Kabar Terkini

Pastiche Romeo dan Juliet: Jakarta Concert Orchestra


O Romeo, Romeo, wherefore art thou Romeo? Deny thy father and refuse thy name; or if thou wilt not, be but sworn my love and I’ll no longer be a Capulet.” – Juliet dari naskah Romeo and Juliet oleh William Shakespeare.

Romeo

Kalimat di atas adalah bagian dari monolog yang dibawakan Juliet, seorang gadis muda belia dari klan Capulet. Ia menghadapi masalah dalam hubungannya bersama Romeo karena Romeo berasal dari klan Montague, saingan abadi klan Capulet. Walaupun Juliet mencintai Romeo, ia merasa tidak yakin cintanya pada Romeo bisa direstui oleh keluarga.

Pada hari Sabtu kemarin (29/7), konduktor Avip Priatna bersama Jakarta Concert Orchestra (JCO) dan solis Finna Kurniawati dan Yasashi-I Evelyn mempersembahkan sebuah konser dengan judul “Romeo & Juliet”, dalam rangka memperingati ulang tahun JCO yang ke-15. Konser ini menyajikan beberapa gubahan klasik ternama yang terinspirasi oleh naskah Romeo and Juliet karangan Shakespeare. Tidak hanya mementaskan beberapa gubahan untuk orkes simfoni, JCO di bawah naungan Avip Priatna juga membawa sebuah konserto untuk biola bernuansa Tiongkok, dan sebuah  adegan dari opera yang senama dengan judul program malam itu.

Konser dibuka dengan Orchestral Prelude to Shakespeare’s Romeo and Juliet karya komponis Jerman dari zaman romantik bernama Joachim Raff (1822-1882). Karya ini merupakan ilustrasi musikal para tokoh protagonis utama di cerita Romeo and Juliet, dan di tengah lagu tersisip tema “cinta” dua kekasih yang begitu indah. Namun sayangnya, karya ini dibayangi oleh gubahan dengan judul yang sama dari Peter Tchaikovsky, yang ditulis 10 tahun sebelumnya.

Babak pertama kemudian ditutup dengan konserto untuk biola berjudul The Butterfly Lovers, hasil kolaborasi antara dua komponis He Zhanhao (1933) dan Chen Gang (1935), dan dibawakan oleh pemain biola asal Surabaya, Finna Kurniawati. Karya ini menceritakan dua tokoh utama yang kisah hidupnya mirip dengan Romeo dan Juliet: seorang gadis muda dari keluarga berpengaruh bernama Yingtai yang jatuh cinta pada Shanbo, seorang pelajar kutu buku.

Namun pada akhirnya, Yingtai dijodohkan dengan orang lain oleh orangtuanya dan Shanbo pun tidak bisa menerima kenyataan tersebut. Shanbo kemudian jatuh sakit dan meninggal. Konserto berakhir pada saat Yingtai memutuskan untuk bunuh diri, digambarkan oleh permainan biola yang berakhir pada nada tinggi yang dimainkan mendadak. Pada legenda aslinya, kuburan Shanbo mendadak terbuka dan Zhu melompat ke dalamnya, berakhir dengan transformasi jasad keduanya menjadi kupu-kupu yang tidak akan pernah terpisahkan untuk selamanya.

Finna sendiri terlihat sangat menghayati perannya sebagai narator musikal konserto ini. Bagian-bagian yang terlihat virtuosik pun dikuasai dengan sangat baik tanpa mengorbankan musikalitas. Finna juga pernah menampilkan konserto yang sama bersama Bangkok Symphony Orchestra pada tahun 2015, jadi karya ini tidaklah asing baginya. Suara yang dihasilkan juga tidak menyerupai permainan biola klasik seperti biasanya, melainkan mirip dengan permainan erhu, atau alat musik gesek dari Cina yang memiliki dua senar. Penggunaan portamento yang merupakan ciri khas erhu diperagakan oleh Finna secara bersih dan elok.

Babak dua dibuka dengan cuplikan dari Suita No. 2 Romeo and Juliet, op. 64 dari komponis kawakan Rusia, Sergey Prokofiev (1891-1953). Dari tujuh bagian, JCO membawakan lima bagian yang mewakili suita tersebut secara keseluruhan, yaitu Montagues and Capulets-The Young Juliet-Dance-Romeo and Juliet Before Parting-Romeo at Juliet’s Grave. Karya ini mencerminkan ketertarikan Prokofiev pada musik untuk panggung dan dapat dikatakan pula bahwa karya-karya terkenalnya memang ditujukan untuk pementasan drama, dari opera The Love of Three Oranges dan Lieutenant Kije hingga dongeng simfoni untuk anak-anak Peter and The Wolf.

Konser dilanjutkan dengan suguhan aria “Que fais-tu, blanche tourterelle?” dari opera Roméo et Juliette, karya komponis romantik Perancis, Charles Gounod (1818-1893). Solis muda Yasashi-I Evelyn memerankan Stéphano, asisten Romeo, yang mencoba mencemooh keluarga Capulet dengan menyenandungkan “Kau sedang apa, wahai tekukur putih?”. Burung tekukur putih merupakan sebuah alegori untuk Juliet yang sedang terperangkap dalam sarang kawanan burung pemangsa: keluarga Capulet. Ia memperingatkan mereka untuk menjaga Juliette dengan baik, jangan sampai ia berniat menyelinap keluar dari sarangnya.

Kehadiran panggung Yasashi sangatlah kuat, dan ia pun dapat menghayati perannya sebagai Stéphano, peran laki-laki yang dimainkan oleh perempuan, dengan penuh keyakinan dan dedikasi. Resonansi suara yang ia hasilkan terdengar sangat jelas, dan diksi Perancis pun ia kuasai dengan sangat rapi.

Program ditutup dengan Overture-Fantasia Romeo and Juliet, salah satu karya termasyhur Peter Tchaikovsky (1840-1893). Karya yang terdiri atas hanya satu bagian, Overture-Fantasia memuat tema-tema musikal yang mencerminkan beberapa eleman utama dari narasi Romeo and Juliet: karya dibuka dengan alegori musikal untuk karakter Rahib Laurence, guru spiritual Romeo dan Juliet, yang sedang memberkati sebuah perkawinan, diikuti dengan denting pedang dua keluarga Capulet dan Montague yang berseteru, serta sebuah tema cinta yang dikenal sebagai salah satu melodi orkestra terkenal sepanjang zaman.

Sungguh menarik rangkaian karya yang disuguhkan pada malam itu, dan JCO pun tampil lebih apik dan berkembang, dengan pilihan repertoar yang menantang tetapi juga memberikan kepuasan hati bagi para pemainnya. Suara dan warna para pemain pun berbaur dengan indah dan mampu memberikan kesan yang mendalam kepada penonton. Semoga Avip Priatna dan JCO terus memberikan suguhan konser yang menarik dengan kualitas permainan yang tinggi. Maju terus musik klasik Indonesia!

Iklan
About Hazim Suhadi (14 Articles)
I'm a classical pianist, but in my spare time I'd like to do things that musicians don't normally do, like rock climbing in the highlands of Dieng or eating at kaki-lima by the dusty streets saturated with commuters. I enjoy a drink or two with good company. So hit me up!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: