai pelatih vokal juga mengajarkan repertoar drama musikal kepada murid-muridnya dan tidak hanya berpaku pada lieder dan oratorio yang menjadi spesialisasinya. Bahkan senior seperti Ibu Catharina Leimena yang dikenal sebagai spesialis opera Italia pun turun tangan dalam mengajar barisan Indonesian Idol hampir 15 tahun yang lau. Pun banyak guru musik lain yang menggunakan beragam cara dan aliran musik untuk mengajar, menciptakan percampuran berbagai pengaruh musikal di diri anak didik mereka. Penulis pun demikian, sebagai konduktor meskipun orkestra yang dibina berusaha mengkonsentrasikan pada repertoar ‘klasik’ tetap sedikit banyak mengeksplorasi budaya pop.

Jadi dari kekaryaan, adakah musisi klasik Indonesia yang murni? Saya rasa tidak.

Lalu mengapa musisi Indonesia senang mengkotakkan diri dalam titel ‘musisi klasik’ sekalipun menyadari bahwa kekaryaan mereka tidak selamanya musik klasik? Preferensi musik adalah salah satu yang utama. Tentu saja setiap musisi berhak untuk memilih ‘aliran musik’ mana yang paling sesuai dan nyaman bagi dirinya sendiri. Preferensi itu bagaikan menyendok nasi dengan tangan kanan. Dapatkah menyendok nasi dengan tangan kiri? Tentunya dapat dan pernahkah? Kebanyakan dari kita pernah. Tapi memang lebih nyaman menggunakan tangan kanan, apalagi ketika agama mengajarkan menggunakan tangan kanan untuk menyuap nasi ke mulut. Sehingga apakah dapat seorang musisi mengidentifikasi diri sebagai ‘musisi klasik’ karena preferensi? Tentu saja dapat, tapi harus dibarengi dengan kesadaran bahwa banyak pilihan kariernya selama ini tidak semata-mata murni musik klasik dan tentunya menunjukkan cakrawala ilmu yang terbuka dan fleksibilitas yang dituntut oleh dunia kerja mereka.

Namun untuk bersikeras bahwa diri adalah musisi klasik murni yang mengimplikasikan kurangnya keterbukaan kultural juga menjadi bertentangan dengan perjalanan karir banyak musisi apabila bukan seluruh musisi yang mengidentifikasi diri sebagai musisi klasik. Padahal pilihan hidup yang banyak diambil musisi ini tidak menunjukkan kemurnian dan ketertutupan seperti itu. Lalu atas dasar apakah sekedar mempertahankan titel musisi klasik? Tentu adalah pemahaman umum bahwa memainkan instrumen barat, memimpin orkestra ataupun bernyanyi dengan teknik ‘seriosa’ tidak menjadikan seseorang sebagai musisi klasik, apalagi musisi klasik ‘murni’. Bersikukuh pada titel seorang ‘klasikus’ juga menimbulkan tanya.

Mungkin bisa saja muncul argumen bahwa pilihan tersebut untuk mangadopsi musik ‘lain’ adalah karena keterpaksaan mempertahankan hidup. Namun, penulis yakin bahwa memilih untuk memainkan, mengajarkan dan meneliti musik ‘lain’ bukanlah soal pertanyaan eksistensialitas. Itu adalah sebuah pilihan sadar dalam meniti karir dan mencari nafkah yang tentunya adalah sebuah hal yang lumrah dan semua orang alami. Keputusan untuk mengkhianati (disowning) pilihan karir sendiri sekalipun kecil seperti mengambil job pop mengiringi ulang tahun adalah mengakui bahwa musisi tersebut secara sadar menjual dirinya untuk entitas lain, menjual idealismenya karena ‘terpaksa’. Adalah pilihan yang bijak untuk mengakui setiap pilihan karir sebagai bagian dari pertumbuhan sebagai seorang seniman secara utuh. Justru adalah tepat apabila melihat kemampuan untuk fleksibel sebagai sebuah keunggulan dan tidak terganggu dengan pernyataan ‘musisi klasik yang cupet’ karena nyatanya pilihan karier musisi kita tidaklah secupet itu. Komponis Slamet Abdul Sjukur dalam sebuah pembahasan menentang dikotomi musik klasik bagi musik di Indonesia. Hal yang serupa juga berimplikasi pada identitas musisi klasik bagi musisi Indonesia. Mengapa tidak kita semua merayakan keberagaman dan kekayaan bermusik kita dan menimba kekayaan ilmu dan budaya daripadanya? Karena pada dasarnya tidak ada dari kita yang ‘murni klasik’, hanya saja kita yang seringkali memilih mengkotakkan diri dan menutup diri.

Kemurnian adalah sebuah konstruk yang dibangun lewat peresapan identitas yang juga terkonstruksi secara sosial. Karenanya kemurnian seorang musisi klasik juga dapat selalu dikontestasikan sebagaimana budaya yang mengelilingi musisi saling berkontestasi untuk berebut pengaruh dan kuasa, sebagaimana dibingkai oleh Nietsche. Ambivalensi antar pengaruh budaya akan terus bergejolak dari pribadi ke pribadi dan mematok diri dalam sebuah bingkai genre adalah sebuah pengingkaran atas interaksi antar manusia yang sarat nilai dan selalu terbuka untuk reinterpretasi.

Berbanggalah atas pilihan karir yang dibuat. Namun berbanggalah atas dasar keterbukaan dan wawasan yang luas, dan menyadari sungguh dari mana kita berasal dan bagaimana kita sendiri terbentuk sebagai seorang musisi yang sedikit banyak mengandalkan dimensi interkultural dan tidak terjebak pada ‘kemurnian’ musik klasik Anda.

Iklan
About mikebm (1265 Articles)
An arts journalist, a conductor, an educator, a young arts manager whose passion drove him to leave a multinational IT cooperation to study Arts Administration and Cultural Policy in London and went back to Indonesia to build the scene there.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: