Kabar Terkini

Kisah Orkes Gesek Bandung Berjalan Menuju Jalur Sutera


IMG_2997

Terkadang penonton musik klasik datang ke konser karena ingin mendengarkan komposer-komposer ternama, seperti Beethoven, Mozart, Schubert, atau Chopin. Tetapi apa yang terjadi bila datang ke konser dan komposisi yang dimainkan adalah dari komposer-komposer yang namanya asing di telinga? Itulah yang dilakukan Acacia Youth String Orchestra (AYSO) pada tanggal 14 Mei 2017 di Balai Resital Kertanegara. Setelah sukses mengadakan konser di Bandung, akhirnya Jakarta mendapatkan kesempatan merasakan perjalanan musik  yang mengusung tema dari Timur-Tengah menuju Indonesia. Ansambel gesek ini berbasis di Bandung dan digawangi oleh Arya Pugala Kitti yang juga berperan sebagai direktur musik. Karya yang dimainkan merupakan karya dari komposer asal Yunani, Hungaria, Suriah, Iran, Tionghoa, dan Indonesia.

Hal pertama yang menarik perhatian ketika konser dimulai dan pemain mulai masuk ke atas panggung adalah tidak ada pemain yang menggunakan alas kaki. Di panggung sudah terjejer stand partitur dengan 3 kursi untuk pemain cello, sedangkan pemain gesek lainnya berdiri. Sepanjang konser, Arya akan menjelaskan latar belakang komposer dan sedikit menceritakan karya yang akan dimainkan. Cara yang jenaka dia gunakan untuk menjelaskan karya-karya yang akan dimainkan sehingga kerap kali membuat para penonton tertawa mendengar penjelasannya. Arya menjadi concertmaster yang juga memimpin orkes tanpa konduktor tersebut.

Komposisi pertama yang dimainkan berjudul Five Greek Dances karya Nikos Skalkottas. Komponis asal Yunani yang pernah belajar dengan Arnold Schonberg ini menamai tiap gerakannya dengan nama-nama Yunani: Epirotikos, Kretikos, Tsamikos, Arkadikos, dan Kleftikos. Komposisi ini dimainkan dengan sangat dinamis dan mengajak pendengarnya untuk merasakan budaya dari musik Yunani. Setiap gerakan dimainkan dengan eksekusi nada yang presisi, sehingga pada beberapa bagian di mana Skalkottas sengaja menabrakkan nada menjadi manis untuk didengar.

Selanjutnya dimainkan komposisi dari satu-satunya komposer yang mungkin namanya masih pernah didengar oleh para penonton, yaitu Bela Bartok. Komposisi yang dimainkan adalah Romanian Folk Dances aransemen Arthur Willnes yang terdiri atas enam gerakan. Sesuai dengan judulnya, suara khas Eropa dan nuansa yang sedikit lebih gelap dibandingkan komposisi sebelumnya dapat dirasakan. Pada gerakan yang berbeda, solois dari masing-masing gerakan tidak melulu sang concertmaster tetapi juga pemain biola 1 lainnya. Hal ini menunjukkan kepiawaian pemain, khususnya biola 1, untuk bermain sebagai pemain ansambel maupun solois.

Setelah mendengarkan komposisi Bela Bartok yang terdengar memiliki pengaruh dari Timur Tengah, selanjutnya dimainkan komposisi dari komposer asal Suriah yaitu Kareem Roustom berjudul Dabke. Dabke sendiri adalah tarian asal Arab yang biasanya ditarikan di acara-acara perayaan seperti pernikahan. Karya ini memiliki pola ritme 6/4 dengan suatu ritme nada berulang yang dimainkan hampir sepanjang komposisi baik dengan pizzicato maupun arco. Dinamika yang dibentuk oleh para pemain terdengar sangat rapi dan semangat yang ingin dibawa dalam karya ini terdengar jelas. Mereka juga tahu kapan bermain sebagai melodi maupun iringan, sehingga meskipun banyak nada yang dimainkan secara bersamaan tetapi tidak terdengar riuh.

Babak pertama ditutup oleh komposisi karya Siamak Aghaei asal Iran dan kemudian ditulis ulang untuk musik gesek oleh Colin Jacobsen berjudul Ascending Bird. Karya yang menggambarkan mengenai burung yang terbang menuju ke arah matahari ini dimainkan dua bagian, yaitu introduction dan dance. Karya dibuka dengan solo oleh principal masing-masing instrumen yang kemudian disambut oleh solo biola. Sepanjang karya ini, kesan misterius dapat dirasakan didukung dengan nada-nada dan pemilihan chord yang mungkin tidak begitu lazim didengar. Ketika masuk pada gerakan kedua, cara mereka memainkan karya ini memudahkan untuk melakukan visualisasi terhadap bagaimana perjuangan burung tersebut terbang menuju ke matahari dan mencoba melewati rintangan.

Setelah jeda 15 menit, kembali para pemain masuk dan diikut dengan pemain tam-tam, tamborin, dan triangle. Karya yang mereka bawakan berjudul Indian Prelude karya dari direktur musik AYSO. Tema-tema India dapat terdengar melalui melodi yang dimainkan dan dipertegas oleh harmoni yang ikut mengiringi. Ditambah dengan permainan perkusi, pendengar seakan-akan dibawa untuk menikmati suasana Bollywood yang kental. Dari India, penonton diajak untuk bertolak ke Tiongkok dengan komposisi karya Bao Yuankai yang diberikan judul Chinese Sights and Sounds. Berdasarkan penjelasan dari Arya, komposer asal Tiongkok suka membuat komposisi yang menggambarkan sesuatu. Dari judul komposisi yang diberikan, tergambarkan apa yang berusaha dimainkan oleh orkestra. Pertama, mereka memainkan karya berjudul Going to the West Gate yang menggambarkan perjalanan seseorang menuju ke sebuah gerbang di Tiongkok. Kedua adalah Green Willow, sebuah pohon khas Tiongkok. Keunikan dari gerakan ini adalah semua nada dimainkan dengan pizzicato menggunakan bantuan kartu untuk berusaha mengimitasi suara alat musik dari orkestra Tionghoa, yaitu Guzheng yang sama-sama dipetik. Terakhir adalah Game of Riddles yang sesuai dengan nama-namanya komposisi ini penuh teka-teki. Nada-nada yang dimainkan tidak dapat diprediksi dan dikatakan bahwa banyak modulasi-modulasi atraktif dalam komposisi ini.

Karya selanjutnya adalah karya dari komposer muda Indonesia bernama pena Ulung Siberuang yang bernama asli Aji Priandaka. Beliau hadir di dalam konser tersebut dan kemudian naik ke atas panggung untuk menjelaskan karya yang akan dimainkan yaitu Bandung. Tertulis di buku acara gerakan yang akan dimainkan adalah gerakan kedua dan ketiga berjudul Bubuy Bulan dan Manuk Dadali. Karya ini terinspirasi dari kehidupannya selama tinggal dan besar di Bandung, dan dia menghayati bahwa Bandung telah menjadi tempat banyak budaya bercampur. Karya yang dimainkan juga menujukkan banyak unsur-unsur khas Jawa, tetapi juga terdapat unsur musik klasik barat dan modern di dalamnya. Menariknya karya ini dimainkan dengan gaya seperti konserto biola, lengkap dengan bagian solo biola dan kadenza.

Menutup konser, dimainkan komposisi lain karya Arya berjudul Selayang Pandang Betawi. Karakteristik musik Tionghoa dan campurannya dengan Betawi terdengar dari karya ciptaannya. Tema dari lagu Betawi, misalnya Ondel-Ondel, juga dapat terdengar. Karya ini juga mengeksplorasi pemain untuk menggunakan biola dengan berbagai teknik, seperti memetik biola layaknya ukulele dan glisando khas suara Betawi. Permainan yang energik dan kokoh terdengar sepanjang komposisi ini dimainkan, sehingga tampak besarnya stamina dari pemain yang sudah memainkan banyak karya pada hari itu.

Riuh tepuk tangan memenuhi gedung konser dan membuat AYSO memberikan dua penampilan encore. Pada encore yang pertama, terdengar solo contrabass di awal diiringi oleh teman-teman seksi gesek lainnya. Setelah itu mulai masuk pada tema dari lagu yang tanpa disangka yang dimainkan adalah Sambalado, sebuah lagu dangdut yang populer dinyanyikan Ayu Ting-Ting. Encore kedua adalah Bengawan Solo yang telah diaransemen ulang. Karya yang diaransemen ulang ini dibuat menjadi sangat manis dan mengakhiri konser ini dengan indah.

IMG_2999

Kekompakkan dari AYSO dari segi permainan ansambel patut diacungi jempol. Para pemain saling mendengarkan satu sama lain sehingga menghasilkan musik yang rapi dengan kualitas yang stabil dari awal sampai akhir. Didukung dengan penjelasan karya oleh Arya yang menyisipkan guyonan saat menjelaskan membuat konser ini menjadi menyenangkan dan seakan-akan jarak antara penonton dan pemain menjadi kabur. Konser ini juga menambah wawasan bermusik dan membuat sadar bahwa suatu karya bisa mendapatkan banyak pengaruh dari mana-mana menurut latar belakangnya masing-masing. Karena setiap persamaan dan perbedaan yang ada pada tiap individu seharusnya bukanlah menjadi penghalang dalam bermusik, tetapi menambah keindahan musik yang dilantunkan.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: