Kabar Terkini

‘Penyakit’ Seni di Balik Soal Matematika Ini


Baru-baru ini pertanyaan ini hadir di kalangan seniman Indonesia dan ditanggapi dengan cibiran dan humor di kalangan seniman karena terkesan konyol. Tetapi sesungguhnya inilah ‘penyakit’ seni yang harus kita hadapi sungguh-sungguh, dan bukan karena masalah ketidakpedulian sang penulis soal tapi memang ini adalah ‘penyakit’ yang inheren dalam seni.

Pertanyaan yang hadir di atas adalah bahwa ada 120 pemain untuk memainkan simfoni Beethoven selama 40 menit. Apabila pemain dikurangi menjadi 60 pemain, berapakah waktu yg diperlukan untuk memainkan simfoni itu?

Beberapa orang mencibir bahwa soal seperti ini adalah soal matematika yang menipu dan terkesan aneh. Ada pula yang mengatakan bahwa pertanyaan ini adalah pertanyaan yang konyol dan menunjukkan ketidakpedulian sang guru matematika. Pada hakikatnya, Simfoni Beethoven manapun membutuhkan waktu yang sama untuk dimainkan, tidak peduli berapa orang yang memainkannya. Perhitungan manajemen industri sederhana macam ini nyatanya sama sekali tidak berlaku untuk musik, terlebih musik klasik, opera dan teater.

Penyakit’ Biaya Boaumol

William Baumol, seorang ekonom, menulis suatu kasus dalam ekonomi kreatif bahwa perhitungan dan modernisasi yang berlaku untuk industri dan ekonomi tradisional tidak berlaku bagi seni dan budaya. Perhitungan jumlah pendukung acara, penggunaan teknologi menurutnya tidak berpengaruh pada biaya produksi musik klasik, opera dan teater.

Menurut Baumol, ketika banyak industri dimajukan oleh perkembangan teknologi dan efisiensi perusahaan lewat teknik industri, robot-robot dalam manufaktur, optimalitas tenaga kerja, seni umumnya malah tidak terpengaruh oleh kemajuan tersebut. Teknologi dan optimalisasi tenaga kerja telah mampu menurunkan ongkos produksi barang secara signifikan, namun tidak halnya dengan seni yang masih bercokol dengan ongkos produksi yang cenderung tidak turun, malahan naik.

Inilah yang didaulat Baumol sebagai Baumol’s Cost Disease yang menjangkit seni pertunjukan. Menurutnya dengan mengambil contoh simfoni orkestra, harga yang harus dibayar untuk mendukung berjalannya orkestra akan terus meningkat dan relatif semakin mahal. Untuk memainkan satu simfoni Beethoven tetap dibutuhkan 50 orang, dan tidak berubah dari 200 tahun yang lalu. Di sisi lain, pabrik-pabrik seperti pabrik tekstil kini membutuhkan sepersekian dari tenaga yang mereka butuhkan 150 tahun yang lalu, pun waktu membuat kainnya pun kini jauh lebih cepat. Kain-kain istimewa menjadi lebih murah, sedangkan  pergelaran musik Beethoven tetap dengan biaya yang sama, dibutuhkan jumlah orang yang sama untuk dimainkan dan jumlah waktu yang sama untuk dimainkan.

Inilah sebabnya musik klasik tidak serta-merta bertambah murah, biaya yang disebut ini sudah menjadi inheren di dalam pementasan karya ini. Itulah sebabnya sentilan dari pertanyaan yang muncul dalam soal matematika sebenarnya sangat relevan. Justru karena itulah perbedaan industri manufaktur kini dengan produksi karya seni pertunjukan.

Penyakit Baumol tidak menyeluruh

Memang penyakit Baumol tidak serta-merta dapat dihilangkan karena membekas dalam pos biaya terpenting dalam produksi seni pertunjukan yakni sumber daya manusia. Namun penggunaan teknologi sebenarnya telah berhasil memangkas persoalan Baumol ini. Dan penyakit Baumol bukanlah penyakit yang mewabah dan tidak dapat dicari penyembuhnya.

Musik terutama juga telah menerima manfaat dari teknologi. Dengan harga murah kini musik dapat dinikmati di mana pun lewat streaming maupun media massa. Adanya transportasi juga memudahkan perjalanan seniman dari satu tempat ke tempat lain, membuat seni pun lebih aksesibel di tempat-tempat yang lebih terpencil. Menerbangkan satu orkes dari Jakarta ke Medan lebih murah sekarang dibandingkan 70 tahun lalu, dan mendengarkan orkes Jakarta via streaming di internet membuktikan konsumsinya bisa lebih murah dan bahkan nyaris gratis. Teknologi pun mengubah cara kerja beberapa pihak dan efisiensi juga terjadi karena aspek teknologi tersebut, dahulu 15 orang dipekerjakan di belakang layar untuk mengatur keluar masuk latar dan properti, kini semuanya bisa dilakukan hanya dengan 3 orang karena sudah dibantu teknologi. Instagram pun memangkas biaya promosi album.

Namun dari sisi pertunjukan sebenarnya Baumol’s Cost Disease juga bisa dilawan, salah satunya adalah lewat kasus perubahan kriteria estetik dan perubahan praktik pertunjukan. Pada awal abad 20, musik orkestra dan paduan suara Bach banyak menggunakan orkestra dan paduan suara besar. Namun dengan semakin berkembangnya praktik historis yang mencari suara asli Bach di zamannya, ukuran orkestra pun semakin kecil, juga paduan suara semakin menciut karena mengejar idealisme otentisitas dengan orkestra dibawah 20 orang dan paduan suara juga dikisaran 20 orang. Yang menarik, idealisme otentisitas bukan serta-merta satu-satunya alasan berkembangnya praktik musik historis, namun juga didasari motif ekonomi yang mendorong beberapa orang membentuk ansambel baru yang mampu memikat ceruk publik sekaligus juga tidak berbiaya mahal.

Pertimbangan estetika pun secara langsung maupun tak langsung berpengaruh terhadap pergerakan biaya dari berkesenian. Beberapa arranger di Jakarta contohnya memilih untuk menggunakan sequencer untuk mengurangi biaya pemain namun tetap menghasilkan suara yang cukup baik dan dapat dinikmati. Selama arranger atau penampil tersebut tidak keberatan dengan pertimbangan estetik, praktek ini dapat dilakukan. Pun tidak jarang kita temukan artis ibukota pun memilih untuk bernyanyi diiringi minus-one bak berkaraoke dibandingkan diiringi oleh band lengkap yang tentunya lebih mahal.

Persoalan matematika ini bukanlah persoalan soal buta musik, tapi juga melihat bagaimana perekonomian dunia menggenjot tren musik yang ada. Ini bukan soal matematika saja, namun melihat bagaimana nilai seni itu tidak hanya mengikat dari sisi hitungan jam dan alokasi sumberdaya manusia, melainkan juga nilai dari kreativitas dan kualitas produk seni itu sendiri. Baumol membuka mata namun juga mengajak kita melihat sisi lain dari seni dan mencari solusi. Semoga.

Iklan
About mikebm (1289 Articles)
An arts journalist, a conductor, an educator, a young arts manager whose passion drove him to leave a multinational IT cooperation to study Arts Administration and Cultural Policy in London and went back to Indonesia to build the scene there.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: