Kabar Terkini

Etnomusikologi, Si Pamungkas yang Terabaikan


Indonesia seringkali digadang sebagai negara besar dengan kekayaan budaya yang luar biasa, dengan 1200 bahasa dan lebih dari 600 suku bangsa. Lalu dengan kekayaan budaya yang sedemikian besar, begitupula dengan kekayaan musiknya. Maka dari itu, untuk mengangkat kekayaan tersebut, sudah saatnya bidang ilmu etnomusikologi yang harus dikembangkan sebagai kekuatan pamungkas musik saat ini.

Etnomusikologi yang berangkat sebagai sebuah dorongan yang muncul sekitar 70 tahun yang lalu adalah sebuah respons akan berkembangnya minat keilmuan Barat untuk menjangkau musik-musik yang sebelumnya tidak terpenuhi sebelumnya. Lahirnya bidang baru ‘Etno-musikologi’ merupakan lahirnya sebuah bidang keilmuan yang mengaji fenomena musik yang terjadi di luar lingkup ‘musik klasik’ Barat, berangkat dari praktik beragam musik etnis di berbagai belahan dunia.

Sebagai perpaduan studi musikologi dengan antropologi, bidang keilmuan ini bersentuhan dengan praktek budaya beragam masyarakat sebagai bagian dari kekayaan kemanusiaan. Studi ilmu ini jugalah yang mengemansipasi praktik bermusik daerah yang dahulu dipandang ‘terbelakang’ menjadi sesuatu yang patut untuk diteliti dan dipelajari. Kiblat kepada musik Barat sebagai sebuah tujuan kemajuan musik pun ditanggalkan, musik pun bukan lagi didefinisikan oleh elit modern, tapi juga oleh beragam kalangan lain dengan suara yang sama kuat. Klasik pun bukan sekedar punya Jerman dan Prancis, tapi klasik juga menjadi milik India dengan musik Hindustannya, juga milik Minangkabau dengan musik talempong dan saluangnya.

Dalam kacamata inilah kekayaan budaya Indonesia dan budaya lain mendapat tempat yang layak. Etnomusikologi sebagai ilmu berangkat dari berbagai fenomena musik yang berada di Nusantara, dengan tokoh terkenalnya Jaap Kunst yang meneliti praktik musik di Jawa dan perlahan melebar ke berbagai belahan Nusantara dan kemudian berbagai belahan dunia lain. Etnomusikologi lah yang kemudian berjasa mengangkat musik-musik tradisi Indonesia ke kancah internasional, mendapatkan tempatnya di bidang keilmuan yang diakui secara umum.

Bahkan sekitar 30 tahun terakhir, sejalan dengan berkembangnya musik populer sebagai sebuah praktik budaya yang mengakar di masyarakat, musik populer pun masuk ke ranah etnomusikologi. Dengan pendekatan etnografis ala antropolog, peneliti musik melihat kekuatan musik populer di tempat mereka berada. Musik pop pun ternyata juga beragam dengan berbagai proses asimilasi dan akulturasi yang melahirkan gaya musik berciri khas sendiri yang tidak bisa dipukul rata. Praktik musik metal di Jawa ternyata sangat berbeda dengan di negara asalnya di Skandinavia, praktik musik populer Melayu juga berbeda dari satu ke yang lainnya.

Musikolog Erie Setiawan dalam papernya ‘(Etno)musikologi dan Bagaimana Kita Memahami Bidang Ini di Masa Sekarang Ini’ menyikapi rendahnya pemahaman mahasiswa akan etnomusikologi ketika mahasiswa S1 memutuskan untuk mempelajari bidang ini. Belum mampunya pendidikan tingkat dasar dan menengah menjelaskan cabang keilmuan etnomusikologi turut mengambil peranan dalam kesulitan ini, padahal berbagai keilmuan musik kita yang diajarkan dari SD justru berangkat dari musik daerah dan bahkan musik populer, dan bukan berasal dari praktik musik klasik Barat.

Kemampuan masyarakat untuk membawa praktik etnomusikologis ke lapangan malah akan memperkaya musik dan budaya yang kita miliki. Dengan kajian yang kuat, praktik musik yang sebelumnya sangat khas dan bisa jadi belum banyak terpapar akan dapat dipahami lebih banyak orang, yang ke depan dapat berpengaruh dengan praktik bermusik mereka dan banyak berbudaya lainnya di masyarakat. Selain membantu proses pengarsipan, etnomusikologi juga menjadi katalis transformasi musik Indonesia ke depan yang lebih berkarakter. Jauh sudah zaman ketika elit budaya berlomba untuk membekukan praktik budaya lewat etnomusikologi. Etnomusikologi justru yang perlahan memberi sumbangsih pada transformasi tersebut lewat ilmu dan kemampuannya membuka wacana baru akan musik-musik yang ada di sekitar kita.

Etnomusikologi adalah kekuatan kita, emansipasi dan kesadaran akan kekayaan diri adalah untuk perkembangan budaya selanjutnya. Tanpa etnomusikologi yang kuat, sebagai bangsa kita tidak akan ke mana-mana. Sudah saatnya menyadari pamungkasnya etnomusikologi kita.

Iklan
About mikebm (1301 Articles)
An arts journalist, a conductor, an educator, a young arts manager whose passion drove him to leave a multinational IT cooperation to study Arts Administration and Cultural Policy in London and went back to Indonesia to build the scene there.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: