Kabar Terkini

Pesona Steven Isserlis, Otoritas dalam Ekspresi


Setiap helaan nafas menjadi nada-nada yang penuh dengan maksud dan tujuan. Kesempurnaan musik bukanlah garis akhir melainkan sapaan nada dan ekspresi hati. Setiap nada teruntai dengan tenang dan matang, menghidupi setiap detiknya, mengisi relung-relung hati penikmat yang hadir di kehampaan ruang. Helaan nafas terhenti, mata terpatri pada sosok yang berada di ujung panggung. Dengan perangai yang santai dan rambut ikal keperakan yang berbilas cahaya, sajian pun menjadi sedemikian mempesona.

Memukau, demikianlah kata yang merangkum kehadiran cellis papan atas dunia Steven Isserlis di panggung Aula Simfonia Jakarta kemarin Sabtu. Kehadiran salah satu pemain cello terbaik saat ini dengan karir internasional di panggung utama dunia dan di tahun ini bermain bersama Berlin Philharmonic, Budapest Festival, Philharmonia, Cleveland, Minnesota, Zurich Tonhalle and NHK Symphony Orchestras. Didaulat sebagai cellis nomor wahid Inggris oleh harian the Telegraph dan disandangkan sebagai salah satu dari tiga cellis teratas dunia, kedatangannya adalah satu peristiwa yang tidak tentu datang dua kali di panggung Indonesia. Bermain di Aula Simfonia Jakarta, pertunjukan kemarin tidak tanggung-tanggung menunjukkan kalibernya sebagai seorang musisi papan atas yang telah berbagi panggung dengan Sir Simon Rattle, Andras Schiff, Joshua Bell, Stephen Hough, dan Ian Bostridge, nama-nama besar yang sering terpampang di bungkus CD.

Dengan rambut ikalnya yang mengembang dan kini mulai memutih dipadu T-shirt hitam dengan jas, Isserlis menguntai kalimat demi kalimat musik dengan otoritas penuh yang sungguh meyakinkan dengan cellonya yang bersejarah ‘Marquis de Corberon Stradivarius’ buatan tahun 1726. Karakternya sebagai seorang solois veteran yang dianugerahi bintang kehormatan Commander of British Empire hadir membius.¬†Memainkan salah satu karya concerto monumental untuk cello, Cello Concerto karya Edward Elgar, penampilan Isserlis bagai magnet yang mengundang seluruh sorot mata tertuju pada dirinya. Kualitas nada dan tone penuh bergaung dalam gedung pertunjukan namun tetap lincah dan fleksibel, memberikan ruang kolaborasi pada anggota-anggota orkestra — bukti perannya sebagai seorang pemain musik kamar unggulan.

Nafas kehidupan pun ia hembuskan untuk seluruh pemain orkestra malam kemarin. Lewat nada dan bunyi, Isserlis mampu menggerakkan seluruh orkestra untuk bermain dengan prima untuk mengimbangi permainannya yang dinamis. Arahan kalimat musiknya juga menjadi pijakan kokoh bagi seluruh pemain orkestra untuk merekatkan diri untuk berekspresi bersama dengan sang solois menjelajah ragam warna komponis Elgar yang dikenal sebagai komponis musik simfonik dengan warna suara yang hangat dan tebal. Warna orkestra pun terdengar matang dan berkarakter, seksi gesek tampil optimal dan berenergi didukung seksi tiup kayu yang lincah dan seksi tiup logam yang mantap. Kolaborasi yang mantap ini tidak terlepas dari peran Rebecca Tong yang hadir di atas podium sebagai konduktor.

Rebecca Tong pun tampil dengan meyakinkan. Kesiapannya yang paripurna memampukannya untuk merespon setiap kalimat musikal Steven Isserlis yang dinamis. Kabar bahwa orkestra dan Rebecca hanya memiliki satu hari untuk berlatih bersama Steven Isserlis semakin memperkuat perannya sebagai navigator ulung bagi Jakarta Simfonia Orchestra (JSO) yang kemarin turun dengan kekuatan penuh. Gerak tubuhnya yang mengalir mampu membangun simpati dari seluruh pemain orkestra yang tercermin lewat interpretasi yang fleksibel dan nyata. Penguasaannya pada pemetaan umum musik yang dimainkan memberikan ruang gerak yang cukup besar bagi anggota orkestra yang telah berhasil membangun permainan ansambel yang baik dengan arahan direktur musik JSO Stephen Tong.

Overture dari operetta Die Fledermaus karya Johann Strauss II, menjadi karya pembuka yang gegap dari keseluruhan orkestra. Dari karya ini terlihat jelas antusiasme seluruh pemain musik di barisan orkestra yang memainkan karya ini dengan tulus. Konser pun dilanjutkan dengan Simfoni no.88 Hob.I/88 karya Franz Joseph Haydn yang bergelar Bapak Simfoni. Hadir dengan format yang lebih kecil, Rebecca Tong mampu menghadirkan permainan orkestra yang lincah. Meski di beberapa pengawal kalimat terasa tidak ajeg di bagian dua dan bagian tiga, namun orkestra mampu mengatasi persoalan lewat permainan yang cantik.

Kehadiran Steven Isserlis menjadi obat bagi banyak penggemar musik klasik di Jakarta yang mengharapkan hadirnya solois kelas dunia di atas panggung ibukota. Kehadirannya pun juga menjadi api yang menyala bagi banyak pemain cello di Indonesia yang memadati konser kemarin, juga bagi para pemain yang duduk di barisan orkestra semalam. Sajian yang memukau dengan ekspresi yang otoritatif.

Iklan
About mikebm (1289 Articles)
An arts journalist, a conductor, an educator, a young arts manager whose passion drove him to leave a multinational IT cooperation to study Arts Administration and Cultural Policy in London and went back to Indonesia to build the scene there.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: