Kabar Terkini

Pelatihan Ngamen Dikbud: Menuju Formalisasi Musik Jalanan?


Meningkatkan kemampuan seniman jalanan dengan pelatihan tentunya bukan sebuah hal baru. Sudah banyak pelatihan diberikan kepada musisi jalanan, agar kemampuan mereka berkembang. Namun baru kali ini, pendekatan ini menjadi bagian dari kebijakan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan untuk menanggapi kebijakan pemerintah lainnya, yakni pelarangan pengamen jalanan oleh Pemerintah Daerah. Tentunya sebuah pengkondisian melalui kebijakan yang menarik dan bisa kita simak bersama.

Insiatif untuk melatih seniman jalanan, dalam hal ini seniman musik, datang dari Institut Musik Jalanan dan Kemendikbud RI. Mari simak undangan pelatihan berikut:

 

Menarik bagaimana poster ini menyinggung berbagai Peraturan Pemerintah Daerah yang melarang mengamen di berbagai tempat umum. Pelarangan dengan alsan penertiban macam ini bisa jadi adalah hal lama, namun tidak pernah bisa ditegakkan sepenuhnya, terlebih apabila tidak pernah ada solusi alternatif yang dihadirkan bagi para pengamen jalanan ini. Pelatihan sebelumnya memang lebih berkonsentrasi untuk meningkatkan keterampilan, namun jarang yang berkonsentrasi untuk menyediakan jalan keluar dan alternatif pemasukan bagi para musisi jalanan yang ada.

Tawaran pelatihan kali ini yang bekerja sama dengan Kemendikbud menjadi sebuah preseden tersendiri di mana sebuah kementerian memberikan sebuah solusi bagi praktek berkesenian yang telah dilarang. Peningkatan kemampuan seakan menjadi solusi bagi pengamen untuk naik kelas mengamen dan bermain di tempat-tempat lain yang legal, sebagai sebuah perlawanan dari kaum pengamen yang didukung pemerintah pusat terhadap peraturan yang hadir di tingkat daerah. Ini adalah sebuah proses perlawanan yang tidak eksplisit.

Meski berupa sebuah strategi marketing, menarik untuk disimak bagaimana upaya ini menjadi bagian dari upaya formalisasi praktek bermusik di jalanan. Pelatihan perlahan berfungsi sebagai sebuah upaya penertiban terhadap praktek bermusik yang tersebar, meningkatkan kualitas dan juga menaikkan ‘derajat’ kegiatan ngamen. Selain itu, upaya ini juga merupakan sebuah upaya emansipasi musisi jalanan, yang bisa jadi adalah profil seniman musik yang paling sering dijumpai masyarakat, dari stigma derogatif seniman yang sudah mengakar di masyarakat. Legalisasi mengamen dalam bentuk yang berbeda juga berarti mengangkat posisi pemusik secara umum dan memperbaiki citra profesi ‘musisi’ itu sendiri.

Inisiatif ini sebenarnya semakin menarik terlebih dengan potensi yang hadir bersama dengannya. Formalisasi ini membuka kemungkinan hadirnya sebuah persatuan kolektif musisi jalanan yang tentunya akan dapat mengadvokasi kepentingan musisi jalanan ini. Dengan terbentuknya kolektif yang legal formal, profesi pengamen pun juga terangkat dengan kemungkinan advokasi yang hadir atas profesi ini.

Pengamen ‘resmi’ pun bisa hadir dengan berbendera institusi – resmi yang berarti berkualitas dan juga ‘berlisensi’. Sebagai kolektif, mereka dapat tetap mengamen dengan perjanjian yang jelas dengan berbagai instansi dan bahkan sektor publik. Bahkan mengamen di lokasi yang sebelumnya dianggap terlarang pun bisa menjadi legal karena lisensi dari institusi ini. Beberapa negara telah menerapkan hal yang serupa. Di London, Busk in London hadir sebagai kolektif yang memberikan lisensi bagi pengamen dan mengelola jadwal pengamen di tempat umum, seperti stasiun dan ruang terbuka hijau. Sebagai kolektif, Busk in London berfungsi sebagai penyalur pengamen berkualitas, memastikan musik yang ditampilkan juga memiliki standar yang cukup tinggi sembari bekerja sama dengan Pemerintah Kota London untuk meningkatkan apresiasi musik warga maupun pariwisata. Bahkan dengan adanya kolektif ini memungkinkan bagi pengamen untuk mulai memikirkan penegakkan Hak Kekayaan Intelektual sebagai bagian dari hak dan kewajibannya sebagai pengamen.

Meski demikian, upaya ini pun juga menuntut pengamen untuk terus meningkatkan kualitas diri, sebagaimana didorong oleh pihak Kemendikbud dalam inisiatif ini. Hanya pengamen yang berkualitaslah yang akan terfasilitasi, sedangkan mereka yang dirasa kurang berkualitas akan tersingkir. Adanya pelatihan ini justru akan menutup jalan bagi banyak pengamen jalanan biasa yang terpaksa harus berkarya di jalanan secara ilegal, sembari membuka pintu lebih lebar bagi pengamen berkualitas untuk berkarya di berbagai tempat lain.

Pendekatan bermusik pengamen pun juga harus berubah dan perlahan bersahabat dengan kekuasaan dan harus memiliki keinginan untuk dibentuk, dilatih dan diajar. Bagi banyak pengamen jalanan, aturan dan formalisasi seperti ini pastinya berbeda jauh dengan aturan jalanan yang biasa mereka kenal. Formalisasi ini perlahan akan menggerus anarki yang sebenarnya lekat dengan posisi pengamen jalanan. Banyak lagu kritik sosial lahir di jalanan dan kita dengar dari pengamen yang merasakan gejolak sosial tersebut secara langsung. Formalisasi ini berpotensi menumpulkan kritik dari musisi jalanan, terlebih apabila pemerintah tidak bisa menjamin kebebasan berekspresi dan berpendapat warganya.

Semoga penertiban pengamen oleh pemerintah daerah mampu mengurangi preman yang berkedok pengamen. Pengamen pun juga semakin meningkatkan kualitas dengan pelatihan yang disediakan ini. Wajah pengamen kita adalah juga wajah dunia musik kita. Kemajuannya adalah kemajuan budaya kita bersama.

Iklan
About mikebm (1271 Articles)
An arts journalist, a conductor, an educator, a young arts manager whose passion drove him to leave a multinational IT cooperation to study Arts Administration and Cultural Policy in London and went back to Indonesia to build the scene there.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: