Kabar Terkini

Duet Piano Mengesankan: Nigel Clayton & Imma Setiadi


Dua pribadi duduk berjajar dengan empat tangan memainkan sigap bilah-bilah piano. Lewat permainan jari, lahir nada-nada gegap gemilang yang memikat telinga juga memanjakan mata. Satu instrumen pun bernyanyi bagaikan orkestra dengan pelbagai warna dan kesan magis yang menggugah. Gegap gempita berpadu dengan ketepatan saat yang mengundang penonton menahan nafas, berdecak kagum sekaligus menghayati momen-momen reflektif.

Apalah yang bisa dimainkan oleh satu instrumen piano? Malam kemarin di Auditorium Gedung D, Universitas Pelita Harapan, dua orang bahu-membahu menyajikan musik yang demikian lewat permainan piano empat tangan yang mengundang pesona. Nigel Clayton dan Imma Setiadi yang adalah pasangan guru dan murid mampu menyajikan kesemuanya itu dalam lingkup 88 bilah papan nada piano. Nigel Clayton yang adalah profesor piano dari Royal College of Music memaparkan musik yang luar biasa bersama Imma Setiadi yang baru saja menyelesaikan pendidikan doktor musik piano di institusi yang sama.

Acara ini menjadi konser penutup dari rangkaian UPH Chamber Music Festival 2017 yang mengupas musik kamar dalam berbagai format, dari duet hingga kuintet yang telah mengisi dinamika di Konservatori Musik kampus yang terletak di Karawaci itu sedari hari Senin 28 Agustus lalu.

Konser dibuka dengan permainan yang bertenaga lewat karya Deux Marches Caractéristiques, D.886 karya Franz Schubert. Dengan dua bagian yang bertempo Allegro Vivace, penonton langsung disuguhkan dengan permainan yang penuh gairah yang tersalurkan secara presisi di atas papan nada yang meletup penuh energi. Kekompakan pasangan guru dan murid ini begitu luar biasa sedari awal dengan Imma Setiadi duduk di sisi kanan papan nada memainkan nada tinggi dengan cemerlang dan sang profesor di sisi kiri memainkan nada rendah dengan meyakinkan.

Belum cukup dengan keganasan mars, duo ini langsung menggarap karya Felix Mendelssohn, Duett (Andante und Allegro brilliant), Op.32 yang luar biasa. Kedua pianis mampu menampilkan kerja sama yang apik lewat permainan sambung-menyambung bagai estafet yang tidak terhenti. Kecermatan jari berpadu dengan musikalitas yang paripurna menjalin karya Mendelssohn yang penuh dengan melodi-melodi indah yang mengharuskan kedua pianis bergelut satu dengan yang lain untuk menyambung kalimat-kalimat panjang tersebut. Malam itu penonton hanya dapat menggelengkan kepala melihat kerja sama yang rumit dan membutuhkan kelincahan teknik yang mumpuni namun dieksekusi dengan penuh cita rasa. Menarik bagaimana kedua pianis tidak berusaha mereduksi kepiawaian mereka, namun tetap menciptakan musik yang indah sekaligus tontonan yang luar biasa.

Dua karya komponis Prancis, Petite Suite dari Claude Debussy yang terbagi atas empat bagian dan karya Francis Poulenc  Sonata for Piano Duet yang terdiri dari tiga bagian mengajak penonton mengeksplorasi beragam kemungkinan warna yang dapat hadir di atas piano lewat permainan empat tangan. Dengan ide orkestrasi yang jelas, kedua pianis nampak menghadirkan satu orkestra utuh yang dinamis lewat permainan Debussy, meski demikian keduanya tidak terjebak dalam permainan megah, melainkan tetap setia pada simplisitas yang menjadi ciri utama dari ‘petite‘ yang tertera di judul karya. Karya Sonata Poulenc menghadirkan nuansa yang berbeda. Hadir sebagai komponis yang melanjutkan tradisi tonalitas musik Prancis, Francis Poulenc mengembangkan keterampilan harmoni dan permainan warna-warni pianistik tanpa menghadirkan piano sebagai orkestra. Kedua karya yang mengapit istirahat ini menghadirkan kolaborasi duet piano dalam dua dimensi pewarnaan yang berbeda dan membuka cakrawala wawasan penonton.

Tiga Prelude dari George Gershwin ditampilkan semalam. Diaransemen oleh G. Stone, tiga preludium ini dimainkan satu dari yang lain dan dikembangkan dari musik solo piano. Mengadaptasi irama jazz, Clayton yang membingkai karya ini dengan presisi klasik yang mantap, dipadu dengan sentuhan harmonis dari Imma. Meski demikian alunan jazz tetap terasa tanpa terjun ke arah sentimental karena permainan sinkopisasi aksen yang kental namun tetap menjaga keutuhan ritmis lewat disipin yang mengikat. Nyanyian manis dari Gershwin bersatu dengan hibrida musik klasik dengan gegap jazz sebagaimana disampaikan Clayton dalam pemaparannya sebelum memainkan karya, bagaimana Gershwin mencari cirikhasnya sendiri setelah ditolak diangkat murid secara halus oleh Ravel.b

Sajian berikutnya menghadirkan Tiga Tarian Slavonik (Slavonic Dances) karya Antonin Dvorak dalam G minor (op.46 no.8), e minor (op.72 no.2) dan C mayor (op.46 no.1). Karya yang ditulis di saat Dvorak menerima pekerjaan dan bermigrasi ke Amerika dan menjadi perwujudan nasionalismenya sebagai insan Ceko di tanah asing. Tiga karya ini menawarkan permainan ritmis yang indah dipadu dengan keragaan pianis yang hidup. Atletisme dari kedua pianis disuguhkan dengan gemilang, menutup konser Rabu malam.

Riuh penonton yang didominasi mahasiswa musik Universitas Pelita Harapan mengajak kedua pianis untuk hadir kembali di atas panggung dan membawakan aransemen empat tangan dari karya Jesu Joy of Man’s Desiring dari J.S. Bach yang menuntaskan pergelaran semalam dengan khidmat.

Sajian yang luar biasa. Clayton pun mampu menjelaskan musik dengan cerdas sekaligus menggelitik yang mengundang penonton untuk jauh terlibat dalam musik yang disajikan. Celis asal Estonia sekaligus pengajar UPH Conservatory of Music, Vahur Luhtsalu mengatakan bahwa sajian semalam adalah sajian musik piano level atas dunia dan mengingatkannya pada kesempatannya menyaksikan pianis Andras Schiff ketika ia masih menjadi mahasiswa dahulu. Sebagaimana ditampilkan oleh dua pribadi yang menjadi bagian dari salah satu departemen piano terbaik dari kampus musik yang mendunia yang terletak di London ini, permainan musik kamar empat tangan adalah salah satu pencapaian musik yang luar biasa. Dan kefasihan Clayton dan Setiadi di atas panggung menjadi bukti pencapaian tersebut.

 

 

Iklan
About mikebm (1301 Articles)
An arts journalist, a conductor, an educator, a young arts manager whose passion drove him to leave a multinational IT cooperation to study Arts Administration and Cultural Policy in London and went back to Indonesia to build the scene there.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: