Kabar Terkini

Rancak Flamenco Dari Theduardo Prasetyo


Gitaris Flamenco, Paco De Lucia, berujar “Kedua tangan menemukan cara untuk melakukan suatu hal yang hendak didefinisikan oleh perasaan”. Kalimat ini terasa kuat di dalam resital yang dipersembahkan oleh Thedo (panggilan akrab Theduardo Prasetyo) kemarin di aula resital Jakarta Conservatory of Music, Fatmawati. Segar dalam rehat tengah semester dari kegiatannya sebagai mahasiswa jurusan Pedagogi Instrumen di Hochschule für Musik Detmold, Jerman melalui gitar Thedo berbagi pencapaiannya dalam menguasai komposisi gitar klasik, dan terutama hasratnya terhadap musik Flamenco.

Perkenalan: Sebuah Refleksi Studi

Sesi pertama dibuka dengan sebuah improvisasi pendek sebelum masuk ke nomor pertama yang mengalun lancar Lagu dan Dansa (Cancion y Danza) gubahan Antonio Ruiz-Pipo (1934 – 1997). Dari nomor Flamenco ini Thedo kemudian mengajak penonton berkilas balik ke zaman Barok melalui Suita Lute di E Minor, BWV 996 dari Johann Sebastian Bach (1685 – 1750). Dari nomor klasik standar ini Thedo kemudian berbagi gubahan dramatis dari gitaris virtuosic Agustin Barrios Mangore (1885 – 1994), Sebuah Persembahan untuk Kasih Ilahi (Una Limosna por El Amor de Dios). Dan babak pertama diakhiri dengan Vesper Sisilia (Die Sizilianische Vesper), sebuah citraan ulang komposer J K Mertz (1806 – 1856) terhadap opera berbahasa Perancis dari Giuseppe Verdi, Les Vêpres Siciliennes.

Dalam babak pertama terasa sekali bagaimana Thedo berusaha berbagi kepada hadirin apa yang ia peroleh dalam pelajarannya di perguruan tinggi. Pemilihan nomor pembuka Lagu dan Dansa – yang didahului improvisasi bebas menyiratkan tempat khusus musik Flamenco bagi Thedo. Namun perbedaan karakter dari nomor pembuka ke nomor kedua cukup terasa. Mungkin untuk lebih memberikan aksentuasi perbedaan gaya dan tempo, Suita Lute di E Minor dalam tarian jari Thedo terasa lebih cepat dan terburu-buru walau tetap mengalir lancar. Selama Prelude-Allemande-Sarabande (tanpa bagian Courante). Entah terbeban dengan popularitas bagian Bouree, dalam nomor ini sempat terdengar beberapa alpa bunyi. Justru di bagian Gigue Thedo bangkit dan melahap nomor ini dengan kegarangan yang akurat dalam berbagi harmoni polifoni. Secara keseluruhan mengingat nomor ini sebenarnya untuk Lute 26 senar namun dimainkan dalam 6 senar gitar, dan temponya yang terasa lebih cepat dari biasa, akurasi notasi dan kejelasan harmoni polifon yang ditawarkan Thedo patut diacungi jempol.

Melalui dua nomor terakhir hadirin resital mulai dapat merasakan kekuatan Thedo yang terletak di dalam pendekatannya yang imajinatif terhadap karya-karya kontemporer. Dalam Sebuah Persembahan Thedo menawarkan sebuah warna bunyi yang lebih nelangsa sebelum akhirnya menutup dengan progresi artikulasi yang mengalir percaya diri dalam Vesper Sisilia.

Berbagi Aktualisasi Diri

Mengawali babak dua dengan Caprices dari Luigi Legnani (1790 – 1877) Thedo sukses menularkan sosoknya yang lebih percaya diri, sebelum membawa hadirin menempuh nomor yang lebih ekspansif baik secara teknis, harmoni, dan penghayatan, Sonatina karya Lennox Berkeley (1903 – 1989).

Penempatan Sonatina di dalam pranata nomor lagu resital ini merefleksikan kelas dan tingkat kesulitan nomor bersangkutan. Dalam resital Sabtu malam kemarin Thedo menawarkan interpretasi tempo yang cukup tepat dan penghayatan warna bunyi yang lebih syahdu. Dengan usia Thedo yang masih belia, ke depannya kejelasan intonasi akan semakin matang dan seimbang, baik di runutan notasi yang renggang atau yang berdekatan secara ritmis.

Salah satu poin penting di dalam resital ini Thedo berusaha akrab dengan penikmat musiknya dengan memberi penjelasan singkat terkait nomor-nomor yang akan ia bawakan. Keakraban ini mencapai puncaknya ketika ia mengundang Zaky Muhammad Farras untuk mengiringinya dengan palmas (istilah dalam Flamenco untuk tepukan tangan) dalam dua nomor terakhir Bulerias gubahan Tomatito (1958) dan Di Antara Dua Samudra (Entre Dos Aguas) gubahan Paco de Lucia (1947 – 2014). Mendengar tarian jari Thedo di lampiran senar beriring dengan tepukan rancak Zaky sembari sesekali ujar “ole” terlontar menyairkan penonton dan mengamini kutipan Paco de Lucia yang dibagi di pembuka. “Kedua tangan menemukan cara untuk melakukan suatu hal yang hendak didefinisikan oleh perasaan”.

Terima kasih Thedo telah berbagi alunan gitarnya dan terutama aktualisasi diri Thedo dalam kerancakan musik Flamenco.

Iklan
About JC Pramudia Natal (4 Articles)
Educator and Musician. I have been teaching and educating since 2001. My field mostly cover Humanities, majoring in Literature and Art and minoring in Music Performance. In my spare time outside of teaching i play piano, sing in a choir, read books, and sometimes write column or essay.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: