Kabar Terkini

Setan Jawa Hadir di Esplanade Singapura


~ oleh Heidi Kabul

Setelah sukses pada Opening Night of Asia Pacific Triennial of Performing Arts 24 Februari 2017 lalu di Melbourne, dilanjutkan dengan pemutaran di Amsterdam (Juli 2017), dan beberapa kali pemutaran di dalam negeri, Setan Jawa, karya sutradara kenamaan Garin Nugroho ini dapat dinikmati di Esplanade, Singapura pada Pesta Raya – Malay Festival of Arts, 21 Juli 2017 yang lalu.

Setan Jawa, film bisu hitam putih yang berdurasi 1 jam 15 menit ini, mengangkat tema mitologi Jawa, mengisahkan seorang pemuda yang jatuh cinta kepada seorang gadis. Tetapi karena perbedaan status ekonomi menghalangi hubungan mereka, maka pemuda ini mengambil jalan mistik yaitu pesugihan untuk meningkatkan status ekonominya. Gaya komunikasi yang digunakan sangat unik dengan menggunakan unsur-unsur seni beraneka ragam seperti koreografi, simbol visual, pantomim, setting, gaya busana dan lain sebagainya. Unsur-unsur ini memberikan ruang intepretasi yang sangat luas kepada penonton. Ada beberapa bagian yang pesannya saya dapat langsung tangkap, tetapi ada beberapa bagian lain yang harus saya coba intepretasikan lebih jauh bahkan baru terpikir setelah pertunjukkan selesai.
Yang membuat film ini juga menarik adalah karena diiringi secara live dengan orkestra gamelan dan orkestra gesek (dan ada beberapa alat perkusi seperti timpani, tubular bell, dsb). Karya untuk orkestra gamelan ditulis oleh komposer asal Indonesia Rahayu Supanggah sedangkan karya untuk orkestra gesek ditulis oleh komposer dan konduktor Melbourne Symphony Orchestra, Iain Grandage (Orkestra gesek di Singapura dimainkan oleh Metropolitan Festival Orchestra).

Kolaborasi ini yang membuat rasa penasaran saya sangat tinggi, bagaimanakah caranya penggabungan dua kebudayaan musik dengan teknis dan prinsip yang sangat berbeda. Rasa penasaran ini terjawab sudah. Teknis penyesuaian microtonal pada gamelan berhasil dilaksanakan pada alat musik gesek. Rasa disonan pada permainan alat musik gesek terus menerus ada sepanjang film. Pada saat fungsinya hanya sebagai film scoring, Grandage mengangkat batonnya sesuai tempo film, terkadang gamelan mengisi sebagai hiasan nuansa Jawa. Saat orkestra gesek hampir menyelesaikan bagiannya, gamelan penghias tadi rupanya adalah pembuka dari karya orkestra gamelan berikutnya. Terbentuklah jalinan terus menerus tanpa henti sepanjang film. 


Prinsip permainan dua kebudayaan musik ini juga bisa terlihat, bagaimana orkestra gesek masih dipimpin oleh seorang konduktor dan membaca partitur, sedangkan orkestra gamelan bermain tanpa partitur dan konduktor. Namun disitulah keunikannya, mereka bisa bermain di panggung yang sama mengiringi karya yang sama.

Gamelan tidak lengkap jika tidak ada pesinden. Mereka menyanyikan nada-nada bercengkok, lirik Jawa, lengkingan dan terkadang menyanyi seperti lirihan orang menangis. Suara mereka menciptakan atmosfer mistis dan sentuhan Jawa yang sangat kental.

Awalnya saya tidak tahu apakah antusiasme penonton di Singapura ini sebesar penonton di negara lain. Tapi nyatanya kursi penonton sebagian besar terisi. Sepertinya penonton bukan hanya orang Singapura saja, tetapi juga ada orang Malaysia, Indonesia, dan lain sebagainya.

Bagi saya karya Garin Nugroho ini bukanlah seni yang dapat dinikmati dengan ringan. Semua unsur bersatu padu memberikan level seni ke tingkat yang lebih tinggi. Dalam hal musik Indonesia, saya bangga gamelan sudah mendunia dan karena hal itulah seluruh mata dunia tertuju pada Indonesia.

~ Heidi Kabul adalah seorang musisi multi-instrumentalis muda lulusan YPM yang kini mengeksplorasi jalan di bidang komposisi.

Iklan

3 Comments on Setan Jawa Hadir di Esplanade Singapura

  1. Kata setannya itulo menarik sekali mas hahaha

  2. Kenapa bisa update sekali tentang musik ya? Dapat informasi dari mana ya, Mas?

  3. Kami dapat dari berbagai sumber mas, dan kebetulan kami juga punya kawan-kawan kontributor yang luar biasa untuk hadir dan membagikan ilmu mereka di sini.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: