Kabar Terkini

Buku, Pesta, dan Cinta: Kisah Musik Mahawaditra


Kehidupan mahasiswa tidak melulu berfokus dalam situasi di dalam kelas, perpustakaan, dan tumpukan tugas tanpa henti. Warna-warni kehidupan dengan teman-temannya dan perjuangan cinta juga menghiasi kehidupan seorang mahasiswa. Itulah yang diangkat oleh Orkes Simfoni Universitas Indonesia Mahawaditra (OSUI Mahawaditra) dalam sebuah konser bertajuk Aksata: A Scholar’s Journey tanggal 6 Mei 2017. Mengutip Salsabila Raihana Radian, ketua panitia konser, Aksata diambil dari bahasa Hindia Sansekerta yang bermakna tidak terputus. Tidak terputus seperti siklus seorang individu untuk menempuh jenjang akademis, bersosialisasi, dan kebutuhan emosi. Bersama dengan Michael Budiman Mulyadi selaku pengaba dan monolog oleh Rizky dari Teater Pagupon, Mahawaditra membawakan komposisi yang membawa penonton untuk membayangkan berbagai sisi kehidupan mahasiswa.

Ketika pintu masuk dibuka, penonton disambut dengan para pemain yang sudah siap dan melakukan pemanasan di atas panggung. Konser dimulai dengan memainkan Indonesia Raya diikuti dengan para penonton yang bangkit berdiri. Sebelum masuk komposisi pertama, seorang pemain teater masuk dan melakukan monolog yang memaniskan suasana sebelum Mahawaditra memainkan nada-nadanya. Komposisi pertama yang dimainkan adalah Academic Festival Overture, op. 80 karya Johannes Brahms yang menggambarkan perjuangan akademik mahasiswa. Eksekusi tiap-tiap nada yang dimainkan terdengar lincah dan berhati-hati. Orkestra, baik dari seksi gesek, tiup kayu, dan tiup logam, terdengar berjuang dalam memproyeksikan suaranya agar bisa dinikmati oleh penonton mengingat mereka bermain tanpa bantuan sound system. Sempat terjadi ketidakstabilan tempo di tengah-tengah komposisi, khususnya sebelum masuk ke bagian di mana terjadi perubahan time signature dari 4/4 menuju 3/4 Maestoso. Meski demikian, perkusi menyelamatkan ritme orkestra untuk kembali bermain sesuai dengan harapan dari pengaba dan aksi penyelamatan beberapa kali sepanjang konser.

IMG_2893

Komposisi selanjutnya memiliki tema cinta, yaitu Salut D’Amour, op. 12 karya Edward Elgar. Komposisi dengan tempo yang tidak begitu cepat ini dibuka dengan manis oleh pemain seksi gesek dan kemudian disambut oleh pemain dari seksi tiup. Nada-nada yang dimainkan memang sederhana, tetapi dibutuhkan penghayatan dan permainan emosi oleh seluruh orkestra. Oleh karena itu, pengaba terlihat memberikan aba-aba yang sangat ekspresif dan seluruh tubuhnya pun ikut bergerak agar mendapatkan dinamika yang diharapkan. Meski tidak selalu direspon oleh para pemainnya, secara umum para pemain mampu memainkan nada-nada dengan indah dan membawa penonton untuk merasakan suasana romantis pada malam itu.

Sebagai penutup bagian pertama, Tritsch Tratsch Polka oleh Johan Strauss, Jr. dibawakan yang membawa konser pada sebuah tema pesta. Tempo yang dimainkan cenderung lebih lambat daripada yang biasanya dimainkan pada umumnya, tetapi nuansa ceria dan semangat layaknya orang yang sedang datang ke pesta tetap terasa sepanjang komposisi. Para pemain orkestra tampak menikmati komposisi yang sedang dimainkan. Didukung dengan pemain dari teater Pagupon yang ikut menari di atas panggung, rasa bahagia yang diharapkan dapat tersalurkan. Akhir dari bagian pertama ditutup oleh monolog di mana pemain membungkus dirinya dalam sebuah kain dan menutup dirinya sampai jeda konser berakhir dan babak kedua dimulai.

Bagian kedua konser dibuka dengan membawakan komposisi Hymne Universitas Indonesia karya H. S. Mutahar yang diorkestrasi oleh Marisa Sharon Hartanto selaku composer in residence OSUI Mahawaditra.  Hymne yang sudah akrab di telinga para mahasiswa dan lulusan Universitas Indonesia ini dibuka dengan megah dan majestik. Trompet menjadi bintang dalam komposisi ini karena menjadi solois di hampir sepanjang komposisi dengan permainan yang terdengar rapi dan stabil. Ritme yang dimainkan sempat terdengar tidak padu sehingga terdengar seakan-akan tiap seksi memiliki temponya masing-masing. Pengaba terlihat berusaha membawa pemain ke koridor tempo yang tepat yang juga didukung oleh seksi perkusi.

Komposisi selanjutnya adalah komposisi dengan tempo lambat lainnya yaitu Intermezzo from Cavalleria Rusticana karya Pietro Mascagni. Dalam membawakan komposisi ini, pengaba tampak tidak menggunakan batonnya dan mengaba dengan luwesnya. Kekompakkan dalam membuat kontras dinamika sangat dibutuhkan dalam komposisi ini dan para pemain khususnya seksi gesek berusaha untuk mengikuti dinamika yang diharapkan pengaba. Komunikasi antara seksi gesek dan seksi tiup kayu terjalin dengan baik, sehingga mereka bisa menguntai nada-nada dengan padu dan baik.

Gong dari konser malam itu adalah komposisi terakhir yang dibawakan, yaitu Metamorfosis karya Fero Aldiansya Stefanus. Seperti yang dilansir oleh Metta F. Ariono selaku direktur musik OSUI Mahawaditra dalam buku acara, karya ini membutuhkan kerjasama dari tiap instrumen yang menonjolkan karakter dan peran dari instrumen yang berbeda. Benar saja bahwa masing-masing seksi dalam memainkan komposisi ini sangat bertanggung jawab dan disiplin dalam memainkan setiap detil nada. Para pemain tampak menikmati memainkan komposisi ini dan tetap sukses menghantarkan pesan yang ingin disampaikan dari sebuah proses metamorfosis. Mendekati akhir dari komposisi ini, aksi panggung yang jenaka dilakukan dengan selfie di atas panggung dan pengaba yang mengambil foto para pemainnya sambil tetap melakukan tuning nada A. Selesai dari komposisi ini disambut oleh standing applause oleh para penonton yang menunjukkan kesuksesan Mahawaditra dalam bermetamorfosa menjadi pribadi yang lebih baik dari masa ke masa.

Setelah konser berakhir, Radetzky March karya Johann Strauss, Sr. Dibawakan sebagai encore dan setelah sambutan serta pemberian karangan bunga diulang sekali lagi karya Hymne UI. Kedua komposisi yang dibawakan sebagai encore terdengar sangat semangat dan lebih lepas dimainkan. Radetzky March dibawakan dengan kompak, santai, dan menunjukkan permainan yang penuh keceriaan dengan tepuk tangan dari penonton ikut mengiringi orkestra. Hymne UI pun terdengar sangat menghayati sambil para mahasiswa dan alumni Universitas Indonesia ikut menyanyikannya. Andaikan semangat tersebut muncul dari awal konser, mungkin malam itu akan terasa lebih sempurna lagi.

Kolaborasi antara OSUI Mahawaditra dan teater Pagupon pada malam itu memberikan keriaan dalam memahami perjuangan mahasiswa dalam menyeimbangkan kehidupan buku, pesta, dan cintanya. Semoga OSUI Mahawaditra terus ‘aksata’ dalam bermetamorfosis, sehingga bisa terus berkembang menjadi orkestra mahasiswa yang tidak pernah berhenti belajar menjadi pemain musik dan organisasi yang lebih baik lagi.

IMG_2889

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: