Kabar Terkini

Musik 60 Detik, Sajian Musik Instagram


Tiga dekade yang lalu, pencipta musik industri berjuang untuk memastikan lagu yang diliris berdurasi sekitar 3 menit. Namun kini, sajian 60 detik bukan lagi hal yang asing.

Video pendek telah mengubah bagaimana akses terhadap musik berubah. Video pendek lewat Instagram memudahkan para pemusik kamar tidur untuk merekam dan mengunggah karya mereka untuk ditonton puluhan dan bahkan ribuan orang. Musik pun menjadi mudah untuk dikonsumsi dan diintip. Namun selain kemudahan ini, cara seniman berkarya dan bagaimana penonton menikmati musik pun berubah.

Sejalan dengan perkembangan teknologi video Instagram dengan panjang maksimal 60 detik dan meraih perhatian publik, perlahan bergerak pulalah nilai keindahan dalam mempresentasikan musik. Durasi 3 menit tidak lagi tepat, terlebih karya 3 bagian berdurasi 30 menit. Semua harus masuk dalam kerangka satu menit, dan dalamnya ekspresi musik serta aspek tontonan haruslah tercipta. Cara kerja pencipta pun berubah, demikian juga bagaimana penonton menonton musik.

Dengan video instagram lahirlah aspek penilaian musik dan video musik yang baru, salah satunya adalah musik yang disajikan harus memikat dan menggugah dalam waktu 1 menit tersebut. Keindahan haruslah disampaikan, ekspresi terungkapkan dan tontonan haruslah disajikan dalam satu menit bersama dengan dramaturgi mini yang memikat likes maupun following. Bahkan, apabila mungkin malah menjadi media pemasaran yang efektif.

Penonton tidak ingin membuang waktu dan sangat mudah untuk melepas diri tanpa harus menonton sampai habis. Membosankan, penonton akan semudah itu melakukan scroll up dan mengalihkan pandangan. Waktu pun berpacu dan penonton akan terlibat dalam aktivitas pilah-pilih secara cepat, menumbangkan video-video yang kurang menarik.

Aspek visual pun menjadi semakin berpengaruh. Tidak sedikit yang akhirnya bertumpu pada beragam kolase klip video yang terus berganti untuk memaksimalkan pengalaman visual penonton. Visual yang menarik lebih menjamin menjaring likes dibandingkan video yang apik yang akhirnya sering disalahgunakan oleh pembuat video. Kita lihat video yang disajikan, pendek dan padat berisi yang tanpa elemen bergerak seakan musik yang disampaikan kurang menarik.

Perhatian produsen musik dan musisi pun sedikit banyak teralihkan untuk membuat 1 menit itu menjadi 1 menit yang mampu memikat. Perjuangan panjang tim produksi difokuskan untuk memproduksi klip sepanjang 1 menit. Musisi pun perlu memastikan 1 menit tersebut adalah 1 menit yang menjual, memukau dan tergarap dengan baik. Sisa bagian lainnya bukanlah perhatian utama. Semua memastikan 1 menit itu luar biasa, dan menjadi prioritas.

Membuat video 1 menit untuk instagram adalah dunia yang sama sekali berbeda, menggunakan parameter estetika yang juga berbeda. Meski seringkali video 1 menit menjadi intipan akan performa seorang musisi, produk ini adalah produk yang sama sekali berbeda. Video 1 menit tidak dapat mewakili keseluruhan performa dan kualitas dari seorang musisi karena keduanya beroperasi dalam ranah yang sama sekali berbeda. Mereka yang baik secara pertunjukan, belum tentu menjadi artis instagram sedangkan artis instagram tidak tentu istimewa di atas panggung. Musik yang ditampilkan luar biasa di instagram, tidak tentu dapat dimainkan secara keseluruhan dengan menawan. Yang keseluruhan menawan bisa jadi terlihat membosankan dalam video 1 menit.

Demokratisasi merubah persepsi manusia. Instagram menjadikan media video merakyat namun juga mengikat dengan parameter yang berbeda pula. Pendekatan musik yang populis dengan visual yang menarik lebih memiliki peluang lebih baik. Kemahiran memanipulasi tata gambar, sudut pengambilan gambar, tata busana, koreografi, dan tata suara membuat apa yang ditampilkan terlihat berbeda. Instagram pun berperan bagai sebuah panggung di luar panggung yang lain, komplementer dari panggung pertunjukan, dunia rekaman dan ruang berbagi video yang berbeda dengan youtube ataupun vimeo.

Media ini adalah media yang perlu disikapi dan dimaksimalkan. Kecerdikan musisi, produser dan tentunya penikmat karenanya menjadi semakin diperlukan untuk memahami dan mengelola media ini untuk konsumsi, produksi, distribusi, seleksi maupun pemasaran.

Iklan
About mikebm (1302 Articles)
An arts journalist, a conductor, an educator, a young arts manager whose passion drove him to leave a multinational IT cooperation to study Arts Administration and Cultural Policy in London and went back to Indonesia to build the scene there.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: