Kabar Terkini

Musik Perkusi vs Tiupkayu, Modern vs Barok: Duo Blockstix


~oleh Bowie Djati

Sydney baru saja diramaikan oleh Vivid Festival, sebuah pesta cahaya yang menampilkan pantulan cahaya pada landmark dan ikon kota tersebut seperti Opera House, Museum 0f Contemporary Art, dan juga Harbour Bridge. Permainan cahaya yang berupa video mapping pada cangkang atau kubah Opera House ini sangat menghibur bagi warga maupun para pendatang. Dan tentunya serangkaian kegiatan seni dirancang dan digelar menyertai kegiatan inti tersebut, seperti konser atau opera juga drama musikal yang diselenggarakan oleh Australia Opera, Sydney Symphony, dan kebanyakan berpusat di Sydney Opera House.

Salah satu resital yang cukup menarik untuk disaksikan, adalah penampilan Duo Blockstix, yakni duet Joshua Hill pada perkusi dan Alicia Crossley pada recorder atau blockflute. Konser ini digelar Sabtu tanggal 17 Juni di Utzon Room, Sydney Opera House.

Melihat set-up instrumentasi yang ada di depan panggung di sebuah ruang serbaguna yang layaknya dipakai untuk seminar atau lokakarya, maka sebenarnya yang dilakukan Duo Blockstix bisa dibilang menggabungkan kedua kegiatan lokakarya dan resital menjadi satu. Sebuah marimba konser di sisi kiri panggung, sementara sederet cymbals juga berbagai perangkat metal berada di sisi kanan. Di tengah, ada sebuah meja yang menjadi tempat untuk meletakkan berbagai jenis blockflute mulai dari soprano hingga bass-recorder.

Adalah Utzon Room, sebuah venue yang didedikasikan kepada Jørn Utzon sang perancang gedung Opera House ini yang menjadi tempat berlangsungnya pementasan, dan boleh dibilang cukup hidup suasana konser di ruangan berkapasitas  200 penonton ini. Harga tiket yang dipatok AU$40.00, (atau plus CD AU$60), penonton duduk di ruangan berjendela besar di sisi kanan, yang menampilkan pemandangan laut dengan berbagai kapal yang hilir mudik. Selain tampil dalam rangka Sydney Vivid Festival, konser Duo Blockstix ini juga dalam rangka peluncuran album mereka, yang karya-karyanya ditampilkan dalam konser ini. Selain di Sydney, duo ini juga tampil di Wesley Music Center Canberra, dua hari sebelumnya.

Dalam memainkan setiap komposisi, Joshua dan Alicia senantiasa mengundang komponisnya untuk tampil ke depan memberikan penjelasan singkat mengenai karya yang mereka tulis. Enam dari tujuh karya yang dimainkan merupakan world premiere, yang oleh masing-masing komponis diungkapkan niat eksplorasi dalam menggabungkan unsur kuno dan kekinian.

Recorder atau blockflute adalah “flutes with a whistle mouthpiece”. Instrumen musik dengan kekhasan suara dari era renaisans dan barok. Sementara marimba adalah sebagai ciptaan abad 20. Eksplorasi kedua jenis instrumen dari zaman yang berbeda ini tentu saja menampilkan bebunyian yang unik. Apalagi kemudian dalam keseleruhan repertoar, para komponis lebih menyukai bass recorder dalam menuangkan pemikirannya pada Sabtu 17 Juni tersebut.

Eksplorasi tidak hanya diwakili oleh recorder saja sebagai penarasi, marimba pun turut ambil bagian, misalnya memainkan bilah  marimba menggunakan bow atau penggesek kontrabas, hal mana lebih biasa terjadi dalam instrumen cymbal. Perpaduan bilah marimba di wilayah rendah, dipadukan dengan bass recorder atau sebaliknya ketika mengambil nada tinggi, Alicia pun langsung sigap menggantinya dengan soprano recorder, sehingga komponis Peter McNamara dalam karyanya Duo-Generare, ingin menampilkan kombinasi “odd-couple” berjalan dengan manis.

Lazimnya, jika pemain perkusi memainkan marimba yang merupakan instrumen ‘kayu’ maka untuk melengkapinya ia akan menggunakan vibraphone yang mewakili ‘rasa’ logam. Ini tidak. Sisi kanan panggung memang terdiri dari unsur metal, namun kebanyakan adalah cymbal dari berbagai ukuran, serta bilah-bilah metal yang diletakkan di atas busa, sehingga tentu saja menahan resonansi. Hal yang sama juga ketika memainkan cymbalsnya, Julian selalu menahan bunyinya. Ini terungkap dalam Resonant Voice karya Damian Barbeler yang memang ingin menampilkan perbedaan ekstrim dari kedua jenis instrumen ini sehingga masing-masing dapat tampil bernarasi. Bass recorder dengan register rendahnya dibuat untuk menampilkan lirik puitis sementara instrumen metal bisa menanggapi dengan lirih, teriak, atau bahkan merintih.

Damian memang mencoba untuk melakukan sebuah musikalisasi puisi, yang uniknya ditampilkan sengaja buram. Ia pun meminta penonton untuk menebak apa isi puisi tsb. Nah Alicia dan Joshua memainkan karya ini beriringan dengan tampilan puisi yang buram di layar. Sedikit humor dilontarkan komponisnya sebelum kedua musisi memulai permainannya. “Mohon maaf saya harus menutup jendela ini karena layar akan diturunkan. Ya saya tahu pemandangan di luar sangat bagus, bukan? Saya pun ingin menikmatinya”. Karena pada saat menyampaikan sambutannya, sebuah kapal pesiar nan mewah baru saja melintas, dan itu adalah pemandangan yang sangat menakjubkan.

~Bowie Djati adalah timpanis Bandung Philharmonic dan pengajar di STKIP Musik Pono Banoe dan Institut Kesenian Jakarta

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: