Kabar Terkini

Catatan Perjalanan TRUST Orchestra mengunjungi Malaysian Philharmonic Orchestra


~oleh Nathania Karina
12-15 Juni 2017 lalu Trinity Youth Symphony Orchestra (TRUST) mendapatkan kesempatan emas untuk mengunjungi dan belajar dari Malaysian Philharmonic Orchestra (MPO) yang rasanya hingga hari ini masi menyandang status salah satu orkestra terbaik di Asia Tenggara. Dengan dukungan penuh dari pemerintah dan berbagai sponsor, MPO sudah bertahan lebih dari 20 tahun, memiliki segudang pemain “import” yang kedepannya diharapkan dapat membangun kultur orkestra di Malaysia. Hampir sebagian besar pemain impor ini adalah pemain kawakan dari orkestra kelas dunia seperti Berliner Philharmonic ataupun London Symphony Orchestra.
MPO memang secara spesifik memiliki program outreach ke komunitas-komunitas, khususnya untuk orang muda dan di bidang pendidikan. Program ini mereka wujudkan secara nyata dengan dibentuknya Malaysian Philharmonic Youth Symphony Orchestra (MPYO) 10 tahun yang lalu. MPYO dibentuk dengan dukungan penuh dari pemerintah, Petronas sebagai sponsor utama dan MPO dengan harapan bibit-bibit muda yang mereka pupuk ini di kemudian hari dapat mengharumkan nama Malaysia di dunia internasional, dan tentunya menggantikan posisi-posisi pemain utama di MPO yang sekarang rata-rata masih diduduki pemain impor.
Program outreach ini sebelumnya hanya ditujukan untuk grup dari Malaysia hingga akhirnya pada akhir tahun 2016 lalu, TRUST memberanikan diri untuk mengkontak MPO dan mengikuti audisi. Berbekal keinginan untuk maju dan belajar, ternyata TRUST berhasil lolos dan mendapatkan kesempatan langka ini. Selama empat hari penuh, TRUST ditempa oleh conductor MPO, solois-solois utama mereka baik secara tim besar, sectional (per-keluarga instrumen) maupun secara individual. TRUST juga wajib mengikuti observasi rehearsal MPO agar mereka dapat merasakan betul bagaimana jalannya sebuah rehearsal dan persiapan produksi.
Sebuah joint performance program juga dicanangkan, yang tentunya menjadi beban mental luar biasa bagi TRUST. TRUST dijadwalkan untuk tampil bersama MPYO dan Sekolah Sultan Shah Alam yang merupakan juara nasional kompetisi Wind Orchestra di Malaysia. Lagu yang harus dibawakan adalah lagu nasional Malaysia “Tanah Pusaka” dan lagu rakyat yang dipopulerkan Siti Nurhaliza berjudul “Cindai”. Kedua lagu ini memiliki tingkat kesulitan yang sangat tinggi baik secara individual maupun secara tim karena memang lagu ini ditulis khusus untuk MPO oleh komposernya, dan baru diberikan oleh MPO kepada TRUST Orchestra dua minggu menjelang keberangkatan.
Keramahan dan totalitas adalah dua hal yang kami rasakan betul selama kami mengikuti program ini. Hampir seluruh agenda diadakan di Dewan Filharmonik Petronas Concert Hall yang luar biasa megah dan indah. Selama empat hari di sana, kami betul-betul diberikan akses penuh untuk menggunakan DFP. TRUST diberikan tur backstage DFP sehingga kami dapat mengerti betul bagaimana sebuah pertunjukan dapat dikelola dengan baik dan bagaimana persiapan yang dibutuhkan. Beberapa pengajar pun memberikan waktu mereka secara cuma-cuma di luar dari yang terjadwal hanya untuk membimbing TRUST. Singkatnya, tidak ada istilah kami Indonesia mereka Malaysia, kami diperlakukan sama baiknya, dan diberikan kesempatan sama besarnya dengan anak didik mereka sendiri.
Kami juga merasakan betul keramahan dan suport dari KBRI di Kuala Lumpur terhadap kunjungan ini. Sebuah mini konser diadakan khusus untuk inner circle KBRI dan pada hari terakhir TRUST diterima oleh KBRI dengan acara buka puasa bersama bersama Koordinator Fungsi Pendidikan Sosial Budaya, bapak Trigustono.
Ada beberapa hal yang menjadi catatan lewat kunjungan ini. Pertama, Malaysia sebenarnya melihat Indonesia sebagai raksasa musik Asia Tenggara mengingat banyak sekali penyanyi Indonesia yang sangat popular melebihi artis lokal mereka. Tetapi mereka cukup terkejut dengan budaya orkestra Indonesia yang masih banyak menerapkan lip-sync/hand-sync, khususnya di industri televisi. Entah sampai kapan budaya ini masih terus akan mengakar di Indonesia hanya demi alasan kepraktisan dan instan.
Kedua, peran pemerintah sangat dibutuhkan untuk memajukan kultur orkestra mengingat biaya pembinaan dan pengadaan sumber daya yang sangat mahal. Menurut salah satu staff DFP, 20 tahun yang lalu, Malaysia belum memiliki apa-apa dan masih jauh tertinggal dari era keemasaan Orkestra Radio Republik Indonesia. Sekarang rasanya melihat penampilan MPYO, kita jauh sekali tertinggal. Musisi MPYO diberikan kesempatan untuk belajar dari mentor-mentor mereka di MPO sebanyak yang mereka mau tanpa tambahan biaya dan rutin mengikuti berbagai pelatihan.
Ketiga, penggunaan DFP yang betul-betul accessible and affordable for everyone. Para petinggi MPO membeberkan, salah satu keinginan mereka adalah menjadikan DFP sebuah rumah budaya bagi musisi-musisi Malaysia. Dan apabila kami yang dari Indonesia ini saja diberikan akses penuh untuk belajar dan berkarya di DFP, tentunya tidak terbayangkan privilege bagi masyarakat Malaysia. Sistem kurasi yang jelas tanpa ada calo dan tambahan biaya harus menjadi bahan introspeksi bagi kita semua. Yang paling ironis, harga sewa DFP ditambah tiket pesawat masih tetap lebih murah dari harga sewa beberapa concert hall di Jakarta.
Keempat, dukungan terhadap musisi muda sebagai bentuk investasi masa depan. Pemerintah Malaysia menyadari betul orkestra bukanlah sesuatu yang menjadi tradisi mereka. Maka dari itu mereka berupaya menghadirkan pemain-pemain kelas dunia untuk menjadi mentor bagi musisi muda mereka. MPO banyak menuai kecamaan karena terlalu banyak menggunakan pemain impor di tim mereka. Tetapi dilihat secara jangka panjang, ini adalah sebuah langkah revolusioner untuk membangun kultur baru, sama seperti halnya dulu banyak sekali pelajar Indonesia yang dikirim ke Belanda untuk belajar. MPYO hanya diperuntukan untuk warga negara Malaysia, yang dapat kita lihat ini adalah bentuk penebusan dari MPO yang 75% diisi orang asing. Hal ini menjadi pukulan telak bagi musisi muda Indonesia yang sampai sekarang belum memiliki jenjang karier yang jelas.
Terakhir, seluruh hal yang dicanangkan dan diprogramkan memiliki sistem support dan standar operasional yang baik. Agenda menonton MPO di DFP adalah salah satu highlight yang ditawarkan pemerintah apabila anda mengunjungi Malaysia. DFP berlokasi sangat strategis di pusat kota Kuala Lumpur dan rutin mengadakan konser setiap minggunya dengan berbagai program yang menarik. Sistem rekrutmen MPYO dan agendanya pun sudah dicanangkan dari jauh-jauh hari sehingga mereka memiliki kepastian terhadap kelangsungan nafas MPYO kedepannya.
Kunjungan TRUST ke MPO dikelola mandiri oleh TRUST dengan bantuan dari Musicmind, sebuah organizer yang mengkhususkan diri di bidang pendidikan musik. Seperti yang disampaikan oleh Koordinator Fungsi Pendidikan Sosial Budaya di Malaysia, semoga kedepannya kunjungan ini tidak hanya bermanfaat bagi TRUST tetapi juga untuk misi pertukaran budaya antara Indonesia dan Malaysia. Catatan perjalanan ini dibuat dari sudut pandang TRUST Orchestra dan dari hasil perbincangan dengan staff MPO, MPYO dan khususnya DFP.
~Nathania Karina, DMA adalah penggerak pendidikan musik, direktur musik Trinity Youth Symphony Orchestra dan Direktur Akademis Institut Musik Indonesia.
Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: