Kabar Terkini

Kilas Grand Tour Jakarta Simfonia di 7 Kota


Tujuh kota dikunjungi, tujuh konser dalam tujuh hari adalah prestasi yang luar biasa bahkan dalam skala internasional sekalipun, namun sayangnya tidak banyak dikupas oleh media dalam negeri. Ya, Jakarta Simfonia Orkestra bersama dengan Jakarta Oratorio Society di bawah besutan Stephen Tong telah membawa misi musik klasik yang luar biasa, dengan konser gratis di Semarang, Surabaya, Malang, Denpasar, Solo, Jogja dan Bandung dan ditonton ribuan orang.

Rombongan 156 orang musisi dan penyanyi berangkat bersama dengan berbagai perlengkapan dan instrumen, membawakan musik untuk dibagikan secara cuma-cuma. Apresiasi harus diberikan terutama ketika banyak organisasi seni Indonesia sibuk mengarahkan mata ke luar negeri, JSO mengarahkan pandangannya ke dalam negeri untuk menjangkau berbagai kota, baik yang berada dalam peta perorkestraan Indonesia maupun yang bukan. Nyatanya, memang tidak harus keluar negeri, Indonesia sendiri pun masih membutuhkan eksposur yang lebih untuk memasyarakatkan musik orkestra. Beragam kisahpun terjadi yang menjadi buah serunya aktivitas yang perdana dan tentunya membutuhkan komitmen yang luar biasa untuk seluruh pihak. Berikut adalah sedikit refleksi dari beberapa pemain orkestra JSO yang berhasil penulis rangkum.

Konser ini memang menjadi ajang pembuktian. Beberapa orang, termasuk musisi memang mengkhawatirkan aspek stamina. Bagaimana tidak, 156 orang berangkat bersama pagi-pagi menuju bandara atau bus, untuk berangkat ke kota tujuan. Tiba siang, istirahat sebentar kemudian berlanjut dengan latihan dan cek soundsystem selama satu jam di tempat konser di kota tujuan, lalu konser di malam hari hingga larut. Program yang berdurasi 120 menit lebih  bukanlah konser yang pendek setiap malam. Selesai pun hari sudah larut malam, lalu kemudian dilanjutkan kembali ke penginapan untuk istirahat untuk esoknya rutinitas yang sama kembali berulang di tempat yang baru.

Jane Irene violis dikarenakan penyakit lupus yang dideritanya memang tidak boleh kelelahan, namun rangkaian tur kemarin adalah bukti baginya bahwa seorang penderita lupus pun mampu tetap konsisten berkarya dalam kondisi apapun. Beberapa pemain yang lain meskipun menyebutkan lelahnya konser beruntun, namun hampir semuanya tampak menjalaninya dengan bersemangat dan berusaha menikmati setiap waktu yang dilalui bersama bahkan untuk menambah tenaga tidak sedikit yang memutuskan keluar malam bersama untuk mengisi perut dan mendapat suntikan STMJ (susu-telur-madu-jahe) di warung pinggir jalan. Beberapa bahkan mencuri waktu untuk berkunjung ke obyek wisata setempat sebelum dipanggil jalan ke kota tujuan. JSO Tur 2

Flutis Marini Widyastari menyebutkan bahwa meskipun awalnya ada kekhawatiran soal stamina, namun kebersamaan sesama musisi dan tim pendukung berkembang terus sepanjang rangkaian konser. Seluruh pemain, penyanyi dan panitia berusaha bersikap sebaik-baiknya untuk mendukung kegiatan ini agar tidak merugikan rekannya yang lain, sebuah bukti kebersamaan dan rasa tanggung jawab yang terbangun. Selain itu, kebersamaan ini juga berdampak secara musikal. Musisi pun menjadi lebih terlatih untuk mendengarkan dan mengembangkan kemampuan bermain musik kamar, terlebih ketika orkestra juga harus menyesuaikan diri setiap kali dengan gedung dan akustik yang berbeda untuk tetap memberikan performa terbaik meski kelelahan mungkin mendera. Baginya kesabaran dan kekuatan pikiran adalah kunci yang sentral untuk berhasilnya rangkaian ini. Wen Wen Bong, concertmaster, justru mencatat bahwa justru permainan semakin hari semakin membaik karena kebersamaan dan rutinitas yang terbangun yang tercermin dalam permainan musik yang lebih baik di hari ke hari. Rangkaian konser ini baginya juga menjadi bukti persatuan yang tergambar dalam orkestra di mana orang-orang dari latar belakang yang berbeda, suku, agama, ras yang berbeda bersatu saling membantu dan menghargai untuk menghasilkan musik dan persahabatan yang harmonis.

Wen Wen Bong juga menyatakan kekagumannya pada kehadiran penonton yang selalu penuh dan bahkan rela berdiri di pinggir-pinggir untuk menyaksikan musik yang dibawakan. Meskipun ini konser gratis namun ini juga bukti bahwa musik klasik sebenarnya memiliki tempat di hati masyarakat yang berbondong-bondong meluangkan waktu untuk menonton. Apresiasi pun dilayangkan dengan bersemangat dan sebagimana kebiasaan di Aula Simfonia Jakarta (markas JSO) standing ovation juga terjadi berbagai kota untuk orkestra ini bersama dengan Stephen Tong yang mengaba pertunjukan demi pertunjukan di usianya yang tidak lagi muda.

Marini Widyastari dan Wen Wen Bong sama-sama mengapresiasi kerja panitia yang sedemikian baik sehingga acara demi acara dapat berlangsung dengan lancar. Tim panitia pun terbagi menjadi dua, tim pusat yang mengatur jalan secara umum dan juga panitia lokal yang mengoperasikan acara dari setiap kota. Namun ada satu tim yang tidak luput dari pujian mereka, yakni tim audio visual yang hadir mendampingi setiap konser mereka. Mereka yang harus bersiap sebelum cek sound dimulai untuk mengubah gedung apapun menjadi layak bagi sebuah konser orkestra dan terus terjaga sepanjang ceksound dan konser. Mereka pula yang terakhir pulang karena harus merapihkan peralatan sound system untuk kemudian dibawa dalam kargo dan dipasang di kota berikutnya. Mereka adalah pihak-pihak yang tidak terlihat dalam pertunjukan, namun perannya tidak dapat dipungkiri adalah sentral dalam tur ini.

Akhirnya tur Jakarta Simfonia Orchestra bersama Jakarta Oratorio Society ini adalah sebuah pembelajaran bagi seluruh pihak. Musik adalah sebuah anugerah di mana musiklah yang menyatukan dan membuktikan bahwa orkestra adalah salah satu pencapaian dalam kolaborasi bersama berbagai pihak. Bagi dunia musik klasik Indonesia, pencapaian ini adalah sebuah prestasi tersendiri. Mungkin JSO bukanlah orkestra pertama yang melakukan tur, namun visi yang mengutamakan masyarakat Indonesia sendiri juga ambisi yang luar biasa untuk membangun adab bermusik bersama lewat tujuh pertunjukan dalam tujuh hari adalah suatu hal yang memang mengundang decak kagum dari tanggal 9 Juli hingga 15 Juli ini.

Rest well dear musicians in these three days, you did your best. JSO pun tidak bisa bersantai lama. Mereka malah sudah berkonser kembali di markas mereka tanggal 22 Juli ini. Stamina, semangat dan komitmen yang luar biasa? Ya, tentu saja.

JSO Tur

~Terimakasih kepada Marini Widyastari dan Wen Wen Bong yang bersedia menjadi narasumber

 

Iklan
About mikebm (1303 Articles)
An arts journalist, a conductor, an educator, a young arts manager whose passion drove him to leave a multinational IT cooperation to study Arts Administration and Cultural Policy in London and went back to Indonesia to build the scene there.

5 Comments on Kilas Grand Tour Jakarta Simfonia di 7 Kota

  1. ko Mike, setau saya ada Solopos liput konsernya heheh

  2. Harusnya lebih banyak Sarah, ini harusnya sudah masuk skala nasional. Sayangnya media-media nasional lebih memilih adem ayem saja..

  3. Terima kasih telah meliput dan membahas usaha teman2 musik ini.

  4. Anugrah Tuhan yang luar biasa..

  5. iya sii,,, yaaa pemerintah ….. lalalala

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: