Kabar Terkini

Menari Bersama Musik-Musik Bandung Philharmonic Orchestra


Setiap budaya pasti memiliki tarian dan setiap tarian pasti memiliki musik. Itu adalah hal yang dikatakan oleh Robert Nordling, direktur artistik dan pengaba dari Bandung Philharmonic Orchestra. Konser kedua Bandung Philharmonic di tahun 2017 ini diadakan pada tanggal 23 September lalu di Dago Tea House, Bandung. Saat baru masuk ke dalam gedung konser dan melihat panggung dalam keadaan kosong, terlihat reflektor suara berjejer rapi di belakang kursi pemain. Mengusung tema “Dance”, karya-karya yang dibawakan pada hari itu membuat tubuh ingin ikut menari mengikuti alunan musik.

Konser dibuka dengan memainkan Indonesia Raya, seluruh pemain memainkan lagu kebangsaan Indonesia ini dengan berdiri dan para penonton juga ikut berdiri. Komposisi pertama yang dibawakan adalah “Swan Lake” Suite Op. 20 karya Pyotr Illyich Tchaikovsky yang terdiri atas enam gerakan. Suita dibuka dengan suara seksi gesek yang tegas namun anggun dan disambut dengan permainan oboe yang memainkan tema dengan cantik. Ketika tema berpindah dari oboe ke seksi tiup logam dan seksi gesek, suara yang sangat kuat dan gagah terdengar sehingga menggetarkan hati para pendengarnya.

Pada gerakan-gerakan berikutnya, komunikasi antar seksi terdengar sangat baik sehingga untaian nada terdengar padu. Permainan solo maupun duet yang diiringi orkestra juga patut diapresiasi, seperti duet oboe dan flute pada gerakan ketiga serta solo cadenza harpa pada gerakan kempat. Balance suara khususnya pada seksi tiup kayu ketika bermain bersama dan respon orkestra terhadap perubahan tempo pada beberapa bagian masih dapat ditingkatkan lagi. Meski demikian, Robert Nordling menunjukkan cara mengaba yang sangat ekspresif sehingga para musisi Bandung Philharmonic ikut terbawa dengan semangat pengaba.

Setelah mendengarkan karya dari zaman romantik, penonton diajak mundur ke zaman barok dengan memainkan karya J. S. Bach yaitu Konserto untuk Biola dan Oboe. Solois biola pada komposisi ini adalah Lidya Evania Lukito dan Arjuna Bagaskara sebagai solois oboe. Format orkestra pun berubah menjadi chamber 4-4-3-2-1. Pengaba tidak menggunakan baton untuk memimpin komposisi ini sehingga beliau terlihat lebih luwes dalam mengaba. Sepanjang gerakan, oboe menjadi bintang dalam komposisi ini dengan permainannya yang luwes dan penuh ekspresi yang juga nampak dari gestur Bagas sepanjang komposisi. Sayangnya Lidya yang juga solois dalam komposisi ini terdengar terlalu membaur dengan iringan orkestranya, sehingga pada beberapa bagian di mana solois biola seharusnya menonjol menjadi tidak nampak. Meskipun begitu komunikasi antara konduktor, kedua solois, dan orkestra terdengar sangat baik sehingga tiap nada dimainkan dengan sangat mulus. Reflektor yang terpasang membuat suara orkes kamar layaknya kristal yang bening, sehingga penonton dapat mendengarkan eksekusi tiap nada yang sangat jernih.

Sebelum intermission, penonton dibawa kembali ke jaman romantik khas Russia dengan mendengar karya dari Igor Fyodorovich Stravinsky yaitu Berceuse and Finale from The Firebird Suite. Berceuse dimulai dengan viola dan cello yang kemudian disambut solo bassoon dan solo oboe, penonton dibawa dalam nuansa misterius dari karya Stravinsky yang menawan. Tanpa istirahat, karya Firebird ini masuk ke bagian finale ditandai dengan solo horn yang sangat bersih. Setiap orkestra bermain bersama, eksekusi setiap akord terdengar benar-benar rapi dan karya balet ini dapat dinikmati sepanjang komposisi dimainkan. Finale dari Stravinsky menandai akhir dari babak 1.

WhatsApp Image 2017-09-26 at 16.25.16

Pada babak kedua, orkestra memainkan sebuah karya anak bangsa yang merupakan pemenang dari sayembara komposisi yang diadakan oleh Bandung Philharmonic. Karya yang dimainkan adalah Suvenir dari Minangkabau karya Arya Pugala Kitti yang merupakan principal violin 2 dari Bandung Philharmonic, tetapi kebetulan tidak bermain pada konser hari itu. Sesuai dengan tema konser mengenai tarian, nuansa tarian ala Sumatera Barat dapat didengarkan sepanjang komposisi dimainkan. Dari awal musik terdengar, bibir rasanya ingin tersungging senang dan tubuh ingin menari mengikuti musik yang sangat dinamis dengan detil-detil musik dan dinamika yang menarik. Tema-tema suara khas budaya Padang dimainkan bergantian di masing-masing seksi. Didukung oleh suara perkusi yang dinamis juga ditambah dengan permainan rebana, kekhasan suasana Minangkabau menjadi benar-benar kental dalam karya ini.

Setelah menari dengan dinamis, sekarang beralih ke tarian yang lebih lambat temponya yaitu Pavane pour une infante defunte karya Maurice Ravel. Solo horn membuka karya ini dengan sangat romantis, layaknya dua pasangan yang sedang jatuh cinta menari. Solo-solo dari woodwind juga tampak anggun terdengar diikuti dengan untaian nada seksi gesek yang indah. Akhir dari program pada hari itu adalah karya waltz dari Johan Strauss II yaitu On the Beautiful Blue Danube. Karya kembali diawali dengan solo horn dan dapat dikatakan bahwa beliau menjadi bintang dalam konser ini. Solois horn pada hari itu adalah Bob Stoel yang juga bermain di Rotterdam Philharmonic Orchestra. Karya yang temponya berubah-ubah ini menjadi tantangan bagi para pemain khususnya seksi gesek, karena sempat terdengar tidak padu pada satu bar ketika berubah tempo namun orkestra cepat tanggap sehingga cepat terdengar stabil juga. Solo-solo dari seksi tiup kayu terdengar cantik walau bisa bermain lebih padu suaranya ketika bermain bersama. Hal yang menarik adalah pengaba memberikan gestur yang cenderung ‘besar’ sehingga memberikan banyak ruang untuk para musisi lebih ekspresif. Para pemain juga bisa menyambut dengan sangat baik dan komposisi ini juga berakhir dengan baik diikuti riuh tepuk tangan penonton.

Konser diakhiri dengan sebuah encore karya dari Aaron Copland yang berjudul Hoedown, sebuah tarian khas Amerika yang merupakan asal dari Robert Nordling. Meskipun sudah melalui konser yang cukup panjang, stamina para pemain masih dalam kondisi yang prima sehingga karya yang sangat dinamis ini dimainkan dengan sangat semangat. Tema dari musik dimainkan oleh seksi gesek yang bisa memainkan tiap nada dengan akurat dan diiringi oleh perkusi serta piano yang menjaga kestabilan tempo. Berakhirnya encore ini menandai akhir dari konser Bandung Philharmonic Orchestra. Setelah menonton konser, rasanya hati ikut menari-nari mengingat nada-nada yang telah dimainkan dalam konser tersebut. Ditunggu untuk konsernya di tahun 2018 mendatang!

WhatsApp Image 2017-09-26 at 16.25.15

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: