Kabar Terkini

3 Kunci Bangun Suara Orkestra Jakarta


Beberapa tahun terakhir, kehidupan orkestra menjamur di ibukota Jakarta. Pun pertunjukan yang rutin diadakan berbasis orkestra dengan pemain tetap juga mulai terbentuk diikuti dengan latihan yang juga rutin. Sudah waktunyakah orkestra Jakarta membangun suaranya dan otentisitasnya?

Kesempatan konser Rotterdam Philharmonic Orchestra beberapa waktu lalu yang hadir di Taman Ismail Marzuki menjadi kesempatan berbagai pemain dan pemerhati musik orkestra ibukota hadir berkumpul bersama dan berdiskusi mengenai perkembangan musik orkestra di kota ini. Menyaksikan orkestra kelas atas Eropa hadir di Indonesia setelah kehadiran New York Philharmonic di medio 1980-an menjadi sebuah momen tersendiri yang patut dikenang. Namun juga terbersit sebuah keinginan mendalam, apakah Jakarta siap membentuk orkestra dengan garapan suara khasnya tersendiri? Pertanyaan ini meluncur dari seorang concertmaster berpengalaman di orkestra ternama di Jakarta yang juga merindukan hadirnya orkestra dengan garapan suara matang di Ibukota yang tentunya adalah sebuah harapan akan pencapaian artistik yang lebih lagi dari sebuah perjalanan orkestra. Hal serupa itu juga pernah tercetus oleh seorang penggerak musik orkestra di Bandung, bukti bahwa persoalan ini bukanlah persoalan parokial semata, namun memang juga dirindukan insan orkestra di Indonesia.

Pertanyaan yang diajukan ini tentunya menggelitik untuk dijawab dan dikupas lebih jauh. Dalam pengamatan penulis sebagai konduktor orkestra dan pengamat manajemen seni musik ada tiga hal penting yang menjadi kunci dalam mengembangkan suara khas dari sebuah orkestra. Tiga hal ini menjadi formula mutlak hadirnya garapan suara orkestra yang khas di sebuah orkestra. Hilang satu berarti sirna pulalah memimpikan orkestra yang berkarakter. Sayangnya menurut penulis, belum ada orkestra di Jakarta yang memiliki seluruh faktor kunci ini, sehingga suara orkestra yang khas masih menjadi angan-angan belaka.

Pertama, tidak adanya orkestra yang bersifat tetap di Jakarta menjadi kendala yang utama. Mayoritas kehidupan orkestra di Jakarta masih bersifat freelance yang berkumpul hanya ketika ada proyek pertunjukan yang harus digarap. Kekerapan pun dapat dikatakan tidak ada, terlebih dengan formasi yang terus-menerus berubah. Saat ini di Ibukota hanya ada dua orkestra dengan pemain tetap yang masing-masing memiliki jadwal pertunjukan satu kali sebulan: Jakarta Simfonia Orchestra dan Jakarta City Philharmonic. Meskipun demikian, karena jarangnya penampilan orkestra tersebut, juga jarang berkumpul menjadi satu, 3-4 hari menjelang pagelaran setiap bulannya. Setelah itu bubar dengan pekerjaan orkestra lain di kelompok yang berbeda.

Belajar dari beragam orkestra di luar negeri – bahkan di negeri jiran (Malaysia dan Singapura) yang baru membangun tradisi orkestra, kekerapan pertunjukan dan latihan bersama menjadi sangat penting. Dengan jadwal konser yang sedemikian jarang (1 per bulan atau bahkan 1 per 2-3 bulan), kekerapan bermain bersama pun juga sangat terbatas. Di beberapa orkestra yang memiliki kekerapan pertunjukan paling tidak 4 kali dalam sebulan dan jadwal pertunjukan tersebar merata setiap minggu, pemain orkestra pun harus bermain bersama setidaknya 4-5 hari dalam sepekan. Orkestra pun menjadi semacam klub pemain bola di mana pemain berlatih bersama di hari kerja dan kemudian bertanding di akhir musim. Pola seperti apabila dilakukan dengan rutin tentunya akan mengembangkan kerja sama antar musisi di dalam orkestra dan mampu mengembangkan karakter dan irama permainan bersama-sama.

Jakarta Simfonia menyiasati persoalan ini dengan adanya latihan pemain inti di setiap minggunya selama hampir sembilan tahun terakhir ini. Namun orkestra ini belum berbekalkan penampilan yang cukup rutin sehingga pelatihan pemain inti hanya sekali sepekan dan hanya mencakup sekitar 15 orang pemain inti dari seluruh orkestra yang berjumlah sekitar 50 orang, sedangkan formasi 35 orang selebihnya terus berubah. Di sisi lain Jakarta City Philharmonic meski memiliki barisan yang tetap, hanya berlatih bersama 3-4 hari dalam sebulan. Tentunya jumlah ini kurang untuk menggarap suara khas dan kolaborasi yang padu dari sebuah orkestra. Apalagi orkestra lain yang bersifat proyek yang hanya berkumpul dua sampai tiga kali setahun untuk menggarap satu pertunjukan semata.

Kedua, tidak hadirnya konduktor yang kompeten untuk menggarap suara khas orkestra. Indonesia bukanlah kekurangan konduktor berkualitas, tetapi memang sulit untuk menemui seorang konduktor yang mampu menggarap suara orkestra secara berkesinambungan untuk orkestra di Jakarta. Keterbatasan waktu latihan tentunya menyulitkan untuk menyiapkan sesi khusus untuk menggarap suara orkestra. Jujur saja, pasar konduktor orkestra di Jakarta banyak bersifat tertutup. Di satu sisi, pasar yang tertutup dan berkonsentrasi pada bibit dalam negeri adalah baik untuk pertumbuhan bibit muda konduktor orkestra di Indonesia. Meski demikian, di sisi lain orkestra ibukota juga akhirnya jarang mendapat kesempatan untuk menjajal talenta dari luar negeri sendiri.

Jakarta Concert Orchestra, Jakarta City Philharmonic dan Twilite Orchestra memiliki konduktor tetap yang mumpuni. Meski demikian, keterbukaan orkestra untuk menerima konduktor luar masih menjadi tanda tanya dan kekerapan pertunjukan pun masih kurang sehingga konduktor tidak sungguh punya waktu untuk mengembangkan kualitas suara orkestra dan lebih berfokus memastikan target pertunjukan di depan mata tercapai. Avip Priatna dengan paduan suara Batavia Madrigal Singers mampu mencapai tingkat artistik yang luar biasa karena fokus dan kekerapan yang terjaga, agak berbeda dengan JCO garapannya. Tommy Prabowo hingga saat ini dengan JCP berjuang untuk melebarkan khasanah repertoire orkestra sehingga penggarapan suara dan karakter belum tercapai. Di sisi lain, Jakarta Simfonietta dengan kepemimpinan Iswargia Sudarno mengambil format yang lebih kecil, mampu menggarap suara secara konsisten, memang belum terkategori orkestra simfoni yang lengkap. Jakarta Simfonia Orchestra hanya merasakan kehadiran konduktor yang matang apabila penasihat artistik Jahja Ling dan associate conductor Rebecca Tong tampil di atas pentas, sehingga seringkali kualitas penampilan orkestra pun naik turun. Kehadiran konduktor tamu pun masih sangat jarang di Indonesia sehingga agak sulit bagi banyak insan orkestra melakukan studi banding dan memperluas wawasannya.

Ketiga, bagi banyak manajemen orkestra di Indonesia, visi pencapaian artistik dan kekhasan masih menjadi prioritas kesekian sehingga langkah-langkah operasional yang diambil juga belum merefleksikan pencapaian visi ini. Cukup banyak orkestra di Indonesia yang hanya berpikir jangka pendek, ada hanya untuk memastikan tujuan proyek tersampaikan. Harus dikatakan, banyak musisi dan manajemen orkestra juga masih acuh tak acuh atas peningkatan kualitas artistik dan membangun budaya organisasi yang mendukung penggarapan suara otentik orkestra. Tidak banyak akademisi musik yang sungguh peduli akan kualitas suara orkestra dalam pendidikan tinggi yang mereka bina, terlebih dengan perputaran regenerasi pemain yang keluar masuk setiap tahunnya. Sekalipun dicoba digarap dalam dunia akademik musik, namun pelaksanaan paripurnanya hanya akan mungkin dalam setting orkestra profesional yang seharusnya lebih stabil dan konsisten.

Orkestra berbasis proyek seperti Twilite Orchestra, Jakarta Simfonietta serta Jakarta Philharmonic/Orkes Simfoni Jakarta lebih memilih pendekatan proyek tanpa banyak visi pencapaian kualitas suara orkestra. Selain itu, banyak orkestra yang masih berada dalam mode ‘bertahan hidup’. Jakarta Simfonia Orchestra pun beberapa kali lewat konduktor utama dan penggagasnya Pendeta Stephen Tong mengeluhkan kesulitan dana sehingga alhasil tidak dapat banyak merekrut konduktor yang berkualitas untuk mendongkrak kualitas. Jakarta City Philharmonic sebagai bagian dari insiatif Bekraf lebih mementingkan aspek showcasing talenta musik lokal dibandingkan menggarap sebuah kelompok orkestra yang menjadi ciri khas ibukota. Nusantara Symphony Orchestra pun saat ini kembang kempis selama beberapa tahun terakhir ini dengan jumlah penampilan yang minimum.

Jujur saja, untuk mencapai hal ini, banyak pekerjaan rumah yang teramat menantang. Pembekalan musisi orkestra dan juga konduktor memegang peranan penting dalam segi pendidikan maupun capaian artistiknya. Kesadaran bahwa musik bukan hanya sekedar memainkan nada dengan benar dan baik namun sungguh otentik masih perlu untuk dibangun oleh musisi. Konsistensi program yang dibangun oleh manajemen dan digarap oleh konduktor yang kompeten secara berkelanjutan juga sangatlah vital. Berbekal konduktor besar dan hebat yang hadir dua-tiga kali dalam setahun tidak cukup. Pertunjukan satu kali sebulan juga belum efektif untuk mencapai otentisitas ini.

Tiga hal ini esensial dalam upaya membangun sebuah tradisi berorkestra, dan membangun tradisi berkualitas memang tidak pernah sebentar, mudah dan murah. Dan untuk kedua kawan penulis, perjalanan Jakarta masih panjang kita membutuhkan satu organisasi yang mampu meramu ketiga unsur di atas menjadi satu, menggarap suara orkestra lalu kemudian menemukan otentisitasnya.

 

Iklan
About mikebm (1302 Articles)
An arts journalist, a conductor, an educator, a young arts manager whose passion drove him to leave a multinational IT cooperation to study Arts Administration and Cultural Policy in London and went back to Indonesia to build the scene there.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: