Kabar Terkini

Magis Musik dan Cascade Trio


Hari Minggu lalu di Galeri Indonesia Kaya, Cascade Trio hadir bersama pesulap Robert Stevan. Dikemas dalam suasana informal namun terasa intim, pertunjukan Minggu siang itu menjadi perspektif tersendiri di mana musik seni termasuk musik klasik memiliki fleksibilitas dalam olahan pertunjukan.

Konsep sulap dan musik bisa jadi bukanlah pasangan yang ‘normal’. Namun dalam pertunjukan kemarin terlihat bahwa keduanya mampu berinteraksi dengan cakap dan menyatu dalam sebuah rona bernama ‘pengalaman’. Pengalaman akan musik yang reflektif ke dalam bercampur dengan kelihaian sulap yang melahirkan rasa takjub sehingga melahirkan pengalaman yang berbeda namun tetap menarik untuk disimak.

Pilihan lagu Cascade Trio yang banyak bertolak dari aransemen lagu etnik untuk format piano trio memberikan suasana yang familiar dan nyaman bagi penonton yang tidak semuanya pecinta musik klasik. Penggarapan yang berfokus pada variasi dari tema melodi lagu yang dikenal semua tentunya asyik dan menarik untuk didengar. Namun yang justru perlu diapresiasi adalah bagaiman Robert Stevan yang adalah seorang mentalis mampu menyusun aksinya sebagai pengantar terhadap musik yang akan dibawakan Cascade Trio ketika Robert mengeluarkan sebuah penggesek biola dari sebuah amplop kertas untuk masuk ke lagu Tanah Airku, ataupun ketika kertas-kertas angka yanh dipilih penonton akhirnya dapat tersusun menjadi tema dari lagu Anging Mamiri. Pun gambar ajaib juga membawa penonton menikmati Ampar-ampar Pisang yang kemudian dibawakan Cascade Trio yang beranggotakan Lidya Evania pada biola, Ade Sinata pada cello dan Airin Efferin pada piano.

Secara dari segi komposisi musik, tema dan variasi ini memang tidaklah terlalu mengandalkan virtuositas dalam eksekusinya. Namun nampaknya kesederhanaan menjadi titik akses penonton untuk mampu mengapresiasi musik format trio yang memang belum banyak dikenal di Indonesia.


Cascade Trio juga membawakan bagian keempat dari Piano Trio no.2 dari komponis Rusia Dmitri Shostakovich yang ditulis di masa kekelaman Perang Dunia kedua. Pun pertunjukan pun ditutup dengan karya Budi Ngurah Variasi Pelog. Meskipun tidak dimainkan dalam keseluruhannya, karya yang kental memberikan nuansa Indonesia yang kental lewat permainan susunan nada-nada yang biasa dimainkan di instrumen gamelan. Namun yang membuat pertunjukan kemarin lebih menarik adalah aksi Robert Stevan yang melukis dengan cahaya, mewarnai kanvas putih dengan semburat cahaya yang berpendar di ruang pertunjukan yang gelap bersamaan dengan ekspresi musik yang dibawakan.

Pertunjukan kemarin adalah lawatan Cascade Trio ke Jakarta sebelum pergi ke Apple Hill AS untuk mengikuti lokakarya musik dan pelatihan. Tentunya, sebuah pertunjukan unik untuk mengisi akhir pekan.

Iklan
About mikebm (1265 Articles)
An arts journalist, a conductor, an educator, a young arts manager whose passion drove him to leave a multinational IT cooperation to study Arts Administration and Cultural Policy in London and went back to Indonesia to build the scene there.

2 Comments on Magis Musik dan Cascade Trio

  1. Dream Lab // 18 Juli 2017 pukul 12:08 am //

    Thank you tulisannya…
    Keren abis..
    Thank you juga udah datang & menikamti konser kemarin..

  2. Dream Lab // 18 Juli 2017 pukul 12:08 am //

    Thank you tulisannya…
    Keren abis..
    Thank you juga udah datang & menikamti konser kemarin..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: