Kabar Terkini

Rotterdam Philharmonic Perkasa Melibas Musik


Kedatangan orkestra papan atas dunia memang adalah kesempatan tidak tentu datang dua kali di Jakarta. Karenanya kedatangan Rotterdam Philharmonic Orchestra malam ini di Teater Jakarta adalah salah satu kesempatan seumur hidup. Selain kedatangan orkestra format kuno Les Musiciens du Louvre Grenoble dan Orchestre des Champs-Elysées, sebelumnya belum pernah ada orkestra modern papan atas Eropa yang hadir di Jakarta dan menampilkan kekuatan penuh dari sebuah orkestra modern papan atas dunia.

Malam Selasa ini memang menjadi malam yang sungguh spesial, hadir memeriahkan kerjasama dan penandatanganan MoU sister cities Jakarta-Rotterdam, walikota Rotterdam membawa orkestra kebanggaan kota pelabuhan Belanda itu ke Indonesia untuk menutup tur empat kota mereka di Asia selama 2 minggu terakhir ini. Dan penampilan mereka di Jakarta ini tentunya sangat dinantikan oleh publik musik klasik di Jakarta yang sudah berpuluh tahun menantikan hadirnya orkestra papan atas berkunjung ke Nusantara.

Dan sungguh penampilan Rotterdam Philharmonic semalam memang tidak mengecewakan. Hadir dengan program standar orkestra yang tergolong menantang, Orkestra ini hadir dengan kesegarannya di akhir tur. Berpangkal dari komponis Ludwig van Beethoven, orkestra yang dibentuk tahun 1918 ini menjelajah karya Johannes Brahms dan ditutup dengan karya Piotr Illyich Tchaikovsky yang bersandar kuat pada tradisi simfonik Jerman yang dibangun Beethoven.

Dibuka dengan permainan Coriolan Overture karya Beethoven yang dimainkan dengan apik, pertunjukan dilanjutkan dengan suguhan Concerto Biola, op.77 karya Johannes Brahms yang menantang, penuh dengan aksentuasi yang kuat namun dihiasi melodi yang menawan. Permainan solois biola Rosanne Philippens pun memukau. Memainkan biola bersejarah ‘Barrere’ Stadivarius yang dibuat tahun 1727, permainannya yang bertenaga dibalut dengan permainannya yang liris yang jernih dan indah. Berprestasi sejak semasa kuliahnya di Den Haag dan Berlin dengan nilai sempurna, Phillipens mengajukan preposisi musikal yang lugas dan penuh virtuositas. Orkestra pun di bawah pimpinan konduktor Antony Hermus mengimbangi dengan cantik. Permainan ritme menjadi kesukaan yang dinamis. Alhasil, penonton pun bersorak dan meminta encore dimainkan. Phillipens pun menjawab dengan mengajak principal cello muda Hee-Young Lim untuk memainkan karya Johann Halvorsen Passacaglia for Violin and Cello on a Theme of Handel. Hee-Young Lim yang baru saja bergabung dengan Rotterdam pun tampil dengan citarasa yang menggetarkan dibarengi dengan permainan yang padu. Keduanya tampil dengan memukau.

Di babak kedua, giliran Rotterdam yang tampil dengan kekuatan penuh. Delapan puluh lima musisi hadir meramaikan panggung, 59 orang pemain gesek dipadu dengan kekuatan penuh seksi tiup. Memainkan karya monumental Tchaikovsky Symphony no. 5 dalam E minor, op.64, orkestra ini hadir dengan kekuatan dan kekokohan yang luar biasa. Permainan mereka sungguh menjejak, diimbangi dengan keluwesan yang paripurna. Hermus mengarahkan dengan gerakan yang sedemikian lentur yang dibalas dengan permainan orkestra yang sedap dan semakin hangat. Gerakannya yang berayun menjadikan seluruh orkestra tanggap dengan sekitarnya, menjadikan permainan ensembel yang adaptif hadir semalam dengan nafas musikal yang bersesuaian dengan pakem musik romatik. Tidak heran memang hampir selama 20 tahun terakhir, orkestra ini dipimpin dan dibentuk oleh direktur musik Valery Gergiev dan Yannick Nezet-Seguin yang unggul dalam mengolah musik romantik akhir.

Setiap nada didorong oleh permainan seksi gesek yang tebal dan kualitas tone yang mumpuni menciptakan momen-momen indah yang penuh cita rasa. Setiap frase pun mengalun dengan indah, terlebih dengan warna yang menawan dari clarinet dan bassoon. Flutis Indonesia Andika Candra mencatat bahwa intrikasi permainan orkestra malam ini bagaikan suara mesin Kawasaki empat silinder yang halus namun menghasilkan energi dorong yang luar biasa. Seksi tiup logam sebagai primadona malam ini hadir dengan permainan ritme yang bersih diimbangi dengan kontrol kualitas suara yang subtil, namun apabila bersuara mampu menggetarkan seluruh gedung semalam dengan keindahan maupun gegap gempita. Trombon, tuba dan french horn yang solid menjadikan karya Tchaikovsky ini demikian berisi. Timpanist pun memberikan nyawa bagi pergerakan orkestra ini. Tidak heran, Symphony no.5 ini juga menjadi penutup paripurna rangkaian tur mereka tahun ini di Aisa.

Garapan musik dengan orkestra sekaliber ini memang belum pernah hadir di Indonesia sebelumnya, menjadikan momen ini sedemikian berharga. Meskipun akustik Teater Jakarta bukanlah yang terbaik, namun orkestra ini sungguh telah menunjukkan kalibernya dengan mencoba menaklukkan teater yang terbilang berakustik kering ini sehingga perlu dibantu dengan reflektor orkestra, dan Rotterdam Phil telah berhasil dengan baik. Penonton pun yang dipenuhi kalangan Kedutaan Besar Belanda, Pemerintah Daerah Jakarta dan Rotterdam, pelaku bisnis beserta pelaku dan pecinta musik klasik melonjak girang dan memberikan standing applause yang memang layak untuk diberikan kepada orkestra yang kemudian menyambut dengan sebuah karya anak negeri, sebuah aransemen ‘Tanah Air’, lagu wajib yang selalu menggetarkan jiwa kaum rantau dan diaspora Indonesia.

Tentunya gestur bersahabat ini dibalas dengan hangat oleh penonton. Ini adalah sebuah sajian musik luar biasa bagi publik Jakarta yang tentu tidak akan berhenti berharap dan berusaha agar semakin banyak orkestra dunia yang singgah di Jakarta. Semoga Rotterdam Philharmoni menjadi pembuka yang baik untuk kehidupan budaya yang lebih bergeliat lagi di Ibukota agar mampu menjadi magnet persinggahan orkestra dunia.

Iklan
About mikebm (1247 Articles)
An arts journalist, a conductor, an educator, a young arts manager whose passion drove him to leave a multinational IT cooperation to study Arts Administration and Cultural Policy in London and went back to Indonesia to build the scene there.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: