Kabar Terkini

Enigma Schumann dan Imaji Sjuman


Schumann dan Sjuman mungkin adalah kesamaan nama yang tidak pernah disengaja. Namun dalam konser semalam dari Jakarta City Philharmonic, kesamaan baca dua nama ini menjadi alasan disandingkannya dua komponis, Robert Schumann yang adalah komponis besar Jerman di abad 19 dengan Aksan Sjuman yang adalah musisi serba bisa Indonesia yang merambah musik pop, jazz hingga klasik. Tajuk konser pun tertulis ‘S(CH/J)umanniana’ yang merujuk pada kegemaran pada dua orang musisi ini.

Namun kesamaan nama tidak membuat konser menjadi lebih mudah. Konser pun berputar urutan dari yang sedianya adalah standar, musik baru/overture, konserto dan ditutup dengan simfoni, berubah menjadi simfoni, konserto dan musik baru. Hal ini tentu membuat beberapa pecinta musik klasik yang paham pakem ini bertanya-tanya, “Ada apa gerangan dengan program konser malam itu?” Sejauh pengamatan penulis, tidak ada maksud khusus untuk mengambil pendekatan ini, terkecuali alasan praktis pertunjukan yang dinginkan berujung pada karya Aksan Sjuman yang memang menjadi salah satu musik yang paling mudah untuk dipahami dan dinikmati dalam pertunjukan semalam.

Musik Robert Schumann adalah salah musik yang paling enigmatik dalam repertoar musik zaman romantik. Membuka konser dengan Simfoni no.4 dalam D minor, op.120, merupakan tindakan yang cukup berani. Ditulis menjelang akhir hayat Schumann, karya ini adalah simfoni terakhir karya Schumann yang diselesaikan tahun 1851, meskipun sebenarnya telah digarapnya sejak tahun 1841, tidak lama setelah ia menyelesaikan simfoninya yang pertama. Dirundung depresi, bipolar dan schizophrenia di akhir hayatnya karya ini mengandalkan kefasihan orkestra menjalin kalimat dan permainan dialogis musik kamar yang sangat erat.

Di bawah pimpinan Budi Utomo Prabowo, orkestra ini perlahan mampu menjalin setiap not dan kalimat. Namun kohesi dan suara belum mampu tergarap dengan apik semalam. Selain persoalan intonasi, keberanian untuk mengeksekusi tidak diikuti dengan keluwesan permainan musik kamar dan ekspresi yang diperlukan untuk menjadikan karya ini dinamis dan logis, sebuah tantangan yang tentunya berat bagi ensembel manapun, namun sungguh terlihat dalam pertunjukan semalam. Beberapa kali orkestra mendahului abaan konduktor meski musik mengindikasikan perlunya lantunan frase yang lebih fleksibel. Alhasil, meski rampung, penonton kesulitan untuk mencerna secara utuh musik indah yang disampaikan semalam.


Di babak kedua giliran cellis senior Indonesia yang juga adalah dosen Institut Seni Indonesia, Asep Hidayat Wirayudha, yang hadir bersama orkestra untuk membawakan salah satu karya penghabisan dari Robert Schumann, Cello Concerto dalam A minor, op.129. Karya yang tergolong monumental dalam repertoar cello ini mampu digarap disampaikan dengan cukup baik oleh Asep Hidayat lewat eksekusinya pada bagian-bagian sulit. Budi Utomo Prabowo pun memimpin dengan presisi.

Namun lagi-lagi permasalahan pemainan musik kamar menjadi persoalan. Dengan keseimbangan suara yang lemah dari orkestra diperburuk dengan akustik Gedung Kesenian Jakarta yang memang kurang mendukung, Asep dan konduktor Budi Utomo berjuang untuk menjalin kolaborasi yang padu dari menjalin frase musikal hingga penggarapan warna. Sayangnya diskoneksi antara orkestra dengan solois menjadi sungguh terasa semalam sehingga interaksi antara orkestra dengan solois tidak dapat disaksikan dengan utuh semalam dimana orkes seakan asing dengan permainan solois cello yang hadir di depan. Orkestra dalam jalinan tutti pun seringkali menelan proyeksi solois yang sepatutnya dijaga kesimbangannya. Jalinan tekstur musikal intens yang dibarengi dengan nafas musikal yang unik yang menjadi salah satu kekuatan Schumann seakan belum dapat tersampaikan semalam dalam karya musik yang terdiri dari tiga bagian yang menyatu ini.

Justru pertunjukan musik baru dari Sri Aksana Sjuman yang diperdanakan malam itu yang menarik perhatian. Aksan Sjuman menyebut karya berjudul Under Umbrella for M tidak berangkat dari teknik komposisi apapun namun mengalir dengan sendirinya. Meskipun demikian, pengembangan musiknya yang berdasarkan pengulangan dan ostinato dan pengembangan tekstur lewat alur not, pemainan ritme dan not hias yang menjadi kunci dalam kotekan gamelan terasa lewat musiknya yang perlahan menjadi kaya dan berwarna. Dibuka dengan sapaan nyanyian klarinet, garapan kelompok grup vokal yang memberi warna berbeda dan denting piano dan harpa yang menjadi tulang punggung dalam permainan membuat karya sepanjang hampir 25 menit ini berwarna dan menyejukkan untuk didengar.

Didedikasikan untuk putrinya, Aksan membangun kisah yang deskriptif secara aural, seakan berusaha bercerita dan membangun imaji di hadapan penonton di Gedung Kesenian Jakarta semalam tanpa tantangan teknis bagi pemain. Penulis pun seakan dibawa masuk dalam permainan musik yang melatari sebuah film yang berputar di benak masing-masing penonton tanpa ada upaya menjalin khusus bagian per bagian karya tersebut. Ketiga bagian ini menjadi sebuah eksplorasi alami musik tanpa ada kesan rekayasa yang berlebih. Sayangnya pengembangan di bagian tengah musik sempat terasa stagnan dalam pengembangan garapan. Karya pun ditutup dengan manis. Pemainan col legno dari seksi gesek semalam yang menyerupai bunyi gerimis di penghujung musik, dibarengi dengan degup payung-payung yang perlahan terbuka di antara pemain orkestra menjadi warna suara yang apik. Permainan pun perlahan senyap bersamaan dengan kibasan payung yang terbuka dari tangan konduktor Budi Utomo Prabowo.

Menjangkau karya Schumann memang bukan upaya yang mudah, dan memang masih dibutuhkan kematangan dari sisi penampil semalam untuk lebih mampu menyajikan pertunjukan yang lebih solid, terlebih untuk karya yang memang secara bentuk tidak mudah ini. Lewat dua karya ini nampaknya, enigma musik Schumann tampaknya belum dapat dijawab oleh penampil bagi pendengarnya. Meski demikian, sajian Sjuman menjadi penutup manis yang membawa senyum bagi para penonton konser yang berlangsung hingga cukup larut, nyatanya sebuah keputusan yang baik dari konduktor Budi Utomo Prabowo semalam.

Iklan
About mikebm (1265 Articles)
An arts journalist, a conductor, an educator, a young arts manager whose passion drove him to leave a multinational IT cooperation to study Arts Administration and Cultural Policy in London and went back to Indonesia to build the scene there.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: