Kabar Terkini

Nostalgia dan Kekinian lewat Jakarta City Philharmonic


‘Italia Abad XX: Daur Ulang & Opera’ adalah padanan judul yang tidak biasa untuk sebuah konser musik klasik. Musikolog Aditya Setiadi pun dalam buku acara menyebutkan bahwa ‘nostalgia akhirnya menjadi gaya hidup publik melalui koleksi-koleksi artefak’ dan ‘terinstitusionalisasi dalam museum dan monumen urban’. Mungkin semangat nostalgia inilah yang ingin diangkat lewat proses menilik kembali kekayaan musikal terdahulu yang menjadi bagian integral dari pertunjukan dan pemilihan repertoar konser Jakarta City Philharmonic di bulan Juni ini.

Setelah membuka konser dengan lantunan Indonesia Raya, nostalgia menyeruak sejak pilihan karya pertama yakni Ancient Airs and Dances, Suite I karya komponis Ottorino Respighi. Mengambil inspirasi dari tarian dan melodi abad ke-16, Respighi mencoba menyelam ke dalam idiom musik lama dan mengolahnya dalam semangat kebaruan satu abad yang lalu. Nostalgia semangat jaman kebangkitan renaisans pun agaknya bertepatan dengan redanya Perang Dunia I, di mana bangsa-bangsa Eropa perlahan mencoba bangkit kembali dari keterpurukan. Sifat nostalgia ini yang juga menjadi tantangan bagi orkestra yang digagas Dewan Kesenian Jakarta dan Badan Ekonomi Kreatif ini. Bentuk karya yang berdasar pada gaya lama Eropa abad 16 kemudian ditantang untuk bercampur dengan pendekatan kebaruan di awal abad 20 yang dimainkan oleh para pemusik Indonesia di abad 21, menambah kompleksitas dari interpretasi karya ini. Alhasil selama delapan bagian, orkestra meski mengampu permainan dengan baik, terlihat berjuang untuk menyuguhkan karya dengan meyakinkan di awal konser.

Karya Kinthilan dari komponis muda Indonesia Diecky Kurniawan Indrapraja yang meminjam konsep ‘mengikuti’ dari karawitan Jawa, mengembalikan warna orkestra Jakarta City Philharmonic yang malam ini dipimpin konduktor Budi Utomo Prabowo pada keajegannya. Seksi gesek pun mampu bermain dengan lebih padu dan matang dalam karya yang ditulis untuk orkes kamar. Secara cerdik Diecky menuliskan permainan tekstur yang cantik lewat lantunan orkestra yang saling berinteraksi hangat dalam penggunaan birama yang dinamis bebas yang menantang untuk ditaklukkan. Keseluruhan orkestra pun terlihat lebih nyaman dengan benang merah ide terangkai lewat permainan seksi tiup kayu dan gesek. Babak pertama kemudian ditutup dengan baik lewat permainan karya Ferrucio Busoni Gigue dari Symphonic Suite, Op. 25. Mengambil tema tarian yang hidup, karya ini dimainkan dengan meyakinkan. Pun, sangat menarik melihat warna orkestra sedemikian merekah untuk karya ini, seakan orkestra perlahan tumbuh dewasa secara musikal di sepanjang babak pertama ini.

IMG_7407Opera menjadi suguhan babak kedua konser di Gedung Kesenian Jakarta ini. Menampilkan salah satu judul opera paling terpopuler di dunia, Jakarta City Philharmonic menampilkan babak I dari opera La Bohème. Budi Utomo Prabowo sebagai pengaba tampak sungguh menguasai seluruh karya dan juga seluruh orkestra. Tampak bahwa ia sungguh menjaga staminanya di babak pertama untuk kemudian dibagikan di babak ini. Alhasil seluruh orkestra sungguh tergarap dan terjaga dan mampu melewati seluk-beluk menantang dari sebuah karya opera verismo romantik yang menuntut pemain luwes dalam bermain.

Kehadiran kuartet bariton dan bass yang sedemikian matang: Joseph Kristanto sebagai Marcello, Ega Azarya sebagai Schaunard, Rainier Revireino sebagai Colline dan Hari Santosa sebagai Benoît menjadikan penampilan menjadi begitu hidup. Suara mereka secara dramatis mampu memenuhi ruangan dan menjadi warna yang begitu kental di babak pertama opera yang diperdanakan tahun 1896 ini. Tenor Pharel Silaban yang berperan di atas panggung sebagai Rodolfo sesungguhnya telah memainkan peranan yang baik dan tepat. Sayangnya ketegangan di atas panggung nampaknya menggerus kemampuannya untuk mengeksekusi nada C tinggi yang adalah salah satu puncak utama di babak ini. Fika Djaja yang berperan sebagai Mimi mampu menciptakan kisah tersendiri dengan vokalnya yang cukup adaptif, meski demikian konsistensi produksi suara nampak menjadi kendala tersendiri, terlebih posisi mikrofon yang tidak mendukung kemerataan proyeksi di Gedung teater yang tergolong kering akustik ini.

Sajian malam ini tentunya adalah sajian yang menarik di mana kenyataan berbalut dalam nostalgia, mencari jalan untuk memaknai kembali dunia lewat berkaca dengan masa lalu. Jakarta City Philharmonic bersama Budi Utomo Prabowo telah membawa penonton ke sana, di mana hal lampau berbaur dengan kekinian, menciptakan sebuah realitasnya sendiri lewat kebaruan.

Iklan
About mikebm (1247 Articles)
An arts journalist, a conductor, an educator, a young arts manager whose passion drove him to leave a multinational IT cooperation to study Arts Administration and Cultural Policy in London and went back to Indonesia to build the scene there.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: