Kabar Terkini

Dialog Prancis-Indonesia Bersama Ensemble Multilaterale


Enam orang duduk berjajar di depan meja duduk dengan rapi, bersama menggeram di bawah suara dengan perlahan. Kepala bertengokan dalam irama disertai hembusan nafas dan siulan lembut dengan nada sederhana bersahutan. Mereka duduk, berdiri, menengadah, kadang menoleh, juga membungkukkan badan membuka mulut lebar-lebar dengan mata yang menatap nanar sambil terus berjajar. Jentik jari, gebrakan di atas meja dan suara tepukan pipi mencipta garapan suara perkusi yang berderap beragam. Semua menekankan keteraturan dalam ketidakberaturan.

Inilah musik terkini, yang terbalut tidak hanya dengan dunia suara tapi juga dalam variasi laku gerak dan seakan terkoreografi, yang menjadi sajian pembuka ‘Temu Musik Franko-Indonesia’ yang dibuka dengan karya Francesco Filidei I Funerali dell’anarchico Serantini yang ditulis tahun 2006 untuk enam musisi. Karya pertama juga menjadi jendela eksplorasi yang dimungkinkan oleh musik baru yang tidak lagi berpusat pada rekayasa elemen suara namun juga elemen visual teatrikal.

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Babak pertama kemudian dibalas dengan dua karya komposisi dari komponis yang didapuk sebagai Bapak Musik Baru Indonesia, Slamet Abdul Sjukur yang ditulis di penghujung pergantian milenium tahun 1999. Svara yang ditulis untuk solo piano menjelajah alam bunyi lewat teknik lanjutan pada piano. Senar dimainkan dengan tangan, badan dan kerangka piano diketuk, bertalu dengan tone cluster yang mencipta beragam warna yang berbeda. Karya komponis Indonesia yang mengecap ilmu di Prancis dan wafat tahun 2015 lalu ini terasa digarap dengan pendekatan yang terikat sembari menekankan konsep minimaks yang menjadi slogan sang komponis. The Source, Wehre the Sound Returns menjadi sajian lanjutan yang mengetengahkan kesederhanaan, nada dan dialog musikal yang mendalam antara klarinet, cello dan piano. Karya ini seakan mengetengahkan kembali intisari permainan musik kamar yang digarap dengan apik oleh Ensemble Multilatérale asal Prancis ini.

Kekayaan musik pentatonik kemudian membalas kesederhanaan karya Slamet lewat karya Counter Noise yang ditulis khusus oleh komponis muda Muh. Arham Aryadi di tahun ini yang dipilih Institut Français d’Indonesie sebagai perwakilan komponis muda Indonesia. Klarinet, biola, biola alto dan cello berbalas bertalu menciptakan geliat yang asyik namun tidak menanggalkan keseriusannya. Instrumen gesek dipetik, instrumen tiup bermultifoni menciptakan percampuran nilai musik etnik dengan estetika musik urban yang mengalir satu lewat komunikasi batiniah. Terlihat pula bahwa Arham lewat beberapa karyanya terakhir berusaha mengembangkan esensi musik urban dalam kerangka musik baru. Dalam kerangka itu pula karya terbarunya ini yang diperdanakan semalam ditulis.

Di babak kedua permainan flute, flute bass, biola, biola alto dan piano bertalu dalam karya Rokh 1 yang digubah oleh Raphaël Cendo. Burung raksasa dalam mitologi Timur Tengahlah yang menjadi inspirasi dari Kegaduhan seakan menggelegak tidak beraturan malam itu. Dentang, gemeltuk dan getar prepared piano, berbalas dengan dengung yang bercampur harmonik tinggi yang dimainkan flute bass. Semangat yang tercipta berbalas-balasan dalam lintas energi yang bahkan terkesan obsesif menyapu seluruh karya berdurasi lebih kurang dua belas menit ini.

Karya Matius Shan Boone juga terpilih untuk mewakili komponis muda Indonesia lewat karya The Love Awakened. Komponis yang saat ini sedang menimbal ilmu d Birmingham, Inggris ini seakan lewat kehampaan yang tergambar dalam ketidakteraturan. Nada-nada terkesan bermunculan secara acak bak lukisan pointilisme yang bertabur di karya yang melibatkan flute, piano, biola dan cello ini. Kompleksnya metrik birama semakin mencipta iregularitas. Meski demikian secara makro, terlihat bagaimana Matius mengembangkan karya ini secara terstruktur dan taat asas. Pengembangan tematik yang khas dalam teknik komposisi Barat mewarnai musik dengan kuat sehingga iregularitas berubah menjadi semacam kegairahan tersendiri. Mungkin inilah juga cermin pribadi seorang Matius.

Konser ini pun ditutup dengan bincang musikal yang penuh warna-warni dan hidup dari D’un rêve parti yang ditulis oleh komponis muda yang kini menjabat sebagai direktur Paris Conservatoire, Bruno Mantovani. Keenam musisi ensembel berselancar di ambang batas antara iregularitas dan stabilitas, dengan permainan ritmis gesti yang sesekali mengingatkan energi dan hentakan musik populer yang gegap. Namun semuanya terbalut dalam idiom musik baru yang tidak pernah terlepas dari energi yang membuncah, menutup keseluruhan konser yang sayangnya dihadiri oleh sedikit penonton. Sungguh, konser semalam sebuah kacamata melihat musik terkini dan sebuah kacamata menerawang psyche kedua bangsa.

Iklan
About mikebm (1236 Articles)
An arts journalist, a conductor, an educator, a young arts manager whose passion drove him to leave a multinational IT cooperation to study Arts Administration and Cultural Policy in London and went back to Indonesia to build the scene there.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: