Kabar Terkini

Melbourne Symphony ke Jogja


Di bulan Agustus ini, Melbourne Symphony Orchestra (MSO) akan hadir di Yogyakarta dan berkolaborasi dengan musisi lokal. Terjadwal untuk tampil di pelataran Candi Prambanan, Melbourne Symphony akan menjadi orkestra internasional pertama yang akan hadir di situs Warisan Budaya Dunia UNESCO tersebut.

MSO yang berangkat tanggal 30 Juli dari Melbourne pun juga akan hadir dalam kolaborasi dengan peserta Indonesian Music Camp 2016, menyelenggarkan masterclass, lokakarya dan tampil di malam harinya tanggal 4 Agustus 2017. Kehadiran MSO di Jogja ini adalah bagian dari momentum ditandatanganinya Memorandum of Understanding di bidang kerjasaam budaya antara DI Yogyakarta dengan negara bagian Victoria, basis dari Melbourne.

The performance, conducted by Australian-based Maestro Johannes Fritzsch, will include Beethoven’s Second Symphony, two Indonesian compositions, and an Australian work – Peter Sculthorpe’s Jabiru Dreaming.

MSO sendiri adalah salah satu orkestra paling terkemuka di Australia. Berkomitmen untuk terus meningkatkan kualitas, MSO yang beranggotakan 100 musisi permanen ini berusaha memperkaya eksplorasi musik di Australia. Tentunya dengan predikat kota Melbourne sebagai salah satu kota yang paling layak dihuni di dunia, budaya dan seni memiliki tempat yang penting dalam menciptakan kota yang beradab.

Memorandum ini tentunya akan membuka lebih banyak kemungkinan kerja sama antar pemerintah dan penggiat seni dan budaya dan menggiatkan pertukaran budaya antar dua wilayah negeri yang bertetangga ini. Dan untuk menggiatkan itu semua, musik orkestralah yang nampaknya menjadi titik tolak dan ujung tombak diplomasi untuk kerja sama yang akan dilaksanakan di masa mendatang.

Lengkapnya: https://www.mso.com.au/media-centre/news/2017/07/melbourne-symphony-orchestra-to-tour-to-indonesia/

Iklan
About mikebm (1271 Articles)
An arts journalist, a conductor, an educator, a young arts manager whose passion drove him to leave a multinational IT cooperation to study Arts Administration and Cultural Policy in London and went back to Indonesia to build the scene there.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: