Kabar Terkini

Untuk Ibu dan Ayah di Luar Sana: Mari bernyanyi!


~oleh Monica Subiantoro

Sudah lama saya tidak menulis, namun kali ini sepertinya tidak terelakkan karena banyak sekali yang masuk ke dalam kepala dan hati saya selama 5 hari terakhir di acara The 15th World Music Therapy Congress di Tsukuba, Jepang. Acara yang diselenggarakan tiap 3 tahun oleh The World Federation of Music Therapy dan kali ini dihadiri oleh lebih dari 2300 peserta, menjadi labuhan dari terapis musik di seluruh dunia beserta profesi-profesi lain yang terkait untuk berkumpul dan berbagi ide, pengalaman, dan rancangan karya di masa depan. Sudah seyogyanya sebagai terapis musik kami senantiasa memperbarui ilmu pengetahuan karena manusia terus berubah, pun demikian pendekatan dalam praktek maupun penelitian terapi musik yang disesuaikan dengan perkembangan jaman. Sangat berbahagia bahwa kali ini Indonesia diwakili oleh 7 orang delegasi yang terdiri dari terapis musik dan mahasiswa terapi musik Universitas Pelita Harapan, dan salah satu di antaranya, Jessica Hariwijaya, memenangkan WFMT Student Awards 2017.

Di antara begitu banyak presentasi, baik dalam bentuk presentasi oral, simposium, loka karya, poster, dan round table, ada beberapa hal yang sangat menarik perhatian saya, terkait dengan kecintaan saya dengan terapi musik dan keluarga. Salah satu di antaranya adalah presentasi dari Vicky Abad, seorang terapis musik dan peneliti terapi musik dari Queensland, Australia, mengeksplorasi dan merefleksikan peran musik dalam populasi anak usia dini serta identitas musikal orang tua dalam mengasuh anak. Ia memulai pemaparannya dengan mengingatkan kembali akan fungsi sosial musik. Fungsi ini jelas memudar sesuai dengan perkembangan teknologi. Musik bukan sesuatu yang dibagikan dan dimiliki bersama-sama lagi. Peran pemutar musik (misalnya kaset atau CD) yang memainkan musik untuk didengarkan bersama-sama, kini dinikmati secara individual melalui handphone atau ipod yang dihubungkan ke earphones.

Dengan meningkatnya budaya konsumerisme, peran musik dalam masyarakat pun terpengaruh. Lagu yang dulunya digunakan ibu untuk menidurkan bayinya, untuk berinteraksi dan merekatkan hubungan dengan anaknya, kini lebih banyak diperhitungkan sebagai cara untuk membuat seorang anak (semakin) pintar. Mozart Effect, misalnya – mungkin terdengar familiar bagi anda? Peran musik yang lain, misalnya dalam perkembangan kepercayaan diri, koordinasi fisik, terabaikan karena fokus utama di bidang kognisi. Interaksi musikal dalam bentuk bernyanyi bersama, sahut-menyahut, yang berkembang membentuk kelekatan bayi dan ibunya (dan/atau ayahnya) yang akan mempengaruhi perkembangan emosional dan menjadi tolak ukurnya dalam hubungannya di usia yang lebih dewasa, seolah-olah terlupakan.

Fenomena ini didukung oleh maraknya sosial media yang menyebarkan mengenai hal-hal yang sudah terkemas oleh berbagai opini. Ironisnya, orang tua modern memiliki tendensi mencari informasi melalui sosial media ketimbang menilik lebih jauh hasil sumber terpercaya, misalnya penelitian ilmiah yang diterbitkan. Ketika orang tua meninggalkan intuisi mereka dalam merawat dan membesarkan anak, dan berpindah ke pengetahuan yang sudah berbaur dengan elemen subjektif lain tanpa melihat ke potensi dirinya sebagai seorang makhluk musikal, apakah yang terjadi?

Abad mengingatkan akan peran musik, bukan hanya bagi anak, namun juga orang tuanya. Pada setting Neonatal Intensive Care Unit (NICU), misalnya, terapis musik memfasilitasi interaksi musikal bayi dan ibunya agar bayi lebih tenang (regulasi detak jantung dan pernafasan) sehingga dapat berkembang dengan baik. Tapi manfaat terapi musik tidak berhenti di situ. Sang ibu/ayah yang menggendong, menimang, dan bernyanyi pada bayinya mendapatkan kepercayaan diri ketika ia melihat suatu perubahan pada perilaku bayi. Pada saat bersamaan sang ibu/ayah menemukan (kembali) identitas musikalnya yang mengiringinya memulai peran baru sebagai orang tua.

Wahai ibu dan bapak, apakah anda bernyanyi pada/untuk/dengan anak anda? Baik nursery rhymes, lagu kesukaan, atau nada hasil improvisasi anda; baik merdu maupun sumbang (terlepas siapapun yang mengatakannya); biarlah bayi anda mengenal suara anda. Singkirkan sejenak segala piranti elektronik, ambil waktu dengan bayi anda, bermusiklah bersama, bermain – mengeksplorasi nada, tempo, dinamik, timbre, irama, segala elemen yang musik dapat tawarkan, karena semua itu milik anda. Selamat bermusik!

~ Monica Subiantoro, M.A. adalah terapis musik berlisensi di Indonesia yang juga adalah staf dan pengajar Terapi Musik di Conservatory of Music Universitas Pelita Harapan. Menyelesaikan pendidikan di Inggris, ia adalah satu dari sedikit terapis musik berkompeten di Indonesia.

Iklan

2 Comments on Untuk Ibu dan Ayah di Luar Sana: Mari bernyanyi!

  1. Terima kasih untuk tulisannya. Saya sangat setuju. sayangnya mMasih banyak orang tua yang sudah meniggalkan budaya senandung ibu untuk anaknya sebagai media untuk berkomunikasi dan berelasi. Semoga dapat menginspirasi para ibu dan ayah untuk kembali bernyanyi untuk anak-anaknya.

  2. Saya jadi tergugah dan ingin segera pulang untuk bernyanyi bersama anak saya

1 Trackback / Pingback

  1. Ayah dan Ibu, Mari Bersenandung dengan Buah Hati Anda! | musickin' therapy

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: