Kabar Terkini

UKM Musik Binus Belajar dari Orkes UI Mahawaditra


~oleh Theresia Rampisela (Humas Orkes UI)

Satu minggu seusai Konser Awal Tahun 2017 “AKSATA: A Scholar’s Journey”, Orkes Simfoni Universitas Indonesia (OSUI) Mahawaditra tak serta-merta meliburkan aktivitasnya. Bahkan, Balai Mahasiswa (BM) Universitas Indonesia Salemba, yang menjadi tempat latihan mingguan OSUI, terlihat lebih ramai dari biasanya. Lantai atas BM dibanjiri oleh puluhan pemuda-pemudi dari dua institusi berbeda; sebagian berbaju polo hitam ciri khas OSUI Mahawaditra dan sebagian lainnya memakai jaket marun. Ya, OSUI Mahawaditra mendapat tamu spesial dari Binus University pada Sabtu, 13 Mei 2017 yang lalu. Dalam kegiatan bertajuk “CONTINUOUS IMPROVEMENT” Benchmark, Unit Kegiatan Mahasiswa Bersama Dalam Musik (UKM BDM) Ensemble and Orchestra Binus University jauh-jauh datang ke Salemba guna melakukan studi banding dengan OSUI Mahawaditra baik dalam segi artistik maupun keorganisasian.

​Acara dibuka sekitar jam 10 pagi oleh sambutan dari Deza Achmad Zakiy selaku Ketua OSUI Mahawaditra periode 2017, disusul dengan pembukaan dari perwakilan BDM sekaligus penanggung jawab studi banding ini, Stefani Darmawan. Setelah perkenalan singkat dari pengaba BDM, King Napoli, sesi Open Rehearsal atau latihan bersama pun dimulai. King mengaba lagu Burung Kutilang ciptaan Ibu Soed serta medley lagu kanak-kanak berjudul Burung Hantu, Heli Anjing Kecil, Naik Delman, Naik Kereta Api, yang keduanya diaransemen untuk orkestra oleh salah satu anggota BDM sendiri, Danezh. Meskipun aransemen lagu-lagu tersebut masih jauh dari sempurna dan terkesan sederhana, namun mereka cukup menghibur dan mampu mencairkan ketegangan awal yang sempat ada dengan menghadirkan lagu-lagu masa kecil yang familiar di telinga.

Walau baru mendapat partitur kedua komposisi tersebut beberapa hari sebelum acara, anggota OSUI Mahawaditra secara umum tidak kesulitan mengimbangi permainan anggota BDM yang hari itu turut mengisi bangku latihan di BM. Anggota BDM, meski tak memiliki seksi tiup logam dan tiup kayu yang lengkap, juga terlihat santai memainkan kedua lagu tersebut, karena mereka sudah pernah memainkan lagu-lagu itu pada kesempatan lain. Namun, King sempat meminta seksi tiup kayu dan biola untuk mengulang beberapa segmen lagu yang dirasa dimainkan dengan kurang tepat. Demikian pula halnya ketika Marisa Sharon Hartanto sebagai composer-in-residence OSUI Mahawaditra yang menggantikan principal conductor Michael Budiman Mulyadi karena beliau berhalangan hadir, mengambil alih tugas sebagai pengaba setelah King. Di bawah batonnya, OSUI Mahawaditra dan BDM mencoba memainkan Selections from The Phantom of the Opera, lagu yang sudah beberapa kali dimainkan oleh OSUI Mahawaditra dalam beberapa tahun terakhir. Tetapi, tak bisa dipungkiri bahwa dengan siklus pergantian pemain yang tergolong cepat karena statusnya sebagai orkes mahasiswa, mayoritas dari anggota OSUI Mahawaditra juga baru pertama kali memainkan lagu yang menuntut kepiawaian dan teknik-teknik khusus tersebut dan membutuhkan konsentrasi yanh lebih. Alhasil, tak heran jika BDM, yang juga baru mendapat partitur dalam hitungan hari, terlihat sedikit kewalahan. Meskipun cukup menantang, baik OSUI Mahawaditra maupun BDM tetap bersemangat dalam berlatih lagu tersebut, hingga akhirnya lagu tersebut dapat dimainkan dari ujung ke ujung.

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Setelah kurang-lebih 2 jam berlatih, sesi latihan bersama ditutup dengan tanya jawab mengenai artistik. Anggota BDM tampak antusias mengajukan pertanyaan, yang juga dijawab dengan sabar dan mendetail oleh narasumber dari pihak OSUI Mahawaditra. Di akhir sesi tanya jawab, kedua unit kegiatan mahasiswa ini berfoto bersama, sebelum mereka berpencar untuk beristirahat.

Tak berhenti sampai di situ, sesi keorganisasian dimulai di Balai Mahasiswa bawah tepat pada pukul 1 siang. Diawali dengan presentasi mengenai visi-misi, sejarah, serta struktur organisasi OSUI Mahawaditra oleh Deza, peserta studi banding pada hari itu kemudian dibagi menjadi beberapa kelompok diskusi sesuai dengan deskripsi kerjanya. Divisi Latihan OSUI Mahawaditra bergabung dengan Talent Director BDM, sedangkan Divisi Perlengkapan mendapat teman diskusi dari Sound and Equipment. Divisi Event dan Pengembangan Sumber Daya Manusia menjadi satu kelompok yang sama dengan Talent Development and Event. Sementara itu, Divisi Hubungan Masyarakat mendapat kesempatan untuk bertukar pikiran dengan Public Relation dan Design and Documentation. Bila di OSUI Mahawaditra terdapat Divisi Bibliografi, BDM di usia mudanya yang baru setahun ini belum memiliki divisi serupa, sehingga Divisi Bibliografi akhirnya melakukan sharing dengan beberapa orang dari BDM yang berkaitan.

Dalam sesi sharing yang berlangsung hampir selama sesi latihan, para anggota OSUI Mahawaditra dan BDM saling berbagi cerita dan keluh kesah yang dihadapi oleh bidang masing-masing. Sebagai tuan rumah, para pengurus OSUI Mahawaditra terlebih dahulu memaparkan program kerja divisi masing-masing serta sistem kerja mereka, kemudian dilanjutkan dengan pengurus BDM yang turut menjelaskan tugas mereka di BDM. Anggota resmi BDM yang secara total hanya berjumlah 30-an orang tak segan-segan menanyakan tips-tips dan solusi untuk permasalahan yang mereka hadapi dalam keorganisasian. Tak jarang terdengar tawa riuh dari berbagai arah di ruangan, tanda keakraban mulai terbentuk di antara mahasiswa-mahasiswi anggota kedua organisasi tersebut.

Dari segi organisasi pada umumnya, jika dibandingkan dengan OSUI Mahawaditra yang normalnya mempunyai waktu efektif 3 tahun untuk mengurus organisasinya, BDM hanya berkesempatan untuk berkecimpung di dunia organisasi sebagai pengurus selama setahun saja. Hal ini dikarenakan bahwa mahasiswa tahun pertama di Binus University belum diperbolehkan untuk menjadi pengurus resmi organisasi, melainkan hanya sebagai apa yang disebut sebagai ‘aktivis’. Sedangkan di tahun ketiga, mereka menjalani kewajiban magang sehingga sulit bagi mereka untuk tetap mengurus organisasi mereka.

Pemberian kenang-kenangan dari BDM untuk OSUI Mahawaditra mengakhiri jalannya acara secara keseluruhan pada hari Sabtu, 12 Mei itu. Meski lelah akan hari yang panjang, kegiatan studi banding ini dengan sukses memberikan banyak ilmu dan pengetahuan baru untuk kedua orkes mahasiswa yang terlibat, baik dari aspek musik ataupun organisasi. Semoga ke depannya, pengalaman ini dapat menjadikan orkes masing-masing lebih baik dari sebelumnya. Dengan ini, OSUI Mahawaditra berharap dapat terus menjadi role-model dan benchmark bagi orkestra-orkestra muda amatir lainnya.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: