Kabar Terkini

Mengalami Indonesia Melalui Pertunjukan Musik

Foto: Michael H.B. Raditya

~oleh Michael H.B Raditya

​Merasakan setiap era di Indonesia secara utuh adalah hal yang niscaya tidak mungkin, usia manusia menjadi faktor utama yang membatasinya. Namun bukan tidak mungkin kita dapat mengetahui dan mempelajarinya, dengan berbekal arsip, proses ‘mengalami’ justru dapat terjadi. Bertolak dari kesadaran arsip, IVAA menyelenggarakan sebuah festival bertajuk Festival Arsip, atau Fest!Sip. Dengan mengangkat tema Kuasa Ingatan, festival tersebut diselenggarakan pada selasa (19/9) hingga minggu (1/10) di dua tempat, PKKH Universitas Gadjah Mada (khususnya diskusi, pameran, dan pertunjukan) dan Ruang Kadarman Universitas Sanata Dharma (khusus seminar), Yogyakarta.

Alih-alih berwujud naskah lama atau klipingan koran, Fest!Sip justru menampik anggapan arsip sebagai sesuatu yang membosankan dan kaku. Dengan semangat edukasi publik, Fest!Sip menyelenggarakan diskusi, lokakarya, seminar, pameran, hingga pertunjukan.

Dibuka dengan sebuah pertunjukan bertajuk Catatan Musik Indonesia Populer 1930-2016 dari LARAS – Studies of Music in Society, Fest!Sip berlangsung dengan menarik. Bertolak dari penelitian arsip musik tim LARAS dan tim artistik, sebuah pertunjukan dirangkai dengan mengajak pelbagai kolaborator, seperti: Gendhing Mares, Keroncong Sorlem, Gambang Kromong, Jazz Mben Senen, Jogja Blues Forum, Wahyu Octavianto dan Erie Setiawan, Icipilli Mitirimin, Iksan Skuter, Gie, Yennu Ariendra, dan Sekutu Imajiner. Pun pertunjukan dapat terwujud atas kerja sama tim produksi yang taktis antara Andreas Praditya (Manajer Panggung), Banjar Tri Andaru (Penata Lampu), Very Andrian (Penata Suara), Atinna Risqianna (Penata Kostum), Yennu Ariendra (Penata Musik), dan kru panggung lainnya.

Sempat diawali ketakutan menyerupai sulaman potongan fenomena semata, pertunjukan pembuka tersebut justru menarik perhatian. Pasalnya mozaik musik tersebut mempunyai kerangka yang jelas yakni seni antara negara dan masyarakat. Alhasil para kolaborator terlibat semakin memperkuat benang merah pertunjukan menjadi tegas. Tidak hanya itu, pertunjukan tersebut semakin berarti karena telah memberikan sebuah pengalaman mengalami Indonesia tidak hanya secara visual, melainkan melalui pengalaman aural, khususnya musik.

Dari Keroncong hingga Musik Daring

​Tertegun adalah sikap yang wajar ketika menyaksikan pertunjukan pembuka Fest!Sip. Mengapa demikian? Jawabannya cukup sederhana, pertunjukan tersebut tidak dimaksudkan sebagai hiburan semata, namun tersemat nilai edukasi yang muasalnya adalah arsip dari tahun 1930 hingga 2016. Dampaknya pada pertunjukan adalah pada seleksi fenomena yang bertautan dengan musik.

​Diawali dengan soundscape musik tradisional, pidato kemerdekaan, hingga suara penyiar radio, pertunjukan dimulai. Genderang berderap dari Gendhing Mares memecah hening. Mereka berjalan membelah penonton, memainkan komposisi laiknya sebuah penghormatan. Setelahnya mereka terpecah di depan panggung, soundscape kembali memperdengarkan gelombang radio dengan suara musik keroncong yang samar-samar.

Gending Mares Foto: Michael H.B. Raditya

​Setelahnya sebuah tirai putih terbuka, sekelompok musisi dari Keroncong Sorlem mulai memainkan komposisi stamboel. Tidak hanya menyanyi mereka memberikan narasi atas asal mula keroncong Stamboel hingga keberadaannya kini. Tirai kembali tertutup, dibarengi dengan soundscape atas gelombang radio dan suara musik. Sisi tirai lainnya terbuka, sekelompok orkes Gambang Kromong memainkan beberapa nomor lagu, mulai dari kicir-kicir hingga jali-jali.

Dari dua kelompok tersebut, penonton seakan dibawa pada sebuah era di mana radio menjadi tumpuan utama masyarakat mencari informasi. Genre musik yang berkembang pun lebih didominasi dengan grup orkes, baik orkes Keroncong, orkes Gambang Kromong, ataupun orkes lainnya, seperti: orkes Gambus, orkes Melayu, ataupun orkes Harmonium, orkes Barat, dan lain sebagainya.

Foto: Michael H.B. Raditya

Setelah orkes Gambang Kromong, soundscape kembali memperdengarkan sayup-sayup suara pidato dari proklamator bangsa, genjer-genjer, lagu manipolusdek, dan sebagainya. Seakan era zaman telah berubah, tirai panggung kembali terbuka, Jazz Mben Senen memainkan Irama Lenso dengan beberapa komposisi seperti “Bersuka Ria” dan “Oentoek PJM Presiden Soekarno”.

Seusai bernyanyi, sekelompok band berbusana laiknya hippies ‘mengusir’ penampil sebelumnya. Di sela adegan pengusiran, Irfan Darajat selaku ketua projek menjelaskan kontekstual pertunjukan, “…di mana ditemui macam-macam kontradiksi dan ambiguitas pada seni (musik) di antara negara, dan masyarakat.” Kesaling-sengkarutan tersebut lantas diwujudkan di dalam pertunjukan. Selepas Irfan memberikan pengantar, soundscape gelombang radio kembali terdengar sayup-sayup.

​Di bagian belakang panggung, Jogja Blues Forum mulai memainkan komposisi psikadelik, yakni “To The So Called the Guilties”, dan komposisi instrumental. Selepas itu, tirai biru di depan mereka tertutup. Soundscape kembali memperdengarkan suara pidato Soeharto, suara mars (NKKBS, ABRI, Pemilu). Perlahan mengecil volume suara soundscape, Wahyu Octavianto dan Erie Setiawan berdiri di sisi depan panggung. Mereka menyanyikan “Aku Cinta Buatan Indonesia”, pun terdengar sayup-sayup suara penonton yang turut bernyanyi.

​Soundscape pun kembali memperdengarkan suara gelombang TV, dunia dalam berita. Perhatian penonton pun mulai berubah dari panggung ke televisi yang telah tersedia di setiap sisi area penonton. Dari TV tersebut muncul sebuah siaran Aneka Ria Safari dengan menampilkan lagu paling populer di era-80-an, “Hati yang Luka” dari Betharia Sonata. Yang cukup menarik, tayangan tersebut diproduksi ulang tanpa menghilangkan estetika zamannya oleh Sekutu Imajiner.

Foto: Michael H.B. Raditya

​Belum habis video Betharia Sonata diputar, TV dimatikan. Sekelompok anak dan remaja ranum, yakni Icipili Mitirimin memasuki panggung. Dengan teknik acapella, mereka menyanyikan lagu “Pemilu Orba”, “Kecik-Kecik – Bebas Buta/Kejar Paket A”. Selepas mereka bernyanyi, soundscape sirine, suara ledakan berbunyi, mereka panik lari berhamburan. Soundscape lanjut memperdengarkan siaran berita, demonstrasi, hingga pidato mundurnya presiden Suharto. Suasana bersorak menimpali pidato mundurnya tersebut, cukup menyentuh.

​Tidak lama berselang, suara gitar mulai terdengar. Melalui kerumunan penonton, Iksan Skuter menyanyikan lagu Iwan Fals yang bertajuk “Jangan Bicara”. Suasana hening menyelemuti gedung, mendengarkan kata demi kata yang terucap. Setelahnya, sekelompok pemuda berpakaian necis, Gie, memainkan lagu Slank, mulai dari “Bang-Bang Tut” hingga “Terlalu Manis”. Tidak hanya menyaksikan, penonton yang memiliki pengalaman serupa ikut menyanyikan secara bersama-sama.

​Alih-alih usai, layar yang telah tertutup menampilkan sebuah intruksi interaktif kepada penonton untuk menyalakan aplikasi radio atau internet, seolah-olah pemutar musik daring. Dengan berbekal head-set yang telah dibawa penonton dari rumah, satu per satu penonton mulai asik sendiri dengan ponselnya masing-masing. Dari aplikasi tersebut memperdengarkan mozaik musik kontemporer, mulai lagu dangdut “Kucing Garong”, lagu Sheila on 7, dan pop hits lainnya.

​Soundscape yang digarap oleh Yennu Ariendra pada pertunjukan tersebut mempunyai peran yang cukup vital. Pasalnya dengan latar suara tersebut, dapat terasa pembagian waktu yang jelas, baik di era sebelum kemerdekaan, kemerdekaan dan orde lama, orde baru, dan era demokrasi. Baru setelahnya penajaman fenomena tertentu di waktu-waktu yang telah disepakati dapat semakin ‘runcing’. Namun ada beberapa alunan suara tercipta sebagai jembatan peristiwa yang dirasa terlalu panjang.

Setelah pertunjukan usai, festival dibuka oleh Direktur Fest!Sip, Direktur IVAA, Perwakilan PKKH UGM, dan Dirjen Kebudayaan. Selain itu, pembukan festival dan pameran turut dimeriahkan oleh Made Bayak dan Musrary.

Foto: Michael H.B. Raditya

Secuil Ingatan Merangkai Peristiwa

​Tidak dapat dipungkiri bahwa kekuatan pertunjukan pembuka adalah potongan peristiwa populer di era 1930 hingga 2017. Kendati demikian, strategi mozaik memang cukup riskan dalam memberikan informasi dan pemahaman, ia bisa sangat baik, atau sebaliknya, buruk.

Dalam hal ini penggarapan tidak hanya dilakukan secara pendataan musik semata, namun estetika zaman di tiap eranya menjadi satu hal yang perlu digarap. Kabar baiknnya, pertunjukan tersebut dapat menerapkan dengan baik arsip riset dan menggarap estetika zaman dengan apik, namun kabar buruknya, segelintir penonton—khususnya generasi millenial—yang tidak terlalu paham akan sosok musisi yang ditampilkan khususnya di era sebelum orde baru.

​Pun hal ini ternyata telah diantisipasi oleh LARAS, sebagaimana yang diungkap oleh ketua projek pertunjukan, Irfan R Darajat menyatakan bahwa “Sebagai bentuk interpretasi atas temuan riset, pertunjukan ini tentulah tidak dapat dipandang sebagai suatu presentasi yang utuh.. Arsip dan temuan kami kemudian juga ditampilkan dalam ruang pameran festival arsip yang bekerja sama dengan Club Etsa…”

Dalam hal ini, Irfan menyadari bahwa pertunjukan tersebut memang harus dilengkapi dengan pengalaman di ruang pameran. Bagi mereka yang menyaksikan pertunjukan maka pengalaman mereka akan utuh, tapi bagaimana bagi mereka yang tidak datang ke pembukaan pertunjukan tersebut? Perlu agaknya dipikirkan terkait rekaman pertunjukan yang dapat diakses oleh pengunjung.

Selain hal-hal teknis tersebut, faktor usia dan pengalaman sangat memengaruhi pertunjukan ini. Bagi mereka yang memang hidup di era kolonial dan awal kemerdekaan, beberapa potongan awal pertunjukan akan sangat mendalam, namun bagi generasi milenial pengalaman tersebut akan menjadi hal baru. Begitupun sebaliknya, di mana anak muda yang asik sendiri dengan head set dengan pemutar musik daring, sementara orang tua hanya gumun melihat. Tentu lintas pengalaman antar generasi ini menjadi sebuah peristiwa tersendiri.

​Alhasil, pertunjukan LARAS telah berhasil mengedukasi publik, dengan tidak hanya menjadi medium romantisme bagi sebagian orang, melainkan turut menjadi peristiwa bagi penonton yang datang, peristiwa untuk mengalami Indonesia melalui pertunjukan musik.

Bertolak dari itu semua, Fest!Sip sebagai sebuah terobosan dalam mengalami Indonesia berbasis arsip melalui seni, agaknya upaya yang dikerjakan IVAA perlu dilanjutkan untuk meminimalisir generasi post-memory yang gagap sejarah. Hal yang senada dengan pernyataan bapak proklamator kita, Ir. Sukarno dengan Jas Merah-nya.

~Michael H.B. Raditya adalah seorang pengamat seni, peneliti budaya, dan penulis partikelir yang kini berkarya di Jogjakarta

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: